Selamat Jalan Prof!

Pagi tadi, ketika sedang bersantai sambil membuka sosial media, saya dikejutkan oleh berita duka yang datang dari Mantan Rektor kami Pak Prof. HM.Diah, M.Ed yang telah berpulang ke rahmatullah malam sebelumnya. Dalam keterkejutan itu saya sigap langsung mencari informasi alamat rumah duka, saya tak mau melewatkan saat-saat terakhir bertemu beliau. Setibanya di rumah duka, ada waktu yang cukup panjang untuk menunggu dimulainya prosesi pemakaman, dan dalam rentang waktu itu sontak ingatan-ingatan saya tentang beliau hadir dalam fikiran.

Beliau adalah alasan mengapa saya kuliah di kampus saya sekarang.

Ketika baru lulus SMK, saya tidak mendapat banyak pilihan sebab kampus pilihan saya ditolak orang tua meskipun saya sudah lulus di sana. Kemudian orang tua sayalah yang akhirnya memilihkan kampus untuk saya, kemudian saya bawakan semua brosur penerimaan mahasiswa yang saya dapat, satu per satu diteliti oleh orang tua saya, saya sudah pasrah karena mau tidak mau harus mengikuti apapun kata mereka.

Dari sekian banyak lembar yang diteliti, terseliplah satu lembar yang menarik perhatian orang tua saya. “Wah ini rektor mamak waktu kuliah nih”

“Siapa?” Tanya bapak saya.

“Pak M.Diah. Wah beliau ini bagus nih” Lanjut Ibu saya.

“Oh, Pak M.Diah. Orang kampung bapak tuh. Profesor pertama dari Pangean. Sudah, kamu kuliah di sini saja.”

Dengan ekspresi dingin karena pasrah sayapun mengiyakan perkata’an kedua orang tua saya. Jadilah saat itu sebagai awal mula saya kuliah di kampus saya sekarang.

Pengawal reformasi di kampus-kampus Riau

Kurang lebih sudah dua dekade Prof Diah habiskan untuk mengabdi di Universitas Riau, dan salah satu periode paling menarik untuk di ceritakan adalah posisi beliau sebagai Rektor Unri (sekarang disebut UR) pada tahun 1998. Seperti kita ketahui, pada masa itu sedang terjadi gejolak di setiap kampus di Indonesia untuk menggelorakan semangat reformasi. Almarhum menunjukkan kapasitasnya ketika berhasil mengawal Unri dengan baik di masa-masa krusial tersebut.

Meski dikenal lama sebagai dosen hingga rektor di Unri, namun pengaruh beliau juga hadir di kampus-kampus lain di Riau. Beliaulah yang mengawal perubahan IAIN menjadi UIN Susqa. Kemudian setelah pensiun beliau masih menerima jabatan sebagai Rektor di Universitas Muhammadiyah Riau, di usia beliau yang sudah sangat senja ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Kalimat yang paling terngiang di kepala saya yaitu ketika beliau mengatakan “saya jadi rektor di Umri ini adalah untuk ibadah, saya ingin mengabdi kepada Muhammadiyah” sungguh luar biasa. Usut punya usut, ternyata beliau memang punya hubungan yang sangat erat dengan Muhammadiyah, saat beliau muda, beliau pernah mengajar di kota Lubuk Jambi yang merupakan channel masuknya pengaruh ajaran Muhammadiyah ke Riau, beliau tinggal di rumah salah satu pelopor Muhammadiyah di Riau yaitu H Fahruddin.

Beliau adalah panutan seluruh insan pendidikan di Riau, hampir seluruh pengajar yang ada di Riau saat ini adalah murid beliau, saya bangga dapat termasuk di dalamnya.

Gaya khas beliau yang kerap berpidato diselingi guyonan ringan mungkin akan selalu terngiang di fikiran setiap muridnya terlebih pada kami di kampus ini.

Selamat Jalan Prof!

Allahumma firlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s