Sementara

“Tidak mengertikah kau dengan kata sementara? Iya, sementara! Sesuatu yang pasti berakhir, akan segera berlalu cepat atau lambat.” Iqbal mulai kesal melihat Sari yang terus mengeluh.

“Iya, tapi kenapa begitu lama?”

“Itulah masalahnya, kita tidak dapat memastikan kapan, hanya perlu percaya pada sebuah akhir. Bukankah hidup ini juga sementara? Dunia ini juga?”

Iqbal diam sejenak, kemudian ia pergi meninggalkan Sari untuk duduk ke ruang depan, Ia duduk tepat di depan Fani si adik bungsu yang sedang membaca buku. Iqbal memandang Fani dalam-dalam, terbayang olehnya tentang sekolah Fani yang juga hanya sementara, sementara sampai belas kasihan gurunya habis karena tak kunjung membayar uang sekolah. Sejurus kemudian Fani membalas tatapan Iqbal, “kenapa bang? Kenapa liat adek kayak gitu?”

“Gak ada, lanjutin aja bacanya ya.” Iqbal kemudian tersenyum pada adik kecilnya. Ia tak ingin merusak keceriaan masa kecil adiknya yang masih lugu itu, ia ingin sedapat mungkin tersenyum pada adiknya meski hatinya sedang murung.

Iqbal kemudian merenung, selalu terngiang-ngiang olehnya tentang sebuah kata sementara, terlalu banyak yang mengatakan itu kepadanya, namun tak kunjung ia temui akhirnya.

Terdengar suara batuk ibunya dari dalam kamar, Iqbal tersentak dari renungnya, “Sari, ambilkan ibu minum.” Pinta Iqbal kepada adiknya.

“Iya!” Jawab Sari dari belakang.

Ibu mereka memang sering sakit-sakitan belakangan ini, Iqbal tak mampu membelikan ibunya obat, yang ia harapkan hanya kepulangan sang ayah yang katanya hanya pergi sementara.

Beberapa saat berlalu, suara adzan Isya berkumandang, Iqbal tersadar dari tatapan kosongnya, kemudian ia bergegas mengambil sarungnya. Ada seseorang yang ingin ia temui selepas sholat berjamaah di mushola.

“Pak Ustadz, adakah sementara yang bersifat kekal?” Iqbal bertanya dengan penuh keingintahuan kepada ustadz Hadi.

“Tentu tidak Iqbal, namanya saja sementara, Iya adalah lawan dari kata kekal.”

“Lalu, kenapa kami terus seperti ini ustadz, kenapa ayah..”

“Iqbal, kata sementara itu adalah hal yang berbeda dari janji yang diingkari. Sementara itu pasti karena hanya Allah yang kekal” tegas ustadz hadi.

Iqbal terdiam sejenak.

“Iqbal, mungkin terlalu banyak yang mengucapkan kata sementara kepadamu. Bersabarlah, sesungguhnya itu hal terbaik yang dapat kau lakukan saat ini, sabar itu berpahala, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar” lanjut ustadz Hadi.

“Baik ustadz” Iqbal mengangguk, namun kepalanya terus tertunduk selepas pertemuan dengan ustadz itu, pertanyaan dikepalanya memang terjawab namun seperti ada sesuatu yang tersangkut di hatinya, “bersabar? Sampai kapan?” Gumamnya dalam hati.

Seminggu berlalu, tak ada yang berubah dari suasana rumahnya, Sari yang terus mengeluh, ibu yang sakit-sakitan dan Fani yang semakin dekat dengan drop out dari sekolah. Untungnya Iqbal tidak lagi memikirkan tentang kata sementara, jika dilanjutkan mungkin ia akan jadi gila, kini ia lebih banyak menahan diri, bersabar seperti kata ustadz Hadi, selain itu ia semakin intensif berkonsultasi dengan ustadz Hadi. Hingga pada suatu malam ia kembali bertanya kepada Ustadz Hadi,

“Ustadz, saya selama ini selalu bersabar, tapi rasanya ini tidak cukup untuk menghadapi hidup saya yang seperti ini.”

Ustadz Hadi tersenyum, kemudian menjawab “Iqbal, ustadz tahu bahwa kau sedang kebingungan, tidak banyak yang bisa kau ikhtiarkan. Maka teruslah bersabar, serahkan seluruhnya kepada Allah.”

“Tapi stadz, sampai kapan?”

“Hanya Allah yang tahu bal.”

Iqbal tertunduk lesu. Suasana kemudian hening beberapa saat, kemudian ustadz Hadi melanjutkan.

“Iqbal, tahukah kau bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa? Nah, coba kau ingat-ingat sesuatu yang justru membaik belakangan ini.”

Iqbal mengangkat kepalanya, keningnya mengkerut karena berfikir keras.

