Lebaran dan Gaza

Aku menatap setiap darah itu, setiap tubuh kaku itu, setiap tangan yang terlepas dari pundak, setiap tubuh yang terkoyak-koyak. Aku dengar tangisan itu, raungan kesedihan tak terkira itu. Aku, seperti manusia lainnya yang berhasil tetap bersikap seperti manusia, tak mampu menahan sedih, gundah, marah dan gelisah. Akupun ikut bertanya-tanya, bilakah ini akan berakhir? Lalu aku tersadar, pertempuran antara baik dan buruk akan selalu ada, jika tidak ada yang dinilai buruk, mungkin akan tiada pula yang dinilai baik. Tapi, akankah selalu menumpahkan darah? Manusia modern telah faham arti ketenangan, seluruh manusia ingin damai, setara, bebas dan bahagia. Tapi semuanya seperti berstandar ganda, tenang tidak hanya berarti tidak adanya huru-hara, bagi sebagian orang mungkin tenang dapat berarti kepuasan setelah melihat lawannya dihancurkan. Setara tidak lagi hanya bersinonimkan adil, tapi bagi sebahagian orang dapat pula berarti keteracak-acakan hak dan kewajiban. Bahkan bahagia, bagi sebahagian orang terutama yang di sana mungkin kini berarti pertumpahan darah dari orang-orang yang tanahnya mereka rebut.

Aku bermunanjat hampir setiap malam Ramadhan agar Palestina tidak berdarah lagi saat Lebaran. Tapi berita-berita yang tersampaikan berucap lain. Lalu aku teringat lagi takdir itu. Allah selalu punya cara lain yang lebih indah. Mereka akan berlebaran di syurga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s