Rembulan nan merindu Mentari

Apalah jadinya malam jika tanpa rembulan, gelap dan menakutkan, jikapun sang bintang menemani, ia hanya bisa jadi hiasan tanpa mampu menjadi pelita nan terang.

Da’i hadir bak sinar rembulan, menghiasi dengan tulus, menyapa dengan lembut dikala kegelapan menelan hampir setiap keindahan.

Rembulan sangat kuat bersinar meski sebenarnya tubuhnya bopeng-bopeng, seperti jalan dakwah para da’i dalam menemani ummat ini, ketika da’i yang tak sempurna harus berjuang, maka ia tak mungkin menunggu sempurna, tak mungkin menunggu tubuh bopeng menjadi mulus seperti kelereng terlebih dahulu.

Rembulan sangat kuat berevolusi sambil menemani bumi berevolusi pula, seperti kesetiaan da’i pada ummat ini walau apapun yang terjadi.

Rembulan yang mengubah takdir malam, cerita malam penuh dari kisah hantu hingga maksiat, namun rembulanku berkata lain, “tidurlah, namun jangan terlalu lama, ada yang hendak menyapamu di sepertiga malam terakhir.”

Begitu indahnya tutur sang rembulan hingga setiap bait-bait ilmu darinya meluncur bak syair merdu dari telinga hingga ke hati.

Suatu ketika aku bertanya pada sang rembulan, “apakah yang membuatmu begitu indah bersinar seperti saat ini?”

Rembulan tediam sejenak, sambil tersenyum ia berujar “mentarilah yang membuatku begini, ia memberikan sinarnya dengan sepenuh cinta.”

“Jikalau engkau mampu bersinar dengan begitu indahnya, apatah lagi mentari?”

“Ya, begitulah dinda.” Mata rembulan menerawang, mungkin ia terkenang pada sang mentari.

“Dinda, kau tahu” lanjut sang rembulan lagi.

“Ya, apakah itu duhai rembulan?”

“Aku, aku sangat-sangat merindukan sang mentari saat ini” Mata Rembulan kemudian berkaca-kaca.

“Seperti katamu saat itu, hanya do’a rabithah yang terbaik saat merindu, bukankah begitu?”

“Benar sekali dinda” ucap sang rembulan sambil tersenyum. Kurasakan saat itu betapa ia benar-benar merindukan kehangatan ukhuwahnya dahulu karena sudah sejak lama ia harus berdakwah jauh dari dekapan ukhuwah itu.

Ya, itulah mentari yang sangat dirindukan rembulan. Murabbi sang mentari, murabbinya dahulu yang menjadi cinta pertamanya dalam dakwah. Murabbinya itu memang ibarat mentari, ia bagikan setiap sinarnya padanya kemudian ia pergi menyinari tempat-tempat yang lain. mentari kadang punya panas yang menyengat tapi sebenarnya itu menyuburkan, setidaknya itu yang dirasakan rembulan saat terakhir bersama mentari.

Mentari menyinari bulan, lalu bulan menyinari sekitarnya. Lalu akan tiba saatnya rembulanku akan jadi mentari, aku jadi rembulan. akupun akan jadi mentari hingga aku punya rembulan yang kusinari, begitu seterusnya hingga kami mampu menyinari seluruhnya, hingga tanpa ada gelap yang tersisa, hingga kiamat yang mempersatukan dan mengumpulkan kami dengan indah di syurga.

*Bukan analogi yang sempurna, semoga tetap bisa jadi hiasan literasi di taman dakwah.

Salam dan do’a rabithah untuk setiap rembulan dan mentari..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s