Menarik akar kisruh sepakbola nasional

“Hah! Bermasalah terus sepakbola kita” kalimat itu mungkin ada di benak hampir seluruh pecinta sepakbola tanah air. Rasa jengah akan kisruh yang tak pernah usai dan prestasi yang tak kunjung datang tak ayal mulai menimbulkan rasa muak. Ya, saya sendiri merasa muak untuk menulis artikel opini tentang sepakbola ini. Tetapi, rasa gelisah akibat unek-unek di kepala yang tidak dicurahkan membuat saya merasa “terpaksa” untuk menuliskan tema ini. Pasca “rujuknya” klub IPL dan ISL lebih setahun yang lalu sempat membuat para pecinta sepakbola sedikit menghembuskan nafas lega.

Pada saat itu semua berharap agar para pengurus sepakbola dapat belajar dari segala keruwetan saat itu yang berakibat kekalahan 10-0 dari Bahrain, peringkat FIFA terjun bebas dan berbagai masalah memalukan lainnya. Semua juga merasa salut dengan kelegowoan kubu IPL yang mau mengalah saat kalah konsep penyatuan kembali liga. Tetapi semua itu pupus akibat keputusan ekstrim yang diambil oleh Menpora saat musim kompetisi ISL 2015 baru berjalan 1-2 pertandingan.

Keputusan ini dirasa terlalu ekstrim karena penyebab awalnya sebenarnya hanyalah sisa-sisa kecil dari kisruh IPL-ISL setahun yang lalu. Setelah rujuknya ISL-IPL yang disimbolkan dengan naiknya LNM sebagai Waketum PSSI dan digantinya hampir seluruh anggota Exco, setidaknya hampir seluruh masalah dualisme berhasil diselesaikan, mulai dari dualisme timnas, dualisme kompetisi dan dualisme klub. Namun untuk masalah dualisme klub penyelesaiannya lebih rumit, karena penyebab dualisme klub yang berbeda-beda. Sehingga menjadi sisa konflik yang tak sepenuhnya terselesaikan.

Meskipun berjudul “sisa”, penyelesaian yang belum tuntas ternyata membuat masalah ini menggurita sedikit demi sedikit. Apalagi ditambah dengan masalah gaji pemain tak tuntas yang masih belum bisa ditanggulangi PSSI sehingga menghasilkan cap tidak becus kepada pengurus-pengurusnya. Gurita masalah ini menemukan momentumnya kala Menpora diboncengi BOPI (yang disinyalir bermuatan eks pengurus IPL yang belum legowo) turut serta memverifikasi klub-blub peserta Liga dan secara mengejutkan tidak meloloskan dua klub besar Persebaya dan Arema dalam verifikasinya. Tidak lolos verifikasi berarti tidak berhak ikut kompetisi, akan tetapi mengabaikan klub sebesar Arema dan Persebaya yang punya basis masa besar bukanlah permasalahan sederhana. Saya justru mendukung keputusan PSSI yang tetap mengikutsertakan Arema-Persebaya dalam kompetisi ISL, masalah kekurangan dalam verifikasi bisa sambil jalan, toh kedua klub ini adalah klub besar dan mereka sudah punya manajemen bisnis yang baik.

Pertanyaan mulai muncul dari apa sebenarnya penyebab BOPI tidak meloloskan Arema dan Persebaya, dan kenapa BOPI tiba-tiba “ikut-ikutan” memverifikasi klub, lalu kenapa permasalahan yang disebabkan hanya oleh 2 klub saja bisa melahirkan keputusan ekstrim berupa pembekuan PSSI? adakah motivasi lain yang sesungguhnya berada dibalik semua ini? Apakah upaya verifikasi dan mentidakloloskan 2 klub besar hanyalah pencarian alasan untuk melakukan tindakan pembekuan? Saya mengajukan beberapa hipotesis untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Pertama, balas dendam eks kubu pengurus IPL yang disinyalir ada dalam BOPI. Sisa borok kisruh IPL-ISL memang tidak seluruhnya terselesaikan, kekalahan kubu IPL juga terjadi sangat dramatis sebab konsep penyatuan liga yang mereka ajukan kalah dari konsep yang diajukan kubu ISL. Ada baiknya saat itu orang-orang eks IPL tidak dibuang begitu saja, melainkan dilibatkan di salah satu urusan, mengingat judulnya saat itu adalah rekonsiliasi, yang menang bukanlah salah satu kubu melainkan seluruh insan sepakbola Indonesia. Memang sulit untuk legowo saat keadaan yang disebut rekonsiliasi namun masih ada kubu yang terlihat menang dan kalah, praktis hanya Ketum Djohar Arifin Husin yang tersisa dari kubu IPL saat itu.

