Gersang

Gersang, sungguh gersang daerah ini, debu beterbangan, tanah kering dan hampir tak ada tumbuhan di sini. Lebih-lebih lagi gersang di hati mereka, mereka yang keluarganya dibantai secara keji, diperlakukan bak binatang, bahkan kantong air mata mereka mungkin telah lebih kering dari tanah yang kupijak ini.

Kedukaan demi kedukaan memenuhi hari-hari mereka, tak ada kesempatan untuk tenang, selalu saja ada kekhawatiran yang menghampiri jikalau para pembantai tiba-tiba datang.

Duarr! Terdengar suara ledakan dahsyat, bom gentong tampaknya lagi-lagi dijatuhkan. Desing peluru kemudian mengiringi dibarengi suara teriakan dan hentakan-hentakan kaki masyarakat yang berlari menjauhi si pembantai. Kepanikan terjadi di mana-mana, masyarakat berlarian mencari tempat aman atau setidaknya hanya mengindari tembakan saja, seorang ibu tampak menangis tak mampu menemukan anaknya, ada pula ayah yang harus melihat anaknya tergeletak tak berdaya terkena tembakan. Teriakan-teriakan terdengar dari mereka yang terkena bom dan tembakan, tak kuat menahan luka yang menganga. Satu demi satu masyarakat terjatuh, tampak bercak darah di tubuh mereka, ada yang di kepala dan ada yang di punggung, mereka sudah tertembak. Duarr! Lagi-lagi terdengar suara ledakan, kali ini terasa dekat, aku ketakutan, tampak ada sesuatu yang jatuh didekatku, sesuatu yang penuh dengan bercak darah. “Hah, ini potongan tubuh! Ya Allah! Sepertinya itu lengan yang terlempar dari tubuhnya”, tampak jari-jarinya mengepal sambil mengangkat telunjuk, “masya Allah, sepertinya ia masih sempat mengagungkan Allah sebelum Ia terkena bom.”

Sejurus kemudian tampak pria-pria berseragam militer berlarian, masing-masing mereka memegang sejata berat, seperti belum puas atas kejadian tadi, mereka terus menembakkan senjatanya. Aku benar-benar takut bercampur heran, bukankah pria berseragam seperti ini adalah militer yang biasa ditugaskan menjaga keamanan negerinya? Lalu kenapa mereka menembaki rakyatnya sendiri? Apakah mereka bukan muslim? kenapa penampilan mereka seperti orang islam?

Aku dan batu-batu lainnya disingkapkan, tanahpun digali, aku pikir mereka akan mengubur jasad yang telah mati ini, tapi ternyata mereka mengumpulkan korban yang masih hidup untuk ditimbun sampai ke leher. “Apa yang akan mereka lakukan?” Tanyaku dalam hati. Senjata ditodongkan ke setiap kepala korban, lalu sebuah kalimat yang sangat keji aku dengar dari mulut para pembantai itu, Naudzubillah! Mereka meminta para korban untuk mengakui Presiden pemerintah otoritas sebagai Tuhan! Ya Allah, akhirnya aku tahu bahwa mereka bukan orang islam, mereka hanya kaum kafir yang menyelinap masuk kedalam islam dengan kedok madzhab. Untunglah dalam kondisi seperti itu masyarakat yang tertangkap ini masih mempertahankan keimanannya, tidak ada kalimat yang keluar dari mulut mereka kecuali kalimat syahadat meski moncong senjata telah diarahkan ke kepala mereka. Kesal gertakan mereka tak digubris, akhirnya komandan para pembantai itu memerintahkan untuk mengubur korban hidup-hidup. Terjadi peristiwa yang sangat mengharukan, jika saja aku manusia, tentu aku akan menangis atau aku akan hentikan para pembantai yang tidak berperikemanusiaan itu semampuku. Ya Allah!

Dalam kegelisahanku, aku kemudian didatangi oleh seorang malaikat, “Wahai batu, janganlah engkau gelisah, sesungguhnya mereka gugur dalam keadaan syahid, karena mereka dibunuh dalam keadaan mempertahankan keyakinannya.”

“Benarkah itu wahai malaikat?”

“Ya benar, dan berbahagialah bahwasanya engkau akan menjadi saksi mereka di hari perhitungan nanti.”