“Ngg.. Tidak ada stadz.”

“Benarkah? Coba kau fikirkan lagi”

“Benar stadz, benar-benar tidak ada.”

“Hmm.. Baiklah. Begini, lima atau enam bulan yang lalu apa yang biasanya kau lakukan setiap malam?”

“Hmm.. Duduk-duduk saja di rumah teman stadz, main gitar atau apa saja yang bisa dilakukan di sana.”

“Nah, saat itu apakah pernah terfikir untuk duduk di mesjid setiap setelah sholat berjamaah bersama ustadz di sini?”

“Ngg.. Ya enggak stadz.”

“Nah, itu baru hikmah pertama. Kamu jadi sering datang ke mesjid. Allah sedang rindu kepadamu, memanggilmu untuk lebih dekat kepadaNya. Ketahuilah nak, sesungguhnya tidak ada yang lebih nikmat di dunia ini dibanding saat-saat berkhalwat dengan Allah jika kita sudah mampu menikmatinya. Kamu bayangkan sesuatu yang lebih mewah dari mobil mewah, yang lebih indah dari taman rumah besar yang indah dan lebih nikmat dari makanan restoran.”

Mata Iqbal mulai berbinar, ustadz Hadi tersenyum lalu melanjutkan bicaranya.

“Ketika itulah kita sudah mampu untuk zuhud, tapi ingat! zuhud tidak berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, dunia ini adalah sarana menuju akhirat, jika kita tinggalkan maka pertemuan sesungguhnya dengan Allah di akhirat nanti justru akan kita lewatkan. Nah Iqbal, kembali lagi soal tadi, coba ingat hikmah apa lagi yang kau rasakan?”

“Mmm.. Rasanya, jadi punya lebih banyak waktu dengan keluarga stadz, meskipun bukan untuk menghabiskan waktu untuk sesuatu yang menyenangkan.”

“Betul, untuk anak bujang seusiamu waktu bersama keluarga biasanya sangat minim. Nah, sepertinya fikiranmu sudah mulai terbuka untuk hal-hal positif, mulailah untuk terus melihat hikmah dari setiap kejadian.”

“Baik staz.” Iqbal mengangguk kencang, kali ini ia terlihat sumringah dengan jawaban ustadz Hadi.

Hari-hari berlalu, ia bertambah semangat menjalani hari, ia lebih semangat membantu mengobati ibunya yang sakit meski hanya dengan obat tradisional ala kadarnya bermodal kata tetangga, ia lebih giat membantu Fani belajar dan tentu saja lebih bersemangat menceramahi Sari yang masih suka mengeluh. Hingga tiba suatu hari, Iqbal dipanggil ke sekolah Fani sebagai wali. Iqbal tahu apa yang akan ia hadapi, guru kelas Fani juga sudah tidak bisa berbuat banyak, akhirnya tak banyak yang mereka perbincangkan di sekolah, Iqbal terpaksa membawa Fani pulang, padahal jam belajar masih berlangsung satu jam.

“Bang, kenapa kita pulang? Adek ada PR yang harus dikumpul hari ini.” Tanya Fani dengan lugu.

Mata Iqbal berkaca-kaca. “Hari ini adek libur dulu ya, belajar di rumah sama abang.”

Iqbal kemudian tersenyum, sementara Fani hanya diam tak mengerti. Mereka lantas pulang menaiki sepeda butut yang biasa dipakai Iqbal untuk mengantar koran.

Hari itu Iqbal berfikir keras, apa hikmah dibalik semua ini, adiknya putus sekolah, masa depannya bisa hancur. Diambilnya air wudhu untuk sholat dhuha, kemudian ia bermunanjat kepada Allah ta’ala, ia merasa begitu tak berdaya, hanya Allah tempat bergantung.

Hari semakin siang, terdengar suara ketukan pintu yang cukup kencang, rupanya Bu Narti tetangga sebelah yang terlihat tergesa-gesa memanggil Iqbal.

“Ada apa bu?”

“Suamiku menelepon dari kota, dia mau bicara sama kamu, ayo cepat bal.”

“Iya, bu iya.” Iqbal bergegas sambil menahan rasa penasaran.

“Halo! ini Iqbal?” Tanya Pak Wandra dari telepon.”

“Iya pak, ada apa?”

“Iqbal, kamu yang sabar ya nak, semua ini pasti ada hikmahnya, Allah beserta orang-orang yang sabar. Kesusahan hidup itu hanya sementara, pasti ada saatnya nanti kita akan lapang”

“Iya Pak insyaAllah, tapi, memangnya ada apa pak?”

“Begini nak, bapak tadi bertemu seseorang di kota, dia mengatakan tadi ada seseorang yang tertabrak hingga tewas, polisi mengatakan berdasarkan identitasnya orang ini dari Jatiasih, karena alamat daerahnya sama dengan bapak jadi orang itu menyuruh bapak melihat jenazah, setelah bapak lihat langsung ternyata, ternyata dia bapak kamu nak.”