Kedua, kepentingan Arema IPL dan Persebaya 1927. Penyelesaian dualisme klub jauh lebih rumit dibanding dualisme kompetisi, hal ini disebabkan penyebab dualisme yang berbeda-beda, ada klub yang membelah diri, ada klub siluman yang tiba-tiba mengambil nama klub lain dan ada juga klub “mati” yang digantikan oleh klub baru. Contoh penyelesaian yang mudah yaitu kasus dualisme Persija, yang mana Persija IPL sangat jelas terlihat merupakan jelmaan dari klub IPL Jakarta FC 1928, pendukungpun juga sejak semula tidak bingung, sebab mereka tahu bahwa Persija yang asli adalah Persija yang ada Bambang Pamungkasnya.

Permasalahan jadi rumit pada kasus Arema dan Persebaya. Pada kasus Arema, yang terjadi adalah pembelahan diri. Saat terjadi dualisme kompetisi, para pengurus sah Arema masing-masing membuat tim yang berlaga di kedua kompetisi yang berseberangan itu. Namun pada kelanjutannya Arema yang ada di ISL diakuisisi oleh Bakrie Grup menjadi Arema Cronus, sehingga dari nama klub saja Arema sudah menjadi 2 klub yang berbeda, pengurus Arema IPL diuntungkan sebab mereka masih menggunakan nama yang lama. Pada kasus Persebaya, yang terjadi adalah “bunuh diri” oleh pengurus Persebaya saat terjadi dualisme. Pengurus saat itu mengambil resiko besar dengan keluar dari kompetisi dan lalu ikut kompetisi baru. Resiko keluar dari kompetisi adalah terlempar dari sistem dan jika ingin berpartisipasi kembali harus memulai kembali dari kompetisi paling bawah. Klub-klub yang bunuh diri saat itu yaitu Persebaya, Persema dan Persibo. Sebenarnya ada banyak klub lainnya yang keluar pada saat itu, namun sebagian terselamatkan karena momentum pada saat mereka keluar dari kompetisi. Semen Padang misalnya, keluar dari tatanan ISL pada saat IPL sudah menjadi kompetisi resmi, maka pada kasus ini Semen Padang tidak bisa disalahkan dan masih diberi kelonggaran untuk kembali ke ISL.

Saat terjadi rekonsiliasi yang sepenuhnya dipegang oleh kubu ISL maka klub-klub yang telah keluar ini harus mengikuti sistem yang ada di ISL. Persema dan Persibo harus terlempar jauh dan kini mengikuti kompetisi kasta terendah, sementara Persebaya sebenarnya diuntungkan oleh dualisme, di saat Persebaya 1927 harus mengikuti jejak Persema dan Persibo, di kompetisi kubu ISL justru telah lahir Persebaya baru yang menjuarai divisi utama dan berhak naik ke ISL. Persebaya yang baru adalah klub kalimantan yang diakuisisi oleh pecinta Persebaya yang “berhaluan” ISL. Secara sistem kompetisi hal ini sah sebab Persebaya yang lama telah keluar dari kompetisi, secara hak menggunakan nama/brand pun menjadi tidak masalah sebab Persebaya yang lama memilih menggunakan nama baru dengan tambahan 1927 dibelakang nama Persebaya.

Ada satu lagi kasus klub yang keluar dari ISL namun tetap melanggang mulus saat rekonsiliasi, yaitu PSM Makassar, hal ini masih menjadi tandatanya, apakah ini karena faktor pilih kasih PSSI ataukah karena faktor legal lainnya.

Di luar kompetisi yang telah berjalan, Arema IPL dan Persebaya 1927 masih eksis dan terus memperjuangkan apa yang mereka klaim sebagai haknya. Segala cara ditempuh termasuk dengan menjatuhkan klub “saudara kembar” mereka yang sedang berkompetisi, maka dari hipotesis ini disinyalir adanya pentidaklolosan Arema dan Persebaya yang ada di ISL adalah berkat campur tangan mereka, lalu kemudian membongkar kembali kompetisi sehingga membuka kans untuk mereka berlaga kembali di kasta teratas.

