Penakhluk 1000 alasan

Diantara hubungan antar manusia yang terindah yang diciptakan oleh Allah ta’ala adalah hubungan antara orang tua dengan anaknya, baik itu anak kandung, anak angkat maupun anak tiri, namun tak bisa dipungkiri pada implementasinya tak semua hubungan itu tampil indah meski berasal dari cinta dan kasih sayang yang sama.

Orang tua dengan segala keterbatasan yang dimilikinya tentu akan mengerahkan segala kemampuannya untuk kebahagiaan sang anak tercinta, namun pemberian orang tua yang mapan takkan sama dengan pemberian orang tua yang tidak berpunya. Orang tua juga selalu menginginkan lingkungan yang baik bagi anaknya, namun lingkungan keluarga yang tinggal di pasar takkan sama dengan lingkungan di kompleks perumahan. Dan orang tua selalu menginginkan hubungan yang baik dengan anaknya, namun orang tua kerap dibimbangkan oleh kesibukan pekerjaan yang tujuannya demi anaknya juga. Keterbatasan-keterbatasan seperti ini bukan lagi menjadi jangkauan manusia, ini adalah masalah takdir yang harus dihadapi, terlepas dari kenyataan lain bahwa takdir dapat berubah, namun takdir haruslah diterima, kita tak boleh menolak takdir meski usaha untuk menggapai takdir yang lebih baik juga tetap didorong. Maka begitulah, tidak ada orang tua yang sempurna, orang tua bukanlah malaikat meski ridho Allah tergantung pada ridho mereka, penerimaan akan kekurangan orang tua ini sangatlah penting terutama bagi para remaja yang biasanya akan mulai terjadi rawan konflik dengan orang tua.

Kekurangan pada diri orang tua akan melahirkan 1000 alasan untuk membencinya. Memang, betapa banyak kehancuran yang awalnya dimulai dari niat baik, betapa banyak kebencian yang justru sebenarnya lahir dari kecintaan berlebih. Orang tua kadang overprotective pada anaknya hingga melarang ikut ini-itu hingga sang anak jadi merasa terkungkung dan tak dapat berkembang. Ada pula orang tua yang bersikeras memasukkan anaknya ke pesantren namun ternyata anaknya justru jadi lebih buruk di sana. Maka, apakah orang tua di sini salah? Bisa saja salah bisa juga benar, namun anak yang membenci orang tua karena alasan ini adalah sepenuhnya salah.

Kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan berdo’a, selanjutnya Allah-lah yang menentukan. Jalan lain yang penting untuk menghadapi kebimbangan-kebimbangan di atas adalah dengan jalan kompromi. Orang tua tidak boleh bertindak seperti Tuhan dengan merasa semua tindakannya adalah benar, tidak boleh merasa karena semua hal yang disuruhkan kepada anaknya adalah demi kebaikan sang anak maka mutlak harus dikerjakan, tapi sekali lagi orang tua tidaklah Mahatahu seperti Tuhan, orang tua harus sadar bahwa dia tak bisa mengawasi anaknya seperti halnya sang anak masih kecil dahulu, sehingga bagaimanapun, si anaklah yang lebih tahu akan dirinya sendiri. Maka, tak ada cara terbaik selain kompromi, dan kompromi terbaik adalah lewat keakraban orang tua dengan sang anak yang terus terjalin. Jangan sepelekan makan malam bersama keluarga setiap hari, jangan lewatkan waktu-waktu liburan bersama keluarga.

Ketika anak beranjak dewasa, kadang dia memiliki pendapat yang berbeda dengan orang tua, banyak anak yang sebenarnya baik dan tak mau durhaka namun memiliki cara pandang berbeda dengan orang tuanya atas sesuatu yang dianggap benar, maka muncul pilihan berat apakah harus mengikuti orang tua kemudian mengorbankan kebenaran yang diyakini ataukah mengikuti kebenaran yang diyakini namun harus menjadi durhaka kepada orang tua. Masalah seperti ini sudah banyak dibahas oleh alqur’an seperti sebuah ayat yang menyuruh mengikuti orang tua selagi ia tidak menyuruh durhaka kepada Allah, namun masalah turunan dari hal ini juga ternyata sangat banyak dan tak mungkin dicari solusi eksplisitnya di alqur’an, seperti misalnya, orang tua yang baik dan tidak menuruh mendurhakai Allah tapi sang orang tua ternyata memiliki kencenderungan pada hidup materialisme atau pragmatis sehingga ia melarang anaknya untuk lebih dalam mempelajari agama apalagi berdakwah sehingga secara otomatis jadi terarahkan untuk hanya berfikir dunia saja. Banyak contoh kasus turunan lain yang sangat rumit, andai kita punya fuqaha yang capable dan fatwanya sangat dihormati seperti zaman imam-imam madzhab terdahulu tentu ini bukan menjadi masalah, namun ulama masa kini jikapun capable namun tidak ada yang keputusannya benar-benar dihormati ummat sekalipun itu ulama MUI. Sehingga masalahnya harus dikembalikan kepada pembahasan tadi, harus ada kompromi, hubungan yang harus dijalin erat dan yang paling penting adalah memaklumi bahwa baik anak maupun orang tua adalah manusia yang tak sempurna, tempatnya salah dan khilaf, insan yang lemah dan mudah lupa. Maka, dengan begitu insyaAllah 1000 alasanpun yang muncul untuk membenci orang tua akan mampu kita takhlukkan.

Wallahu ‘alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s