“Ha! bapak saya Pak?”

“I, Iya nak, tapi kamu yang sabar ya, bapak akan ikut pulang ke Jatiasih untuk membawa dan membantu mengurus jenazah….” Pak Wandra belum selesai berbicara namun pembicaraannya tidak didengar lagi oleh Iqbal, tatapan Iqbal menjadi kosong, harapannya selama ini menjadi sirna, telepon kemudian diambil ibu Narti, ia berbicara sebentar di telepon kemudian telepon itu ditutupnya.


Pemakaman berlangsung khidmat, namun keluarga Iqbal masih tak mampu menahan rasa pilu, terutama ibu Iqbal yang masih belum bisa menahan tangis, sementara Iqbal masih dengan tatapan kosong ke arah makam Sang Ayah. Seusai memimpin do’a, ustadz Hadi menghampiri Iqbal, ditepuknya pundak Iqbal.

“Allah akan memberi jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hambanya yang bertaqwa nak.” Ustadz Hadi kemudian pergi.

Sore setelah acara pemakaman, suasana rumah Iqbal menjadi sangat hening, Sari yang biasanya mengeluh tanpa henti kini ikut termenung bersama Iqbal, ibu mereka tampak sudah mulai tenang setelah cukup lama berusaha ditenangkan oleh Bu Narti dan tetangga lainnya, sementara Fani, ia diam tak mengerti, sepertinya dia masih berusaha memahami keadaan. Sesaat kemudian ustadz Hadi datang bersama keluarganya, tak ketinggalan Pak RT juga datang bersama-sama rombongan Pak Ustadz. Setelah dipersilahkan masuk, ustadz Hadi membuka pembicaraan.

“Begini bal, kedatangan kami ini bermaksud untuk mengajak Fani tinggal bersama kami sebagai anak angkat, nasabnya akan kami pelihara, sekolahnya akan kami biayai. Jika ananda tidak keberatan.”

Iqbal berfikir keras, ditatapnya Fani dalam-dalam, “Ya, inilah langkah terbaik demi masa depan Fani” sebutnya dalam hati. Belum sempat menjawab pertanyaan ustadz Hadi, Pak RT pun menambahkan,

“Dan maksud kedatangan bapak juga kurang lebih mirip dengan Pak ustadz, bapak menawarkan pekerjaan di rumah bapak kepada ibunda Iqbal setelah ia sembuh, sebelum itu kami bersedia menanggung pengobatan ibu Iqbal hingga ia sembuh.”

Iqbal terdiam, ia ragu-ragu karena begitu besar budi yang ditawarkan, tetapi ia tidak boleh egois, ini demi ibu dan adik-adiknya, kemudian ditatapnya kembali ustadz Hadi, ia menjawab,

“Pak ustadz, begitu besar jasa pak ustadz selama ini, Pak ustadzlah yang membimbing saya sehingga masih kuat hingga sejauh ini, jika budi ini masih harus bertambah, dengan apa aku harus membayarnya nanti?”

“Biarlah Allah yang membalasnya nak, kau anak yang baik, ini adalah pertolongan dari Allah kepadamu. Balas budi jangan kau fikirkan, cukuplah jaga keistiqomahanmu, kepribadianmu sudah sejauh ini dibentuk Allah.”

Iqbal tersenyum, kemudian ia menatap kepada Pak RT, “Pak RT..”

“Sudahlah nak, benar kata Pak ustadz, kau anak yang baik, kau rajin datang ke mesjid dan ramah kepada setiap warga, bapak yakin siapapun akan terpanggil untuk membantumu” Pak RT memotong pembicaraan Iqbal.

“Baiklah Pak ustadz dan Pak RT, saya menerima bantuan ini, saya sangat berterima kasih. Tapi ijinkan kami untuk tetap bisa berkumpul di rumah ini bersama, saya ingin membayar masa-masa saat saya suka keluyuran dulu.”

Pak ustadz tersenyum “Ya, Fani akan tetap tinggal di sini, kami hanya akan sesekali membawanya kerumah untuk membantunya belajar terlebih saat kau dan Sari sedang sibuk di rumah.”

“Baiklah, terima kasih Pak ustadz dan Pak RT” mata Iqbal akhirnya berkaca-kaca juga meski ia telah berusaha tampil kuat dan berwibawa sejak tadi.

Pak uztadz dan Pak RT kemudian mohon diri, dan kemudian dimulailah sebuah hari baru bagi mereka, sebuah jawaban dari kata sementara. Sementara yang berisi penantian, kesabaran, tawakal dan percaya pada keputusan terbaik dari Allah.

End
Fauzil Hasdi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s