Ketiga, upaya serampangan dalam memberantas “mafia sepakbola” dan penghukuman kepada klub yang tak tuntas menggaji pemain. Masalah mafia sepakbola sebenarnya adalah isu global dunia sepakbola yang selalu dihembuskan oleh klub yang tidak puas dengan hasil yang ada, bahkan di kompetisi sekelas Liga Inggris isu ini masih santer terdengar. Lalu apakah isu ini perlu ditanggapi dengan serius? Tentu perlu jika ada indikasi yang disertai dengan bukti yang kuat, di Indonesia pernah terjadi Indikasi kuat mafia sepakbola pada medio 2000 sampai 2005-an, namun masalah ini sudah terselesaikan terlihat dari adanya keterbukaan dan tidak adanya skor ganjil dalam dunia sepakbola. Memang indikasi kuat mafia muncul kembali akibat kasus sepakbola gajah PSIS vs PSS Sleman di divisi utama, akan tetapi ini bukan kasus yang perlu digeneralisir sebab tidak terbukti menyentuh pertandingan-pertandingan lainnya. Pelakunya yang berinisial JI pun telah ditangkap.

Penghukuman terhadap klub yang tak tuntas menggaji pemain sangat terlihat serampangannya, satu-satunya cara untuk klub dapat membayar gaji pemain tentu dengan tetap membiarkan mereka berkompetisi sehingga mereka dapat menghasilkan uang untuk membayar gaji pemain, tentu dengan disertai sanksi seperti pengurangan poin atau hal lainnya agar klub tidak lari dari tanggung jawab. Pendiskualifikasian klub bukanlah hal yang bijak, karena jika klub berhenti berkompetisi otomatis mereka jadi kehilangan sumber penghasilan untuk menggaji pemain. Upaya tegas menjadi terlihat serampangan karena tidak jeli mengukur besar manfaat dan mudharat. Menpora pun jadi terlihat tidak kompeten dan arogan disebabkan keputusan yang diambil. Tidak kompeten disebabkan keputusan yang serampangan (ditambah lagi dengan penunjukan tim transisi yang sangat sedikit melibatkan insan sepakbola, dari 17 orang dikhawatirkan sebagian besar tidak kompeten) dan arogan disebabkan pembekuan PSSI dan pelarangan pertandingan ISL yang lebih menunjukkan bahwa Menpora sedang memperlihatkan siapa yang berkuasa, siapa yang lebih hebat ketimbang memberi sanksi dan memberi efek jera kepada kubu yang dianggap melanggar.

Dari semua hipotesis ini tidak satupun ada niat untuk menjatuhkan siapapun, ini murni opini berdasarkan pengamatan dan pemikiran. Adapun supporter yang terbawa arus kisruh ada baiknya untuk menjaga sikap netral, jangan terbawa arus sinisme terhadap keluarga Bakrie yang sesungguhnya menjadi salah satu benang merah kisruh sepakbola nasional. Jangan menjustifikasi suatu hal dengan menggunakan kesalahan mereka pada hal yang lainnya. Mungkin benar keluarga Bakrie bertanggung jawab atas tragedi lumpur Lapindo dan mereka belum bertanggungjawab dengan selayaknya, mungkin benar mereka terlihat rakus dalam beberapa jabatan, namun itu semua tidak ada hubungannya dengan sepkbola. Jika kita berfikiran jernih, keluarga Bakrie lewat NB justru banyak memberikan kontribusi dalam dunia sepakbola dengan membawa pemain ke Uruguay dan Belgia, juga dengan pembiayaan di beberapa sektor sepakbola lainnya. Biarlah kebencian kepada mereka pada hal lain tetap pada hal lain, jangan dicampur adukkan dengan dunia sepakbola seakan-akan apapun yang mereka lakukan adalah salah. Saya tidak sedang membela keluarga Bakrie, tetapi saya melihat inilah salah satu akar kisruh sepkbola yang salah satu cara penyelesaiannya menurut saya adalah seperti yang saya katakan tadi agar kita tidak menjustifikasi suatu hal dengan menggunakan kesalahan orang pada hal yang lainnya.

Saya menghargai setiap opini yang ada seperti halnya saya berharap opini saya dalam tulisan ini dihargai. Saya mendorong adanya artikel lain meski dengan opini yang berseberangan, yang penting tulisannya logis dan bertujuan baik demi sepkola nasional. Mari kita bersama-sama terus menyumbangkan akal fikiran kita agar tontonan favorite kita tiap sore dapat kembali dengan kualitas yang baik. meskipun sepakbola nasional ketinggalan jauh, meskipun timnas selalu gagal dalam kompetisi, akan tetapi ini negara kita yang harus selalu kita dukung, bagaimanapun jika mereka kalah kita juga yang malu dan jika mereka menang kita juga yang bangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s