Meskipun Ketinggalan Dalam Melewati Fase Kehidupan

Saat kecil fase-fase kehidupan yang dilalui sangat lancar. Hanya urusan waktu saja bahwa setelah balita kita akan jadi anak-anak, setelah itu masuk sekolah, naik kelas, lulus, lanjutin sekolah, lulus, sampai masuk kuliah. Semuanya hampir tidak ada hambatan berarti dalam melalui satu fase ke fase berikutnya. Akan tetapi semuanya menjadi berbeda setelah kita menjalani fase kuliah dan fase setelahnya, atau bagi yang tidak kuliah akan menjalani perpindahan fase yang lebih sulit. Pada fase kuliah terasa perpindahan diri dari satu fase ke fase berikutnya benar-benar menuntut perjuangan, tidak ada tempat untuk pemalas, tak berjuang maka tak beranjak dari satu fase. untuk mencapai fase skripsi saja sudah sangat sulit, belum lagi menjalani fase skripsi, kalau tidak kuat-kuat iman bisa berhenti atau bahkan bunuh diri. Kita jadi tidak lagi antusias atau tidak sabar untuk masuk ke fase berikutnya, bahkan kadang-kadang kita akan merasa takut karena kita tahu fase berikutnya akan jauh lebih sulit.

Saat kecil kita selalu ingin cepat besar (ke fase berikutnya dalam hidup) karena sejak kecil memang terbiasa silau melihat orang yang berada di fase yang lebih tinggi dari kita. Kita akan melihat abang, paman atau orang dewasa lainnya sangat keren sehingga sangat ingin menirunya. Hal ini terus terjadi hingga akhirnya kita tumbuh dewasa. Saat dewasa, terutama setelah kuliah, kita masih silau dengan mereka yang telah lulus, mencari kerja dan menikah. Namun pada kenyataannya, dunia setelah lulus adalah dunia yang jauh lebih keras dari sekedar membuat tugas dan mengejar nilai. Mencari kerja yang layak tidaklah mudah, begitu pula mencari jodoh dan membangun rumah tangga.

Melewati fase-fase kehidupan saat dewasa tidak lagi masalah waktu dan perjuangan, tetapi juga soal kesiapan. Setelah kita sarjana apakah kita sudah siap memasuki dunia kerja? Sudah cukupkah bekal yang kita kumpulkan di kampus? Atau, setelah bekerja apakah kita sudah siap dalam membina rumah tangga? Sudah cukupkah modal yang kita kumpulkan? Berbicara soal kesiapan berarti juga harus berbicara soal persiapan. Disinilah kita yang berada di belakang saat orang-orang seangkatan sudah melewati fase dimana kita berada mendapat keuntungan dari segi waktu persiapan. Jika kita mampu memperhatikan, kita jadi punya waktu lebih untuk mengumpulkan bekal lebih banyak baik soal ilmu maupun materi sebelum kita masuk ke fase yang berikutnya. Kita bisa memperhatikan teman-teman kita yang telah maju lebih dulu, memperhatikan apa yang terjadi dan kemudian belajar dari pengalamannya. Banyak yang lulus hanya sekedar lulus tetapi belum siap dari segi keilmuan dan mental. Banyak yang menikah tetapi tidak siap dari sisi mental dan lupa tujuan awal sebelum menikah.

Sebuah catatan menarik saya petik dari pengalaman teman-teman saya yang bisa saya katakan sudah melewati tiga fase di atas saya, mereka sudah lulus, bekerja dan menikah. Sekilas tampak cepatnya mereka melewati fase demi fase hidup menuai banyak pujian, tetapi tetap tak dapat dipungkiri cepatnya mereka melewati satu fase membuat kesiapannya menjadi kurang. Ada yang lulus tapi akhirnya bekerja tidak sesuai bidang, ini memang bukan sesuatu yang buruk, tetapi jika mampu bekerja sesuai bidangnya tentu kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan dengan taraf (jabatan) yang lebih tinggi akan lebih terbuka. Ini memang tak lepas dari sulitnya mendapatkan pekerjaan. Jadi kita yang di belakang ini bisa lebih belajar bagaimana untuk siap, bekerja sesuai bidang dan mampu menakhlukkan sulitnya persaingan mendapatkan pekerjaan.

Lalu saya lihat dari pernikahan teman-teman saya terutama yang suaminya masih sangat muda. Tampak sekali keterkejutan, sehingga banyak yang melenceng dari tujuan awal. Padahal, terlebih dalam dunia aktivis dakwah, tujuan menikah tidak hanya sekedar mendapatkan cinta yang halal tetapi juga sebagai penguat langkah dalam mengarungi kehidupan khususnya dalam berdakwah. Maka seharusnya pernikahan menjadi penguat langkah dalam berdakwah, bukan mengurangi waktu dan kinerja dalam berdakwah.
Maka penting bagi kita yang belum ini untuk dari sekarang menetapkan visi dan misi berkeluarga yang jelas. Agar tak takhluk oleh materi, tak kalah oleh dunia.

Di sinilah slogan “lebih baik lulus pada waktunya dari pada lulus tepat waktu” menjadi sesuatu yang lebih berarti ketimbang hanya menjadi pembenaran bagi mahasiswa semester tua. Atau bisa kita gunakan juga pada “lebih baik menikah pada waktunya”

Lebih penting lagi, ini bukan pembenaran atas sebuah keterlambatan tetapi lebih kepada bagaimana memanfaatkan sebuah keterlambatan. Mari terus berjuang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s