Cendekiawan muslim kini dan dulu

Alhamdulillah tahun ini akhirnya bisa mudik juga, setelah lebaran tahun lalu harus “terkungkung” di kota. Seperti biasanya, setiap mudik ke kota Rengat saya selalu membaca majalah-majalah dan koran lama milik kakek, sudah jadi kebiasaan saya sejak kecil. Kakek memang suka menyimpan majalah dan koran, majalah tahun 70’an saja masih tersimpan rapi di rumahnya. Tentu karena ada sesuatu yang berharga, yaitu sejarah. Kali ini saya tertarik pada sebuah majalah yang tidak akan saya sebut namanya. Membaca majalah ini membantu saya menyelami pemikiran para cendekiawan muslim di era orde baru, bagaimana pemikiran mereka tetap bergeliat di era represif yang memang kurang bersahabat dengan da’wah.

Di salah satu kolom, saya melihat tulisan Prof. Amien Rais yang mengkritik otoritarianisme orde baru, saya sempat heran dengan keberanian beliau menulis artikel ini, tapi akhirnya saya tidak heran, karena di bawah tulisannya tertulis “dari Chicago” sehingga beliau terhindar dari upaya penculikan yang mungkin akan beliau dapatkan jika berada di Indonesia. Dari tulisan itu saya jadi faham bahwa proses mencapai reformasi itu jauh lebih lama daripada yang saya sangka sebelumnya. Dan penggagasnya bukanlah kelompok “preman” yang saat ini suka melakukan klaim sebagai yang paling berjasa, melainkan para ulama, para tokoh pemikir islam yang fikirannya masih dan akan terus terbuka demi kemaslahatan umat tanpa terpengaruh tekanan apapun.

Di kolom yang lain saya juga melihat kegagahberanian Muhammadiyah sebagai ormas islam yang juga bergerak di bidang pendidikan. Mentri pendidikan saat itu ingin menghapuskan libur Ramadhan untuk diganti dengan hari libur yang disesuaikan dengan libur musim panas di Eropa. Penolakan Muhammadiyah atas perubahan hari libur harus berujung penarikan subsidi dari pemerintah, akan tetapi Alhamdulillah Muhammadiyah mampu istiqomah.

Melihat sikap patriotik dan keteguhan ulama terdahulu membuat saya tergelitik untuk membandingkannya dengan ulama masa kini. Secara keseluruhan ternyata tidak ada perubahan, Ustadz Din Syamsuddin yang mewakili Muhammadiyah masih vokal di media dan Prof. Amien Rais hingga saat ini juga masih eksis. Yang menjadi sorotan saya adalah legitimasi para ulama itu sendiri. Beberapa fatwa MUI dianggap sebagai angin lalu, bahkan fatwa sesat MUI masih sering “macet” di pemerintah. Lihat saja fatwa haram rokok, berapa orang yang peduli? Kebanyakan malah melawan, bukannya sami’ na wa ato’na. Atau fatwa sesat Ahmadiyah dan Syiah, bukannya dibubarkan malah berusaha dibela.

Legitimasi ulama biasanya didapatkan dari masyarakat yang mengakui ketokohan ulama tersebut dan dari sikap serta sepak terjangnya yang berani membela yang benar dan menghukum yang salah. Sikap lembek atau terlalu permisif hanya akan membuat simpati masyarakat berkurang kendati hal itu membuat senang kaum liberal. Ulama harus berani dipenjara demi mempertahankan kebenaran seperti Imam Malik atau Buya Hamka. Para ulama harus lebih berani menegur pemimpin seperti yang dilakukan para ulama di zaman Khalifah Harun Al Rasyid. Biarpun diselingi dagelan seperti yang dilakukan oleh Abu Nawas, itu lebih baik daripada diam. Saya fikir para ulama ini harus mengembalikan legitimasinya agar pengaruhnya kembali tertancap, terlebih saat ini dikala begitu banyak kontroversi yang terjadi.

Salah satu hal yang mempengaruhi berkurangnya legitimasi ulama adalah karena media sekuler yang makin menjamur sementara media Islam tidak berdaya, majalah-majalah yang dahulu menjadi rujukan ummat banyak yang berubah menjadi alat pemecahbelah ummat itu sendiri, hingga akhirnya media tersebut mati dengan sendirinya. Padahal zaman telah berubah, kecanggihan teknologi telah membuat kita kebanjiran informasi, namun islam masih bergerak di media cetak (itupun tidak ada lagi yang bisa dijadikan rujukan seluruh ummat, banyak yg sudah memecah belah) dan beberapa menggunakan media internet yang kurang lebih sama dengan media cetak bahkan dengan persaingan yang lebih ketat. Saat ini ummat membutuhkan media yang lebih umum seperti televisi dan Radio. Portal berita islami dan majalah-majalah islami harus lebih fokus pada permasalahan bersama umat islam, bukan pada kelompok-kelompok tertentu. Friksi-friksi kecil yang memang sudah menjadi keniscayaan di ummat islam jangan dipertajam, sebisa mungkin dicari titik tengah.

Hal lain yang berpengaruh tentu tipikal masyarakat itu sendiri. Banyak yang sudah terkena “cuci otak” dari media. Masyarakat terlalu mudah “mencabut” legitimasi para ulama hanya karena hal yang tidak seharusnya membuat mereka dicabut legitimasinya. Misalnya ustadz-ustadz yang terjun ke dunia politik, dimata masyarakat secara otomatis ustadz itu tidak lagi ustadz, melainkan politisi yang sama dengan politisi lain yang identik dengan korupsi. Kasus Aa Gym bahkan lebih miris, hanya karena poligami yang jelas-jelas diperbolehkan Islam, beliau menjadi kehilangan “legitimasi”. Banyak yang tak mau mendengar beliau lagi, seruan beliau di Pilpres untuk mendukung Prabowo diacuhkan ummat. Kasus Ustadz Yusuf Mansur juga kurang lebih sama, sama-sama korban media yang seperti menjadikan beliau kambing hitam atas kasus Marshanda.

Akhirnya, saya harus menyampaikan rindu kepada ulama-ulama terdahulu yang berhasil mempertahankan nilai-nilai islam ditengah arus deislamisasi yang tak kunjung selesai. Semoga ulama saat ini mampu menjadi sosok yang dipatuhi kembali oleh masyarakat agar ummat islam mampu kembali kepada siapa yang seharusnya mereka jadikan rujukan.

Wallahu ‘alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s