Fenomena Perkembangan Dakwah

Melihat perkembangan dakwah pada saat sekarang ini luar biasa rasanya, para angkatan baru yang katakanlah baru mendapat “hidayah” pada 2010 ke atas punya kualitas yang sangat mumpuni, jauh dibanding yang hadir di 2010 ke bawah. Tentu tak semua angkatan 2010 ke bawah yang kalah oleh angkatan baru, mereka yang mampu terus mengupgrade kapasitas diri dan kapasitas ilmu tentunya masih tetap mampu “bersaing”. Kalau dulu Alqur’an ukuran 10cm x 15cm dengan sampul kulit berwarna hitam begitu lekat sebagai ciri khas aktifis dakwah maka kini malu rasanya hadir di majelis kajian tanpa membawa mushaf utsmani, sementara untuk membaca mushaf ini tidak sembarangan, harus ada bekal khusus dari pelajaran tahsin qur’an. Kalau dulu jilbab lebar identik dengan aktifis dakwah saja maka kini alhamdulillah jilbab lebar sudah sangat populer dikenakan muslimah baik ibu-ibu maupun anak-anak. Bahkan wanita yang mengenakan cadar sudah sangat mudah ditemui, terlepas dari pro kontranya, bukankah lebih baik mereka bercadar daripada berpakaian terbuka? Se-kontra apapun dengan cadar, bukankah wanita pengguna cadar sudah pasti menggunakan jilbab? Setiap orang yang mampu bernalar dalam beragama tentu akan memahami prioritas seperti ini. Cadar sudah semakin menjadi pemakluman meski memang banyak warga masih agak terkejut. Ya, jangan buru-buru dulu menyalahartikan ekspresi sinis warga ketika melihat wanita bercadar, itu hanya ekspresi keterkejutan pada sebuah pergeseran nilai (dalam artian positif) bukankah warga juga sinis melihat pergeseran nilai dalam artian negatif? Pakaian wanita yang terlalu terbuka misalnya. Peningkatan percepatan dalam berhijrah juga luar biasa pada generasi baru, jika pada generasi sebelumnya bahkan ada yang saat ini masih dalam proses berhijrah, mereka sudah mampu melampaui seperti misalnya sudah lebih dahulu bercadar (kita asumsikan di sini bercadar sebagai hijrah tingkat lanjut terlepas dari pro kontranya). Kelebihan lainnya dari generasi baru adalah kemampuan melebur yang lebih baik (meskipun masih belum terlalu baik di level dakwah kampus) jika dahulu masih ada gontok-gontokan hanya karena beda kelompok, sekarang telah tersingkap sekat-sekat itu sedikit demi sedikit.

Semua peningkatan kualitas yang terjadi (setidaknya di tempat saya) tak lain karena semangat mengaji warga yang sedang tinggi, ditunjang sarana dan pra sarana dakwah yang kian menjamur. Kalau dulu kajian paling sering sekali seminggu, sekarang bahkan hampir setiap waktu shalat ada kajian. Kalau dulu yang banyak menggelar kajian hanya satu-dua mesjid, sekarang sudah muncul mesjid-mesjid besar yang dipenuhi oleh kajian. Kalau dulu orang sudah sangat terkesan jika penceramahnya lulusan pesantren, kini penceramah alumni timur tengah telah ada dimana-mana. Penghafal alqur’an pun sudah sangat banyak jumlahnya, dan luar biasanya, usia mereka masih sangat-sangat muda. Generasi alqur’an ini kian tak terbendung namun juga harus tetap dijaga, sebab kejadian di timur tengah anak-anak penghafal alqur’an kerap menjadi target serangan, dan bukan tidak mungkin anak-anak penghafal alqur’an di sini juga menjadi target serangan meskipun dalam bentuk lain.

Generasi baru penuntut ilmu, mereka melesat begitu kencang, generasi pendahulu (meskipun hanya terpaut lima-enam tahun) yang tak mampu mengejar laju mereka, wajib menjadi pelindung. Jauhkan mereka dari perpecahan ummat, jauhkan dari faham takfiri yang akan merusak dakwah mereka. Gunakan pengalaman untuk memberi masukan kepada generasi baru, dan jika tak mampu bersaing dalam amalan shaleh orang-orang ta’at maka bersainglah dalam istighfarnya orang-orang yang menyesali dosa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s