Filosofi Roda

Banyak yang mengatakan hidup itu bak sebuah roda, kadang di atas, kadang di bawah. Jika ditilik secara harfiah roda tidaklah seperti itu, roda selalu bertempat di bawah, untuk menjalankan kendaraan seperti mobil dan sepeda motor, jikapun ada yang diletakkan di atas, maka ia hanyalah sebuah ban serep alias cadangan. Namun jika dilihat dalam sub sistem roda, maka didapatkan dalam sebuah roda adalah jari-jarinyalah yang berada kadang di atas kadang di bawah. Lalu, jika disambungkan kembali kepada pepatah tadi maka jari-jari roda ini adalah nasib manusia yang senantiasa berputar, lalu porosnya adalah usaha dan sisi luarnya adalah tawakkal. Roda takkan berputar jika tak ada yang menggerakkan porosnya, begitu pula nasib, ia takkan berubah jika tak ada usaha. Roda naik membutuhkan usaha. Begitupun roda turun, ia juga karena usaha selalu melahirkan resiko gagal untuk pembelajaran agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Lalu sisi luar sebagai ketawakkalan, ia yang membingkai usaha dan nasib dan akhirnya dapat menjalankan roda kehidupan. Ingat! Semakin cepat roda berputar maka akan cepat berjalannya, maka ketika ada di bawah cepatlah bangkit, ketika di atas ambillah resiko gagal agar dapat terus berkembang dan menghindari stagnasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s