Malam Ramadhan

Aku berkawan dengan sejumput sesal, sesal yang tak tahu dari mana dan pada siapa. Ia selalu menemani tapi hanya menambah sepi. Di malam-malam Ramadhan ini tak pelak sesal itu menjadi sebongkah, bongkahan besar yang terus memberat dan semakin memberat. Di malam Ramadhan ini ingin kumenangis seperti dulu, seperti dulu tangisku tertumpah dalam munanjat-munanjatku ketika bersujud. Tapi kini tangisku adalah ketika aku tersungkur tak mampu seperti dahulu. Bongkahan sesal itu semakin memberat menekuk pundakku, Apatah lagi ketika kutahu Ramadhan akan pergi lagi.

Akupun berkawan dengan sejuta angan, begitu banyak angan hingga aku tak mampu merincinya apatah lagi mencapainya. Di malam Ramadhan selalu kusampaikan setiap angan, maluku memang telah hilang karena hanya selalu berangan. Anganku mungkin sebanyak bintang di langit, ia juga terasa sangat tinggi dan jauh seperti bintang-bintang itu, hingga kuputuskan untuk menjadikannya penghias pula di langit-langit khayalku, agar ketika aku benar-benar sadar aku tak mampu menggapainya, aku masih bisa memandangi indahnya.

Ramadhan, jika masih ada tempat dipunggungmu, ingin kuikat setiap sesal dan anganku dan kutaruh di situ. Lalu bawa ia dengan sayapmu, aku tahu kau akan terbang jauh, aku tahu kau akan kembali ke sini, tapi aku tak tahu apakah aku masih di sini saat kau kembali. Bawa sesal dan anganku duhai bulan penuh berkah, dan biarkan mereka yang akan kembali menjemputku di sini menuju alam kebahagiaan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s