Remaja vs Rem aja

Di sekolah teman-teman mungkin ada yang pernah dengar tentang celetukan “dibina atau dibinasakan”, ini mungkin pilihan paling terakhir bagi seorang pendidik kepada binaannya. Kehidupan remaja memang begitu bergejolak, seperti sebuah sepeda motor yang melaju kencang, pilihannya memeperlambat kecepatan atau dihentikan. Soalnya kalau nabrak mungkin gak cuma pengendaranya yang celaka tapi orang lain juga. Ya seperti anak-anak yang nakal, kenakalannya akan selalu memberikan dampak buruk bagi teman-temannya yang lain, pilihan bagi guru adalah membinanya lebih ekstra atau. Mengeremnya (men Drop-Out). Begitulah masa remaja, begitu bergejolak tapi bukan jadi alasan untuk bernakal-nakal ria sehingga jadi anak yang di rem aja. Kamu harus bisa jadi remaja, bukan jadi yang di rem aja.

Problematika masa remaja ini memang sangat kompleks ya, ditengah pencarian jati diri yang memerlukan proses berliku, remaja dituntut mampu mengendalikan diri dengan baik agar terhindar dari jalan yang sesat. Ribet banget memang, abang juga ngerasain itu dulu (ya iya lah, masa langsung loncat dari anak-anak ke dewasa) abang bahkan pernah ngerasain gimana itu salah pergaulan, tapi alhamdulillah akhirnya abang sampai juga ke jalan dakwah yang menentramkan. Orang tua kita-kita juga pasti pernah merasakan apa yang kita rasakan sekarang, tapi memang perbedaan jaman yang cukup jauh membuat problematika yang kita hadapi dengan mereka akan sangat berbeda, jadi tidak sedikit orang tua yang gak bisa faham masalah anaknya. (Lha, jadi gimana dong?) Makanya kamu harus mandiri, ini saatnya kamu mulai dituntut mengurus diri kamu sendiri, masa muda kamu ya kamu yang menentukan.

Masih teringat jelas perkataan guru SMP abang dulu bahwa para ABG itu adalah orang-orang paling narsis. Yang cantik ngerasa paling cantik, yang ganteng ngerasa paling ganteng, yang jagoan ngerasa paling jagoan. Atau dengan bahasa lain yang lebih populer, bahwa masa remaja itu masa yang berapi-api, hehe kayak Son Goku lagi super seiya aja ya, pake berapi-api segala. Tapi ungkapan itu memang bener sih. Nah, gejala psikologis seperti ini bisa sangat baik tapi juga bisa sangat berbahaya. Baik, karena dengan keberapi-apian itu remaja bisa mengeksploitasi dirinya semaksimal mungkin. Berbahaya, karena jika salah pergaulan dia bisa kebablasan, buktinya di tempat abang banyak anggota geng motor yang masih SMP, bahkan temen-temen abang dulu waktu SMP banyak yang ngaku pernah main ke tempat hiburan malam, bukaaan, bukan pasar malam, tapi diskotik! Iya, tempat yang banyak beredar alkohol, narkoba dan prostitusi itu loh, ih serem deh. Makanya, masa remaja itu sangat menentukan hidup kita kedepan, kita harus hati-hati menentukan setiap langkah sedetail apapun, baik itu dalam mencari teman sampai menerima pemikiran-pemikiran tertentu.

Dalam mengarahkan remaja dalam mengarungi kehidupannya yang sangat menentukan ini, kita berharap banyak pada pendidikan di sekolah, sayang sistem pendidikan mainstream di Indonesia memang masih kurang mendukung untuk pendidikan karakter remaja. Abang sendiri yang ngalamin dulu rasanya kuraaang banget. Sementara pendidikan keagamaan hanya sampai TPA, abis khatam, yaudah selesai gitu aja, akibatnya banyak anak yang khatam TPA gak pernah ngaji lagi, parah euy, paraaah. Nah salah satu cara untuk tetap di jalan yang benar, ada beberapa cara yang bisa teman-teman tempuh. Yang pertama: kalau di sekolah kamu ada kegiatan ekstrakulikuler, ikut aja, jangan takut waktu liburan kamu termakan, kalau kita fikir-fikir lagi, waktu libur itu justru lebih enak dihabiskan untuk kegiatan yang bermanfaat seperti ekstrakulikuler ketimbang main-main ke sana kemari, toh cuma beberapa jam, gak sampai seharian seperti jam sekolah hari-hari biasa. Kedua: gabung ke remaja mesjid dekat rumah kamu, usahakan seaktif mungkin, jangan bengong-bengong aja di sana. Terakhir: pengendalian diri secara mandiri, bisa dengan memperbanyak baca buku-buku psikologi remaja.

Demikian, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s