“Masya Allah, suatu kehormatan dapat bersaksi untuk para syuhada.”

Sedikit hatiku mulai terhibur, malaikat itupun tersenyum dan kemudian berangkat kembali ke langit.

….
Bruaak! Salah satu pembantai jatuh tertembak, tepat di kepala, pembantai lainnya kemudian berteriak “FSA! FSA!” Mereka kemudian mencari perlindungan di balik batu-batu besar atau tembok-tembok bekas bangunan yang telah mereka hancurkan. Kontak senjata kemudian terjadi, berlangsung cukup lama, aku yang masih shock dengan kejadian tadi harus terperanjat lagi, apa lagi ini? Pertumpahan darah lagi?

Setelah terjadi pertarungan yang sengit, terdengar teriakan dari sebelah sana “Allahu akbar!! Allahu Akbar!!” Sebuah kalimat takbir! Masya Allah ternyata yang disebut sebagai FSA itu adalah para mujahidin yang membela kaum muslimin, dan mereka telah memenangkan pertarungan melawan syiah laknatullah. aku bangga kepada mereka dan Allah pasti juga sedang membanggakan jundi-jundiNya ini kepada para penduduk langit.

Mujahidin kemudian mengumpulkan jasad-jasad yang bertebaran untuk dikuburkan secara layak, mereka gali kuburan massal, lalu mereka sholatkan. Tak lupa setelah itu mereka membaca mushaf alqur’an mereka, ada juga yang murojo’ah hafalan, yang lainnya berjaga jika ada serangan dari musuh. Ah sungguh mulia engkau para mujahidin.

Kejadian yang berlangsung cepat ini benar-benar mengaduk-aduk perasaanku. takut, sedih, marah kemudian diakhiri kabar gembira. Sungguh ini adalah cara Allah menguji keimanan hambaNya dan menghinakan musuh-musuhNya.


Fajar menyingsing, selapas sholat dan dzikir shubuh para mujahidin tampaknya akan berangkat ke tujuan berikutnya, mereka mulai berkemas-kemas. Tampak dari kejauhan sebuah rombongan datang mengendarai mobil, mereka membawa bendera tauhid yang dipadukan dengan cap resmi Rasulullah, ah sepertinya ini rombongan mujahidin yang menjemput mereka ke tujuan berikutnya.

Dor! Terdengar suara tembakan. “Tembakan lagi? Apa lagi ini?” Aku benar-benar terkejut, tak habis fikir bukankah rombongan itu membawa bendera tauhid? Lalu mengapa mereka menembaki FSA?

Lagi dan lagi pertempuran terjadi, seperti tak ada habisnya. Aku benar-benar tak habis fikir dengan kondisi ini. Mungkin ini yang membuat kisah kami di Suriah tak mendapat banyak perhatian dari luar negeri meski telah menelan ribuan nyawa, negara luar mungkin menyangka ini adalah perang saudara, perebutan pemerintahan atau singkatnya masalah domestik yang tidak layak negeri lain ikut campur. Tapi apakah karena punya kaitan dengan permasalahan politik maka mereka bisa menutup mata atas semua yang terjadi di sini? Lalu, benarkah ini perang? Aku kira peperangan itu adalah sebuah front antara dua pihak yang sama-sama bersenjata, tapi yang aku lihat justru penduduk lemah tak berdaya yang dibunuh seenaknya. Tidak, ini tidaklah perang, ini pembantaian! Ini adalah usaha genosida kepada kaum muslimin oleh kaum yang selama ini dianggap orang sebagai bagian dari islam. Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada mujahidin dan rakyat Suriah, persatukanlah hati dan jiwa seluruh ummat muslim dunia sehingga kemenangan itu, kemenangan yang telah engkau janjikan dapat secepatnya datang ke tangan kaum muslimin Suriah dan seluruh dunia.

*based on some true stories in Suriah

*salurkan bantuan anda untuk rakyat Suriah melalui:
– Sahabat Suriah. No.Rek: 7799880002 (Bank Syariah Mandiri) SMS: +62 877 00998 002
– Komnas Peduli Suriah (KNPS) No.Rek: 7054473178 (Bank Syariah Mandiri) Hp: 085753678558
– Riau Syam Organizer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s