Apa Artinya Pembangunan Ini?

Sebagai sebuah kota yang berkembang, pembangunan yang gencar tentu menjadi hal yang menggembirakan. Namun perlu diperhatikan pembangunan apa dan mafaatnya apa. Jangan sampai pembangunan yang dilakukan bukan memberikan manfaat namun justru mudharat bahkan menimbulkan maksiat. Fenomena ini yang terlihat dalam pembangunan-pembangunan di Riau setiap akan digelar event nasional.

    Yang pertama adalah pembangunan kompleks bandar serai yang ditujukan sebagai venue penyelenggaraan MTQ tingkat nasional di Riau. Tujuan awal pembangunan bandar serai ini sangat mulia, akan tetapi ternyata tidak direncanakan dengan baik untuk apa kompleks ini selanjutnya akan digunakan. Celakanya “ketidakbergunaan” gedung ini sekian lama justru menjadikan lokasi ini sebagai lahan maksiat yang subur. Kaum muda-mudi yang terlibat pergaulan bebas biasa melakukan aksi tidak bermoralnya di sini. Keadaan menjadi lebih baik setelah pemerintah kota Pekanbaru membuat kebijakan memindahkan para pedagang jagung bakar ke pujasera di jalan arifin ahmad, meski akhirnya kebiijakan ini hanyalah memindahkan lokasi maksiat saja dan bukan menghentikannya. Bahkan, setelah itu para pedagang jagung kembali lagi ke kompleks MTQ yang seharusnya menjadi lokasi religius itu. Upaya lainnya sebenarnya telah ditempuh pemerintah lewat pembangunan gedung Idrus tintin dalam rangka penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) di Riau. Seperti belajar dari masa lalu, pemerintah akhirnya membuat perencanaan jangka panjang terhadap gedung ini. Berbagai pertunjukkan teater dan kegiatan seni kerap dilkukan di gedung yang didirikan di tengah-tengah kompleks bandar serai ini, pembangunan akademi kesenian kian menambah nilai dari kompleks ini menjadi kompleks kesenian Riau yang sangat baik. Bandar serai akhirnya kembali mendapatkan nama baik sejak terakhir digelarnya MTQ tingkat nasional tersebut, meski trotoarnya masih disesaki pedagang yang menjadikan keremangan sebagai penarik “rezeki” mereka.

Berselang beberapa waktu, pemerintah Riau kembali menganggarkan pembangunan luar biasa untuk pembangunan venus olahraga yang akan digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Hampir bersamaan dengan itu dibagun pula tower di Gubernuran dan tower bank Riau-Kepri. Melihat perbaikan visi pembangunan yang dilakukan pemerintah provinsi Riau setelah pembangunan anjungan seni Indrus Tintin, tentu kita dapat alasan untuk lebih berhusnudzan kepada pembangunan yang baru ini. Namun ternyata kenyataannya berbeda sangat jauh. Penyelenggaraan PON amburadul, korupsi di mana-mana hingga menjebloskan Gubernur Riau saat itu RZ ke penjara. Tidak hanya itu, Stadion Utama Riau nan megah hingga saat ini belum dilunasi biaya pembangunannya, sehingga untuk penggunaannya saja harus dengan memohon-mohon, bahkan tim kebanggaan masyarakat Riau PSPS Pekanbaru hingga saat ini belum dapat mencicipi dahsyatnya bertanding di dalam stadion nan megah itu. Hingga akhirnya stadion ini bernasib tak berbeda dengan bandar serai, yaitu sebagai lokasi maksiat “favorit”. Ini belum termasuk dengan stadion-stadion lainnya yang juga dibangun dalam rangka PON Riau. Tower bank Riau juga akhirnya bermasalah. Hingga kini gedung tinggi itu belum juga dapat digunankan. Diberitakan banyak material bangunan yang tidak sesuai standard.

Dalam berita terbaru disebutkan kompleks Stadion Utama Riau akan segera serah terima dari kontraktor ke Pemprov Riau dan dan tower Bank Riau-Kepri yang ditargetkan akan digunakan akhir Maret mungkin akan mundur beberapa bulan. Sedikit menjadi kabar gembira, namun tetap harus diawasi untuk apa bangunan-bangunan ini akan difungsikan kedepan. Semoga akan dipadatkan aktifitas nan produktif sehingga gedung terutama stadion utama riau dapat lebih berguna ketimbang jadi lahan maksiat.

sur maretsur maksiat

sur adi karya dtgbank riau
Banyaknya kegagalan fungsi dari pembangunan-pembangun megah di Riau sudah selayaknya membuat pemerintah dan DPRD diberikan peringatan keras agar tidak lagi menghambur-hamburkan uang rakyat untuk hal yang tidak jelas menfaatnya, sementara jalan-jalan di daerah masih banyak yang jelek kemiskinan masih sangat banyak. Tidak sulit menemukan kaum miskin di Riau diluar para pengemis yang disinyalir merupakan “ekspor” dari luar.

Pada akhirnya dikembalikan lagi hakikat pemerintah dan DPRD sebagai pemegang amanah dari rakyat bahwa penggunaan anggaran pembangunan adalah salah satu amanah dari rakyat yang wajib digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan bukan untuk kesejahteraan pribadi lewat proyek-proyek tidak jelas yang memberikan celah untuk korupsi. Pemegang amanah haruslah mampu menjalankan amanah dengan baik jika tidak ingin diadili, jika lolos di dunia akan ada pengadilan di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s