[Masih suasana 17 Agustusan] Nasionalisme atau persaudaraan Islam?

Beberapa hari yang lalu saya melihat tayangan berita di tv terkait permasalahan munculnya negara Khilafah di Iraq dan Suriah. Setelah penjelasan singkat mengenai negara itu, berita itu kemudian menampilkan berbagai tanggapan yang seragam dari para pakar dan pihak terkait di tanah air. Sangat mengecewakan menurut saya, karena pihak-pihak yang seharusnya memberikan rasa aman dengan melindungi rakyat dari isu terorisme malah menjadi pihak yang menakut-nakuti, menebar stigma yang berpotensi menghadirkan kekacauan di masyarakat. Kalimat-kalimatnya tendensius seperti ingin menyerang seluruh muslim yang ta’at. Saya tidak tahu beliau muslim juga atau bukan, tapi yang pasti beliau ini sudah menjadi sosok antagonis di kalangan muslim ta’at yang melek informasi. Karena setiap muslim yang ta’at hampir pasti sudah merasakan menjadi korban stigma yang ditebar beliau.

Di luar rasa kecewa saya, ada satu statement cukup menarik yang ingin saya komentari. Yaitu anjuran untuk tidak lagi melakukan pengerahan massa berbasis agama dan harus memperbanyak kegiatan berbasis nasionalisme. Untuk menghindari pengerahan massa berbasis agama tentu tidak mungkin dan saya menolak keras, karena dalam islam untuk sholat 5 waktu saja diperintahkan berjamaah, belum lagi tabligh akbar, kegiatan sosial dan lain-lain. Akan tetapi untuk memperbanyak kegiatan berbasis nasionalisme ini saya rasa saya setuju dengan beliau. Secara keseluruhan, rasa nasionalisme masyarakat hanya di charge sekali setahun di moment 17 agustus, itupun harus tereduksi beberapa kali karena berbenturan dengan bulan Ramadhan, selain di moment itu, masyarakat seperti menunggu diganggu Malaysia dulu baru menunjukkan rasa nasionalisme, paling rutin adalah nasionalisme saat menonton pertandingan sepakbola. Charging nasionalisme memang bisa dilakukan secara simbolik, akan tetapi lebih baik jika diaplikasikan langsung, nasionalisme bisa berdampingan dengan keimanan sehingga para pejabat tidak korupsi, para pencari devisa bisa lebih semangat dan pemimpin bisa lebih amanah. Jadi statement yang lebih bijak harusnya berbunyi “boleh melakukan pengerahan massa berbasis agama, akan tetapi harus rutin juga melakukan pengerahan berbasis nasionalisme.”

Melihat sepintas, nasionalisme terbaik ada pada masyarakat Amerika Serikat. Dimana nasionalisme begitu tinggi, seorang Profesor Indonesia yang mengajar di Amerika pernah berkata, di saat kedigdayaan Amerika terusik oleh peristiwa 9/11 masyarakat Amerika banyak yang turun ke jalan-jalan membawa bendera besar negaranya sambil berkonvoi, sangkin inginnya mereka menunjukkan nasionalismenya sampai terkesan norak. Namun nasionalisme di Indonesia sangat berbeda, negara Indonesia dan segala nilai-nilai nasionalismenya dibuat dan diperjuangkan oleh para ulama, memang ada tokoh nasionalis (jika tidak ingin disebut sekuler) dan tokoh agama lain yang terlibat, akan tetapi keterlibatan mereka sangat-sangat minim sekali, malah kebanyakan mereka hanya mencari momentum di kala proklamasi saja. Karena sesungguhnya gerakan kemerdekaan Indonesia adalah gerakan jihad untuk lepas dari pemerintahan kafir. Pekik-pekik perjuangan merekapun adalah pekik takbir, bukan pekikan-pekikan lain.

Indonesia meskipun dengan asas Bhineka Tunggal Ika namun memiliki dasar negara yang pertama berbunyi ketuhanan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan meskipun bercorak demokrasi namun Indonesia didirikan dengan dasar da’wah, merangkul segala golongan dan menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Kelangsungan hidup Indonesia saharusnya menjadi negara yang kian islami, akan tetapi pertarungan politik terkadang menghadirkan suasana sebaliknya, namun inilah da’wah, da’wah adalah perjuangan. Nilai-nilai keislaman itu kitalah yang harus menjaga dan terus memperjuangkan eksistensinya dengan da’wah yang tidak meninggalkan parlemen.


ISIS dan Nasionalisme kita

Isu Khilafah Iraq dan Suriah (ISIS) telah menjadi kebimbangan bagi masyarakat awam. Di satu sisi segolongan kaum meminta mereka berbaiat kepada Khilafah Al Baghdadi karena diketahui sistem Khilafah adalah sistem yang digunakan di era kejayaan Islam dan harus dibangun kembali, namun di sisi lain mereka hidup di negara damai dengan faham nasionalisme dan sistem demokrasi. Celakanya isu ini malah “digoreng” terus menerus oleh media sekuler, sehingga semakin terombang ambinglah masyarakat awam. Padahal untuk menyikapi ini cukuplah dengan mencari rujukan kepada para ulama, sebahagian besar ulama baik internasional maupun lokal telah menyatakan ISIS adalah Khawarij alias sesat, memang ada sebahagian ulama lain yang menyerukan bersikap tawwaquf (diam sampai ada kejelasan) dengan alasan informasi yang didapat seputar ISIS diragukan kebenarannya sebab bersumber dari media sekuler. Ini terpulang pada pilihan kita, yang jelas pada kondisi seperti ini kita harus mentaati para ulama bukan menelan mentah-mentah sajian media sekuler.

Khilafah bukan sistem yang baku dalam islam karena pada kenyataannya sistem di dalam Kekhilafahan itu sendiri berubah-ubah. Pada masa khulafaur rasyidin saja keempatnya berbeda cara pengangkatan. Satu yang harus difahami adalah syariahlah yang harga mati bukan Khilafah, syariah bisa diterapkan dalam monarki seperti di Brunei dan negara demokrasi sekalipun. Dan yang tak kalah penting, penerapan syariah juga harus secara arif, bijaksana dan sesuai tuntunan, bukan secara serampangan.

Alangkah lebih baik jika kita bertahan dengan nasionalisme dan perjuangan islam di demokrasi selagi masih memberikan manfaat bagi islam dan menjamin kedamaian, tentu dengan tidak meninggalkan solidaritas keislaman kita kepada seluruh umat islam di dunia. Setidaknya untuk saat ini demokrasi dan faham nasionalisme masih lebih ideal, Memang terasa kurang maksimal jika kita melihat minimnya kesempatan kita menolong saudara kita di Palestina, Suriah, Mesir, Rohingnya, China dan lain-lain. Akan tetapi kita masih bisa menempuh dengan jalan ini, tinggal kemauan kita yang harus diperkuat untuk membantu saudara-saudara kita itu hingga pada saatnya pergiliran kejayaan Allah putar kembali kepada kita dan Khilafah yang memang sudah menjadi keniscayaan akan hadir pada saat yang sudah menjadi keniscayaan. Kapan saat itu? Apakah menyongsong saat itu hanya dengan menunggu? Ya, menunggu sambil tetap berdakwah dimanapun kita berada.

Wallahu ‘alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s