Mengejar Wisuda

Hari ini akhirnya dapat kesempatan berharga yang telah lama dinantikan, bisa duduk santai bersama laptop di rumah ditemani segelas teh manis. sederhana namun memberikan kenikmatan yang luar biasa yaitu nikmat ketenangan. Walaupun skripsi masih membayangi, tetapi setidaknya hari ini bisa rileks dulu untuk sesaat.

kali ini saya ingin menuliskan tentang Si Skripsi, dia abangnya Si Kape. Iya, Kape yang sudah lama saya bicarakan di blog ini, sekarang saya berhadapan dengan abangnya. masih terbayang dulu ketika masih menghadapi Si Kape, betapa rasanya dulu itu seperti menjalani mission imposible dan secara ajaib saya berhasil menyelesaikannya bersama partner saya di satu bulan deadline penyelesaian. belajar dari pengalaman Kape, akhirnya saya bisa lebih sigap dalam membuat proposal skripsi. selangkah demi selangkah dalam mengejar wisuda tak terasa akhirnya saya tapaki. jujur rasanya masih agak kaget ternyata sudah skripsi aja padahal udah lima tahun kuliah, enak banget ngomong kayak gini padahal ortu yang biayain kuliah pasti kerasa banget lamanya, ehehe I’m sorry father and mother.

seperti mengulang kisah saat Kape, saat skripsi masih ada aja hal non-teknis yang membuat pengerjaan yang sudah sulit menjadi semakin sulit. Padahal sekarang udah gak perlu mikirin soal gak ada laptop atau gak ada pengalaman penelitian lagi.  dan sebenarnya jalan skripsi saya terang benderang, udah jelas apa yang mau dibuat dan dijalanin, tapi memang ngerjainnya gak semudah ngomongin proses kerjanya di seminar proposal. Yah, inilah yang jadi tantangan tersendiri agar sarjana nanti gak hanya sekedar gelar, tetapi murni prestasi akademis yang didapatkan melalui penggemblengan mental luar biasa baik dari segi akademis maupun non akademis.

Ada satu hal lagi yang bikin saya gak bisa dalam-dalam nginjak gas buat ngebut ngejar wisuda, teman-teman seperjuangan. mereka skripsinya pada gak jelas, judul digantung semua. Padahal secara gak langsung, merekalah penyemangat saya waktu mati-matian nyelesaikan skripsi dan sekarang gak bisa bareng-bareng mereka rasanya motivasi sangat menurun. motivasi dari teman seperjuangan itu bukan dari quote-quote bijaknya atau pamer-pamer kesuksesan seperti yang banyak motivator profesional lakukan, tapi dengan kebersamaan mereka kami bisa saling berbagi beban, saling mendengar keluh kesah, mereka juga yang paling mengerti beban kita karena mereka juga sedang mengalami hal yang sama, kita jadi kayak robot-robot hewan power ranger yang bersatu kemudian berubah jadi robot yang lebih besar dan lebih kuat, ehehe analoginya agak gimana gitu ya, agak kurang sesuai dengan tulisan ini yang cenderung serius, tapi memang seperti itulah yang terasa, dengan kekuatan yang bersatu kami bisa lebih kuat dalam menghadapai semua “musuh” yang ada.

terakhir saya hanya bisa mendoakan agar teman-teman seperjuangan cepat clear judul skripsinya dan kita bisa bareng-bareng ngerjain dan saling menyemangati lagi. bakalan sedih banget kalau nanti wisuda sendiri-sendiri, kami harus bisa wisuda bareng-bareng karena cuma kami yang tersisa dari angkatan kami. semoga Allah mempermudah, Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s