Ramadhan, kontekstual dan tradisi

Apa yang kita rasakan ketika memasuki penguhujung bulan Ramadhan? Sedih? Gembira? Sedih boleh saja, para ulama juga menangis sejadi-jadinya saat Ramadhan pergi, mereka bahkan berharap Ramadhan dapat berlangsung setiap bulan agar pahala dan ampunan senantiasa berlipat. Lalu jika bergembira? Tentu boleh juga, ini hari raya, hari kemenangan kita.

Ketika Ramadhan datang, kita dianjurkan untuk berbahagia agar pintu syurga terbuka, padahal bagaimana mau berbahagia? Di bulan itu kita harus rela kelaparan sepanjang siang, harus tidur larut karena tarawih dan tadarus juga harus bangun cepat untuk sahur. Satu jawaban utama untuk hal ini, yaitu iman, kepercayaan bahwa segala amal yang dilakukan itu akan mendapat ganjaran berlipat di bulan Ramadhan dan akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Celakanya jawaban ini tidak cukup bagi sebahagian orang, terutama bagi yang masih kecil, tapi kenapa mereka masih bergembira? Di sinilah peran tradisi. Ada tradisi tak tergantikan di bulan Ramadhan yang membuat hati akan selalu rindu pada bulan Ramadhan, mulai dari ta’jil buka puasa, kebersamaan dalam tarawih dan tadarus hingga suasana hari-harinya yang penuh lantunan tilawah hampir setiap saat. Ketika kecil, salah satu alasan saya menantikan Ramadhan adalah saat selesai shubuh, bagi orang lain populer di sebut asmara shubuh (asbuh) beruntung kami tidak pernah melakukan praktek maksiat itu, kami punya istilah sendiri yaitu meraton (marathon) kami punya kebiasaan berjalan-jalan ke tempat yang cukup jauh bagi kami saat kecil, jiwa petualang kami yang sangat besar menjadi begitu bergelora. Kemudian satu hal kecil lain yang tidak bisa di lewatkan, program-program televisi, Ini adalah salah satu penghias Ramadhan, hanya saja sangat disayangkan kualitasnya semakin menurun dari tahun ke tahun, terutama terkait konten.

Di luar itu ada tradisi lain yang lebih besar, seperti balimau, mudik, bikin kue hingga maaf-maafan di hari raya. Semua ini berada di luar konsep asli islam tentang Ramadhan dan Lebaran, bahkan tradisi maaf-memaafkan berdasar dari hadits palsu (terjadi kesalahan redaksi kalimat haditsnya). Lalu bagaimana kita menyikapi ini? Bid’ah? Lalu kita wajib menjauhi karena amalannya akan tertolak? Menyikapi hal ini memang perlu mengkaji lebih, kadang suatu hujjah (dasar dalam menetapkan hukum) tidak hanya harus difahami dari konteks redaksinya, perlu difahami maksud tersirat maupun tersurat. Para ulama fiqih juga memasukkan faktor tradisi-budaya (al-urf) dalam salah satu instrumen penting ilmu fiqih. Dan menurut saya tradisi-tradisi di atas tidak salah, hanya saja timing dan positioning nya yang banyak tidak tepat. Tradisi balimau contohnya, dimaksudkan untuk membersihkan diri dalam memasuki bulan yang suci, positioningnya malah menjadi tradisi kehindu-hinduan (kabarnya tradisi ini memang bentuk percampuran dengan budaya hindu) lelaki-perempuan bercampur-campur mandi di sungai, bahkan peserta tradisi banyak yang tidak sholat ashar dan maghrib, padahal jika dikembalikan ke maksud awal ini akan bagus. kemudian tradisi membuat kue dan mudik, tradisi ini banyak dilaksanakan pada hari-hari terakhir Ramadhan, akibatnya waktu untuk memperbanyak ibadah dan I’tikaf jadi tergadai, alangkah baiknya pembuatan kue dapat dilakukan management waktu yang tidak memakan banyak waktu ibadah, kemudian timing mudik sebaiknya dilakukan setelah sholat Ied sehingga perjalananpun juga tidak terasa berat karena berpuasa.

Dalam fenomena syariat-tradisi Ramadhan-Lebaran yang terjadi di masyarakat Indonesia ini dapat ditarik kesimpulan yang menjadikan esensi Ramadhan sebagai fokus ibadah vertikal dan Lebaran sebagai fokus ibadah horizontal, sehingga terjadi keseimbangan hubungan dengan Allah dan sesama manusia, faktor syariat-adat/tradisi telah menjadi percampuran yang indah dan brilian sejak islam masuk ke nusantara dengan tetap menaruh syariat berada di atas adat dan membuang tradisi yang bertentangan dengan syariat. Memang masih banyak percampuran yang membuat tradisi mengotori syariat, ini jadi tugas berat pengemban dakwah. Faktor-faktor essensial jangan sampai tergerus hanya karena dakwah yang (maaf) serampangan karena kekurang luasan ilmu agama.

Akhir kata, selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

Dari: Fauzil Hasdi dan keluarga besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s