Ketika wajah asli demokrasi terlihat

Suasana menjelang Pilpres 2014 kian memanas, peserta Pilpres yang hanya dua pasang menghasilkan dua kubu yang saling berhadapan langsung secara frontal. keriuhan makin kental karena kedua kubu memiliki basis masa dari pengkaderan, sehingga persaingan tidak hanya terjadi di tingkat elite tapi juga di tingkat grassroot.

Kondisi yang menghasilkan dua kubu ini juga menjadikan Pilpres Indonesia identik dengan Pilpres Amerika Serikat yang notabene adalah kiblat demokrasi dunia. Tidak hanya jumlah kontestan, akan tetapi juga suasana Pemilu yang diisi dengan perdebatan-perdebatan antar pendukung, black campaign dan atau negative campaign juga kian populer. Di sinilah mulai tampak wajah asli demokrasi, sebuah sistem yang mengagungkan kebebasan berpendapat, terkadang sankin bebasnya pendapat yang lahir itu, ada yang tanpa dasar dan bahkan menjadi fitnah. Dalam menghadapi ini bangsa Indonesia harus benar-benar siap, ada yang belum mampu mengatasi keterkejutannya atas iklim ini padahal di sinilah tempat yang tepat untuk mengasah intelegensi, beradu argumen, adu gagasan dan produk-produk akal lainnya yang pada akhirnya menghasilkan stok gagasan yang melimpah untuk membangun Indonesia. Bahwa kemudian akan terjadi perselisihan, itu memang sudah menjadi resiko, bukankah obat saja punya efek samping? Yang kita perlukan untuk menghadapi ini hanyalah kedewasaan, jangan sampai perbedaan pendapat menghasilkan perselisihan berkepanjangan apalagi memutuskan silaturahmi, jangan sampai adu argumen yang keras menghasilkan bentrokan atau tindakan anarkis lainnya. Kedewasaan sekali lagi perlu ditekankan, meski berdebat tapi ego harus dikesampingkan, jika benar katakan benar, jika salah katakan salah, jangan ada kebohongan atau cara-cara kotor lainnya. Perbedaan pendapat harus dihargai, jadikan itu stok gagasan untuk bangsa.

Dalam iklim demokrasi yang keras ini pembelajaran terus menerus mutlak diperlukan, karena kita harus benar-benar mengandalkan intelegensi. Intelegensi yang tumpul mengasilkan otak yang mudah panas dan otot yang “ringan bertindak” dan yang paling parah adalah keputusan tergesa-gesa dalam menentukan pilihan, seakan-akan Pilpres hanya melulu soal perbaikan kesahteraan, padahal ada aspek sosial, budaya dan agama yang turut dipengaruhi, orang akan tergesa-gesa menyambut serangan fajar, menyangka itulah momentum sesungguhnya bagi perbaikan ekonominya, padahal akan ada lima tahun yang tergadai, bisa jadi dalam lima tahun yang salah itu akan terjadi korupsi yang kian menggurita, mesjid-mesjid yang dirobohkan, atau hal-hal buruk lain. Dalam demokrasi kita harus siap bahwa akan ada saja “anak haram” demokrasi yang siap memancing di air keruh, mulai dari menyuap pemilih, jual beli penggelembungan suara sampai ada yang menjual keputusasaan dalam demokrasi untuk menarik simpati orang akan mimpi kosong mereka. Ya, semacam duri dalam daging dalam gerakan dakwah, tak segan menyerang sesama muslim tapi kerap acuh pada tingkah lawannya yang sebenarnya. Kita harus faham bahwa demokrasi adalah satu-satunya yang dekat dengan islam, satu-satunya ideologi yang memberi tempat bagi islam untuk masuk ke pemerintahan, kita juga harus faham bahwa islam masuk ke politik adalah untuk mendakwahi politik, bukan mempolitisir dakwah. Bayangkan jika yang berkuasa adalah rezim diktator, bahkan untuk mengajipun kita susah.

Anak-anak haram demokrasi adalah mereka yang durhaka, diberi tempat untuk leluasa berorganisasi dan menyampaikan pendapat, tapi malah menghujat sistem yang menyediakan tempat. Anak haram demokrasi lainnya adalah para mafia, yang gila jabatan, gila uang, sehingga menggunakan cara-cara kotor yang mencederai demokrasi demi mencapai ambisi pribadi.

Dan inilah wajah asli demokrasi, kebebasan dengan segala konsekuensi, kita harus terus belajar dan harus semakin dewasa agar demokrasi ini dapat mengangkat bangsa kita dan bukan malah menyebabkan chaos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s