Peluh vs Keluh

Berapa banyak kata mutiara di dunia ini yang menyiratkan arti pantang menyerah, berapa banyak kisah-kisah orang-orang hebat yang sukses karena pantang menyerah. Lalu, apakah mereka tidak punya rasa lelah? Saya yakin secara manusiawi mereka pasti punya. Lalu, bagaimana cara mereka mengatasinya?

Berjuang, berjuang lagi, lelah, lalu bangkit lagi adalah sebuah siklus yang bisa dikatakan sudah menjadi Sunnatullah, ketentuan Tuhan. Namun ujung siklus sebagian orang mungkin akan menjadi berjuang, berjuang lagi, lelah lalu pasrah. Seorang yang sukses memiliki cara yang bermacam-macam untuk bangkit mengatasi kelelahan atau rasa mentok/frustasi tergantung karakter yang telah terbentuk pada dirinya dan tergantung faktor penghambat perjuangannya.

  • Faktor intensitas kegagalan, ada orang yang baru mencoba beberapa kali bahkan ada yang baru mencoba satu kali sudah merasa lelah/frustasi, ada yang memang sudah banyak sekali mencoba namun tetap gagal sehingga ia menjadi frustasi. Intensitas kegagalan yang besar menunjukkan ada hal mendasar yang salah, apakah cara berjuang kita yang salah ataukah justru sesuatu yang kita perjuangkan itulah yang salah. Perlu kita renungkan dalam-dalam sebelum meneruskan langkah, jangan meneruskan langkah pada apa yang jelas-jelas salah, akan lebih baik jika semangat pantang menyerah kita salurkan kepada sesuatu yang sudah benar.
  • Faktor usaha yang setengah-setengah, ini adalah implikasi dari niat atau azzam yang kurang kuat, kita takkan dapat hal yang maksimal dari usaha yang setengah-setengah. Perbaiki niat, perkuat azzam dan perkuat usaha.
  • Faktor psikologis yang labil, ini gue banget (jiah!). Psikologis yang labil dapat memunculkan hal-hal seperti faktor di atas maupun hal-hal penyebab kegagalan lainnya. Kita perlu memperkaya quotes (ungkapan) atau kata mutiara pembangkit semangat di kepala kita, kurangi mendengar lagu galau mapun lagu yang terlampau aneh, perlu banyak menempa diri dan lebih dekat kepada Tuhan agar psikologis kita lebih kuat dan stabil.
  • Faktor kesempatan, terus terang saya masih terus merenungi tentang hal ini, adanya kesempatan adalah hak prerodatif Tuhan yang mengendalikan setiap kejadian di seluruh jagad raya. Ibarat makanan, sepertinya kesempatan hanya dijatah kepada beberapa orang saja, meskipun begitu tidak semua orang mampu memanfaatkan sebuah kesempatan dengan baik. Kesempatan belajar, kesempatan untuk bangkit, kesempatan untuk terus berjuang hingga kesempatan meraih sukses, hal ini berkaitan dengan takdir, maka kita hanya bisa berusaha dan terus berusaha sesuai takdir yang kita yakini hanya akan berubah melalui usaha.

Kita perlu mencermati untuk tidak bertindak ceroboh dengan melakukan cara sama tapi mengharap hasil berbeda. Kemudian penting pula mempertimbangkan minat, bakat dan peluang, jangan mau terlalu terbawa oleh arus mainstream. Setelah kita sudah cukup faham mengenai cara dan tahu persis apa yang kita perjuangkan itu serta kesesuaiannya maka akan sangat sedikit waktu kita untuk merasa lelah apalagi hingga berkeluh kesah. Kita akan terhindar dari usaha yang sudah “mentok” karena kita sudah faham akan kesesuaiannya. Kita hanya perlu mengkonversikan keluh menjadi peluh dalam usaha perjuangan.

Keluh kesah kadang hadir di fikiran orang-orang yang kurang faham akan definisi takdir dan kurang referensi pada dalil-dalil agama. Kita tahu bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubahnya dan Allah juga mengatakan sesungguhnya orang yang berputus asa hanyalah orang-orang kafir. Keluh kesah memang manusiawi, akan tetapi bagaimana kita menyalurkannya akan menjadi sangat menentukan, era modern memungkinkan orang untuk berkeluh kesah di media social, ini tidak sepenuhnya salah, mereka hanya menginginkan perhatian dan solusi dari rekan-rekannya di dunia maya. Namun tentu keluh kesah terbaik adalah yang disalurkan dalam do’a, jika kita faham akan dalil di atas, maka kita akan meminta pundak yang kuat untuk memikul masalah, bukan meminta terhindar dari masalah lalu dapat menikmati zona nyaman selamanya.

Kita perlu fahami bahwa hidup adalah memang sebuah perjuangan, bahkan matipun kita mesti berjuang. Almarhum tetangga saya harus “berjuang” untuk benar-benar mati saat ingin bunuh diri, maka tak ada pilihan selain berjuang, tinggal kemana arah perjuangan kita, apakah untuk bangkit atau untuk jatuh dan semakin jatuh.

Sesungguhnya waktu kita di dunia ini sangatlah sempit, tidak ada waktu untuk meratapi nasib, tidak ada waktu untuk bersantai-santai, ini bukan melulu soal sukses atau tidak sukses, akan tetapi jika kita mengeluh atau bersantai maka akan membuat kita dalam posisi jumud (stagnan), di saat itu akan banyak orang yang rela menukar keluh dengan peluhnya sehingga ia akan jauh melampaui kita, sementara kita yang terlampaui akan semakin hina, terpecundangi dan kian terkubur dalam sesuatu yang saya sebut self black hole.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s