Kenangan Ramadhan 1435 H

Aku senantiasa merasa Ramadhan di masa kecilku adalah Ramadhan yang terbaik. Di setiap kenangan-kenangan yang terselip, ada moment yang tak tergantikan, takkan terulang. Tetapi Ramadhan-Ramadhan selanjutnya tidaklah buruk, yang paling terkenang adalah ketika aku dipercaya menjadi ketua panitia Ramadhan di SMK ku dulu. Banyak hal yang kupelajari terutama leadership yang akhirnya terbawa hingga bangku kuliah.

Tidak hanya kenangan lama, kenangan Ramadhan tahun ini (1435 H) juga istimewa. Moment-moment besar berpas-pasan dengan Ramadhan. Yang pertama adalah moment Piala Dunia, ajang sepakbola dunia empat tahunan ini harus berpas-pasan dengan bulan puasa setelah terakhirkali terjadi pada tahun 80’an. Keberpas-pasan ini banyak menimbulkan kebimbangan pada diri pesepakbola muslim yang berpartisipasi di Piala Dunia, sehingga ada yang memutuskan untuk tidak berpuasa tahun ini. Namun ternyata Piala Dunia saat Ramadhan menunjukkan berkahnya kepada para pemain Muslim, sebut saja Karim Benzema striker timnas Perancis yang tampil tajam di turnamen ini, kemudian ada timnas Aljazair yang berhasil menembus babak 16 besar dan hanya kalah dari Timnas Jerman yang kemudian keluar sebagai juara, bahkan kemenangan timnas Jerman harus didapatkan melalui babak perpanjangan waktu. Yang terakhir tentu saja Timnas Jerman, tim dari negara sekuler ini berisikan beberapa pemain muslim seperti Mesut Ozil, Sami Khedira dan Skhodran Mustafi. Tim ini akhirnya berhasil keluar sebagai juara Piala Dunia 2014 secara fantastis dengan membantai tuan rumah Brazil 7.1 dan mengalahkan superioritas Lionel Messi di final.

Menyenangan rasanya ketika sahur ditemani acara favorite yaitu tayangan sepakbola di saat acara-acara sahur di televisi lain sudah mulai kehilangan kualitasnya. Dan seperti nama Jerman yang tercatat dalan sejarah sebagai pemegang gelar Juara Dunia empat kali, Ramadhan ini tentu akan terekam pula di hati dan ingatan setiap muslim penyuka sepakbola apatah lagi para pemainnya.

Moment lainnya adalah Pemilihan Presiden Republik Indonesia yang ke 7 pada tanggal 4 Juli. Banyak hal yang membuat Pilpres kali ini istimewa, yang pertama tentu momentnya yang bertepatan dengan Ramadhan, kemudian faktor peserta Pilpres yang hanya dua dan mewakili dua ideologi yang saling berseberangan, terakhir ada faktor pemilih yang kian cerdas karena didominasi oleh masyarakat yang disebut oleh Ustadz Anis Matta sebagai Native Democracy atau masyarakat asli demokrasi, yang memiliki pemikiran terbuka dan lantang dalam menyuarakan aspirasinya. Kondisi ini membuat Pilpres 2014 menjadi panas, dipenuhi dengan perdebatan yang akan semakin menumbuhkan kedewasaan masyarakat dalam berdemokrasi. Hingga pasca Lebaran ini rangkaian proses Pilpres masih belum usai, ada proses terakhir yaitu semcam “pengujian” sang pemenang sesungguhnya lewat hak hukum yang digunakan salah satu peserta Pilpres.

Dalam moment Pilpres ini pula Aku dipercaya menjadi salah satu kontributor di salah satu pihak peserta Pilpres, ada satu hal yang membuat tugas ini indah, yaitu ukhuwah islamiah yang jarang didapatkan pada moment-moment lainnya. Moment Ramadhan membuat kami lebih sering ifthar di DPC dan hal-hal lain yang membuat kebersamaan kami semakin kuat.

Momen selanjutnya adalah sesuatu yang membuat hati setiap orang teriris, tidak peduli Ia muslim atau tidak. Pembantaian yang dilakukan oleh Zionis “Israel” terhadap penduduk Gaza bertepatan dengan bulan puasa, bahkan Lebaranpun tidak membuat serangan terhenti. Targetnya jelas, anak-anak dan para wanita dengan tujuan memutus generasi penerus Palestina. Namun pihak Zionis tetap bersikeras bahwa yang mereka serang adalah para pejuang Gaza. Krisis kemanusiaan yang parah ini membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah rasa kemanusiaan telah benar-benar hilang di benak para Zionis?

Banyak pihak akhirnya terpanggil untuk membantu rakyat Gaza sebisanya, kamipun berupaya menggalang dana di jalanan, namun tetap saja rasanya kurang, penderitaan di Gaza terlalu besar untuk direspon dengan tindakan kecil dari kami ini. Pasca lebaran meski serangan Zionis belum berakhir namun pemberitaan Gaza justru kian berkurang, permainan opini media mencuat, isu ISIS di blow up secara berlebihan sehingga banyak mengalihkan perhatian Ummat. Kita bermimpi suatu saat dapat memiliki media televisi sendiri sehingga tidak harus mendengar ocehan media sekuler lagi.

Terakhir, ada moment pribadi yang cukup berharga bagiku. Pertamakalinya menyetir keluar kota dari kota Taluk Kuantan ke Pekanbaru. Alhamdulillah feel nya udah dapat, tinggal penambahan jam terbang, ini yang sulit, karena kesempatan masih sangat minim ditengah tuntutan yang kian membesar.

Ramadhan 2014 takkan terlupa, semoga dapat dipertemukan dalam Ramadhan yang lebih indah lagi di kemudian hari.

Pekanbaru, 15 Syawal 1435 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s