Work Smart, Don’t Work Hard

Ketika bertamu ke rumah dosen pembimbing siang itu, kami mendapat beberapa wejangan yang saya kira sayang untuk hanya menjadi kesan sesa’at dan kemudian dilupakan. Maka, saya merasa tergelitik untuk menulis wejangan itu di sini.

Dosen Pembimbing saya yang baru saja menyelesaikan S3 di Malaysia itu langsung mendapat tawaran mengajar di tempat ia menyelesaikan program S3 tersebut, setelah menandatangani lembar pengesahan laporan kami, beliau memberi wajangan yang saya menduga juga akan menjadi salam perpisahan dari beliau yang akan mengajar ke luar negeri.

Work smart, don’t work hard. Itu kalimat yang muncul pertama kali dari wejangan beliau. Saya agak terkejut karena kalimat ini begitu kontras terdengar dibanding quotes yang saya dengar sebelumnya. Seraya mencoba mengerti, saya mengikuti cerita beliau. Beliau bercerita tentang karirnya di perusahaan yang memulai dari bawah, beliau bercerita bagaimana beliau pernah menjadi operator hingga akhirnya bisa menjadi direktur sebuah perusahaan dan bagaimana kelebihan seorang bos yang memulai karir dari bawah dibanding bos yang langsung berada di atas, “bos yang mulai dari bawah itu lebih supel, bisa nyambung sama satpam maupun manager dan lebih mengerti kondisi lapangan yang sesungguhnya.” Ujar beliau.

Sambil menyeruput teh yang dibawakan PRT beliau, kami melanjutkan mendengarkan wejangan. “Dengan work smart kita jadi lebih bahagia dalam hidup, beda sama yang work hard yang terlalu memfosir diri, sampai akhirnya pulang ke rumah udah capek, bawaannya jutek sama istri dan gak sempat ngapa-ngapain lagi.” Saya masih mengernyitkan dahi sebab beliau masih belum mengupas definisi dari work smart itu, lalu beliau melanjutkan “saya dulu berkarir dengan work smart, sehingga bisa mencapai jenjang karir yang tinggi. Saya selalu fun dan tak pernah lupa menyisihkan waktu untuk keluarga. saya bekerja dengan bahagia, semuanya dilakukan secara efektif sebab dilakukan dengan otak, bukan dengan otot”

Memang masuk akal juga apa yang disampaikan oleh beliau, kaum work hard juga disebut sebagai workaholic, sebutan yang terkesan untuk orang freak (aneh). Jika work hard diartikan sebagai kegiatan kerja siang malam demi mencapai target, maka ini juga terasa seperti orang yang terlalu mengejar materi lalu mengabaikan kebahagiaan hakiki. Work hard mensyaratkan disiplin dan integritas namun melupakan keseimbangan. Hidup yang tidak memiliki keseimbangan akan cepat hancur, keuntungan materi mungkin akan cepat diperoleh, namun “keuntungan” psikologi belum tentu didapat.

Jika kita memilih untuk word smart, kita tetap memerlukan aspek dalam word hard yaitu disiplin dan integritas, karena memang itulah syarat untuk bisa sukses. Namun dalam work smart kita juga melibatkan keseimbangan dan ketepatan. Dalam hal ini kecerdasan mutlak diperlukan, baik itu kecerdasan untuk disiplin namun tidak memfosir diri, kecerdasan membagi waktu dalam kesibukan sehingga seimbang antara pekerjaan, keluarga juga agama. Lalu kecerdasan agar bekerja tepat, efektif dan efisien.

Di akhir wejangan beliau juga menyarankan untuk menabung. Menabung bukan berarti pelit, menabung mengajarkan kita untuk hidup lebih efisien. Dan saya pikir menabung bukan menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi dermawan asalkan kita punya manajemen keuangan pribadi yang bagus. Sehingga uang kita tidak dihabiskan untuk hal yang sia-sia, ia bisa dipakai untuk keperluan tak terduga. Dan “tabungan” kedermawananpun dapat digunakan untuk hari akhir kelak.

Demikian petikan wejangan dari dosen pembimbing kami, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s