Kembalinya era 90’an

Entah apa yang membuat belakangan ini anak yang lahir atau kecil di tahun 90’an berbondong-bondong mengenang masa di tahun 90’an, tak sulit menemukan hal nostalgia itu di Youtube, twitter, facebook dan tentunya google. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Amerika dan mungkin seluruh dunia.

Kemungkinan karena semangat nostalgia ini ‘dipancing’ oleh salah satu program tv di National Geographic, namun tidak menutup kemungkinan karena ada kemungkinan atau ‘provocator’ lainnya.

Secara psikologis (saya bukan psikolog, hanya mencoba mengamati saja) tampak ada ketidakpuasan dalam diri “anak 90’an” pada masa sekarang ini, ada banyak hal yang hilang dan sesuatu yang dirasa tidak pada tempatnya, contohnya musik anak-anak yang di tahun 90’an sangat banyak kini hampir tidak ada lagi, akibatnya anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa yang tidak layak mereka ucapkan dalam usia sekecil itu.

Ada kemungkinan juga upaya nostalgia ini karena anak-anak 90’an masih belum siap bertemu dunia orang dewasa. Ya, pada saat sekarang ini anak-anak 90’an yang paling akhir saja sudah masuk bangku kuliah dan atau sudah bekerja bagi yang tidak mengecap bangku kuliah. Beban hidup yang berkali-kali lipat membuat banyak orang terkenang masa kecil dimana beban hidup sama sekali tak ada, jika diperbolehkan mengulang waktu, tentu hampir semua orang akan memilih kembali ke masa kecilnya.

Ya, begitulah masa lalu, pahit ataupun manis tetap saja nikmat ketika dikenang. Namun yang akan menjadi kesalahan besar adalah jika kita terjebak oleh masa lalu, tidak bisa move-on. Kita akan digilas jaman, karena jaman akan selalu menelan waktu walau bagaimanapun keadaannya, akibatnya kita akan cuek dengan teknologi, perubahan masyarakat ataupun hal lainnya.

Masa lalu tentu saja boleh dikenang, kita juga boleh mempertahankan apa-apa saja yang kita rasa perlu untuk tetap ada dari masa lalu hingga di masa depan, namun penyesuaian dengan jaman mutlak diperlukan, bukankah dengan teknologi jualah kita mampu ‘kembali’ ke masa lalu? Bisa lewat komunitas media social, melihat video uploadan di youtube atau akun-akun nostalgia di twiiter. Bukankah ini kombinasi yang luar biasa? Bayangkan jika kombinasi ini kita gunakan untuk hal-hal lain, memberikan media khusus untuk lagu anak-anak lewat media-media di internet contohnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s