kompleksitas hubungan orangtua – anak

Pernah menonton film Ari Hanggara? Ya, film berdasarkan kisahnya nyata ini menampilkan salah satu hubungan paling kompleks antara anak dan orangtua, Ari sesungguhnya anak yang baik namun tidak punya komunikasi yang baik dengan orang tua, selain itu gaya mendidik orangtuanya yang keras tidak diimbangi dengan observasi atau mencari kebenaran terlebih dahulu. Akhirnya kompleksitas ini berujung petaka, Ari Hanggara meninggal dan orangtuanya masuk penjara.

Pada dasarnya membahas hubungan antara orang tua dan anak adalah hal yang sederhana, hampir semuanya pasti merujuk kepada kata “kasih sayang” terlepas dari kondisi tidak normalnya. Namun hubungan ini menjadi sangat kompleks ketika kita membahas cara mengungkapkan kasih sayang tersebut. Beruntung sekali misalnya jika hubungan orang tua dan anak itu kasih sayangnya lancar, tulus dan saling timbal balik, namun sayangnya ternyata tidak sedikit juga yang tidak bisa lancar meskipun kasih sayangnya tidak perlu di ragukan. Hal lain yang membuatnya kompleks adalah masalah waktu, hubungan orangtua dan anak yang masih kecil berbeda dengan orangtua dengan anak yang remaja apatah lagi dengan yang sudah dewasa.

Ada orangtua yang telah mencurahkan seluruh kasih sayang tetapi anaknya tidak mengerti dan sebaliknya, ada anak yang membutuhkan kasih sayang tetapi orangtuanya tidak mengerti dan sebaliknya. Dan masih banyak lagi kondisi-kondisi yang justru membuat kasih sayang dan kebahagiaan itu tidak dapat dirasakan meski bagaimanapun diupayakan.

Pada satu kondisi, orangtua kerap salah dalam memberikan kasih sayang, ada yang parameternya adalah ketercukupan materi saja, ada yang parameternya ketercukupan interaksi antara orangtua dan anak dan yang paling menyedihkan adalah orangtua yang membuat sendiri parameternya, yaitu orangtua yang menetapkan jika si anak melakukan ini ia akan bahagia dan jika mencapai hal itu ia akan bahagia. Namun apakah kasih sayang itu benar-benar tersampaikan? Pernahkah ditanyakan kepada si anak itu sendiri?
Benarkah parameter itu akurat dalam memberikan kebahagiaan?

Saya tidak pernah mensurvey dengan metode tertentu, tetapi berdasarkan pengamatan saya ternyata dari kompleksitas hubungan ini peran keduanya cenderung berimbang (berbeda dengan pandangan banyak orang yang cenderung menyalahkan dari sisi si anak)

Mari kita bagi pembahasan ini sesuai kondisi agar terasa lebih tepat.

1.Permasalahan orangtua dan anak yang masih kecil.
Ini mutlak kesalahan orangtua, karena anak yang masih kecil belum mengerti apa-apa. Parameter kebahagiaan anak kecil mutlak adalah hasil didikan orang tua, jika dengan parameternya sendiri anak masih tidak bahagia, apa jadinya? Padahal, pembentukan jatidiri termasuk parameter kebahagiaan si anak semenjak ia masih kecil sangatlah penting dan sangat-sangat berpengaruh pada perkembangannya saat dewasa nanti. Misalnya bagaimana orangtua tidak menempatkan dirinya sebagai aktor antagonis dalam perkembangan psikologis si anak tetapi tetap mampu tegas dan mengayomi dan bagaimana orangtua mampu membangun tradisi komunikasi yang baik dengan si anak, komunikasi yang dua arah dan lebih terbuka, bukan yang satu arah dan kaku. sungguh-sungguh sangat terlambat jika pentingnya hal ini baru disadari ketika sang anak sudah dewasa, karena nasi telah menjadi bubur. Hal yang akan terjadi bukan lagi masalah sadar atau tidaknya, tetapi masalahnya menjadi kompleks karena komunikasi menjadi tidak lancar dan segalanya menjadi serba salah.

2.Permasalahan orangtua dan anak yang telah dewasa.
Ini biasanya murni masalah ego, anak yang telah dewasa akan mulai memiliki pemikirannya sendiri, jika ia mulai merasakan kontradiksi maka ia akan melawan sekuat tenaga dan mulai berubah menjadi ego, semakin egonya dilawan oleh orangtua maka akan semakin keras ia. Dalam hal ini orangtua juga tidak boleh terbawa ego, coba pandang dari psikologis saat masih seusia si anak dan fahami lebih dalam. Jika terus dipaksakan ego melawan ego, anak akan berontak. sekalipun ada yang tetap menuruti kemauan orang tua tetapi akan melahirkan kebencian dalam hati, di sisi lain bisa terjadi hal-hal ekstrim seperti anak memutuskan silaturahmi atau minggat dari rumah. Kadar pemberontakan akan tergantung karakter si anak tetapi intinya tetap satu, PEMBERONTAKAN.

3.Hubungan orangtua yang sudah renta dengan anak yang telah dewasa.
Dalam kondisi ini semuanya jadi terbalik, orangtualah yang membutuhkan kasih sayang si anak. Parameter kebahagiaan orangtua akan tergantung seberapa dekat sang anak kepadanya. Orang yang sudah tua memiliki tipikal sentitif (mudah sedih) dan keras kepala, sehingga jika hubungan sudah buruk, maka apapun yang dilakukan sang anak menjadi tidak berarti. Pada masa ini semuanya menjadi terakumulasi, parameter kebahagiaan orangtua tergantung kedekatannya dengan si anak, kedekatan dengan si anak tergantung apa yang terjadi antara orangtua dengan si anak pada saat remaja atau dewasa, kedekatan dan permasalahan saat remaja tergantung apa yang sudah dibangun orang tua pada anaknya sejak kecil, mulai dari komunikasi hingga karakter si anak itu sendiri.

Di lihat dari berbagai kondisi di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa aktor utamanya adalah orang tua, saat paling krusialnya adalah saat anak masih kecil hingga ia remaja. Dan inti permasalahannya adalah komunikasi, bagaimana orangtua memahami si anak dan bagaimana si anak memahami orangtua. Karakter yang terbentuk, trauma masa kecil dan hal-hal yang dipaksakan akan menjadi penghalang terbesar komunikasi anak dan orangtua. tidak ada salahnya mengubah perspektif, berkomunikasi dengan anak yang sudah dewasa sebagai orang dewasa dengan orang dewasa, bukan sebagai orangtua yang merasa serba tahu yang berkomunikasi dengan anaknya yang telah dewasa namun masih dianggap seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Jika hubungan anak dan orangtua dirasa dingin saat anak telah dewasa, maka sesungguhnya belumlah terlambat untuk memperbaiki segalanya, hanya diperlukan perubahan perspektif, orangtua lebih legowo dan sang anak mampu lebih tenang dan bertobat jika selama ini melawan. Namun jika salah satunya telah tua, rasanya tidak ada lagi jalan keluar, segalanya telah terlambat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s