Obati lukaku wahai pemuda

Setengah terkejut aku melihat hiruk-pikuk ini, tiba-tiba terasa ramai. Aku sebenarnya sudah menduga, tapi keterkejutan itu tetap saja mendera. Aku tak tahu harus bahagia atau bagaimana, karena semua ini selalu saja begitu cepat berubah. Mendadak ramai seperti hidayah seketika menyinari semua orang, namun seketika pula pada saatnya keramaian itu hilang, seperti hidayah itu mampu pergi secepat kilat.

Seperti pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, jama’ah memenuhiku di setiap waktu shalat, bahkan di waktu shubuh sekalipun. Tak sedikit pula yang rela bertahan di sini hingga tengah malam demi membaca kitab suci Alqur’an. Aku yang selalu dipercantik setiap tahunnya selalu bahagia di setiap Ramadhan tiba, aku tak pernah kesepian, rasanya seperti gadis cantik yang bersolek secantik-cantiknya kemudian menarik perhatian setiap pria. Ah, bukan, bukan seperti itu, itu rasanya agak hina, sementara rasa ini, rasanya begitu mulia, seperti Tuhanpun tersenyum padaku dari singgasanaNya. Namun sayang kebahagiaan ini hanya berlangsung satu bulan, dan selama rentang waktu satu bulan itu pula mereka berangsur meninggalkanku, hingga di akhir bulan mereka seketika pergi entah kemana.

Ingin rasanya aku marah, ingin rasanya aku lampiaskan perasaan dipermainkan ini. Tak tahukah mereka bahwa hakikatnya bulan Ramadhan ini adalah bulan pembelajaran, ketika mereka mampu memenuhiku selama satu bulan, harusnya mereka mampu memenuhiku pada bulan-bulan lainnya. Tak tahukah mereka bahwa seorang butapun tak diberi keringanan oleh Rasulullah saw untuk meninggalkan shalat berjamaah di mesjid.

Ah, tapi sesungguhnya hari-hariku tak begitu sepi, sesungguhnya aku selalu dibuat tersipu oleh perhatian beberapa pemuda kepadaku. Si Fahmi, sang alumni Rohis dakwah sekolah, sejak SMA Ia hampir tak pernah absen mengunjungiku, dialah wajah muda pertama yang menghiasi hari-hariku di antara wajah-wajah tua. Meskipun Ia hanya datang dan pergi setiap hari tanpa memberikan perhatian lebih kepadaku, tapi aku sudah sangat bahagia. Kemudian ada Romi, pemuda biasa, bukan aktivis dakwah sekolah apalagi dakwah kampus, akan tetapi dia merupakan alumni Ramadhan sejati, Ia mampu menyerap hakikat Ramadhan sebagai bulan tarbiyah atau bulan pembelajaran, sejak dua tahun yang lalu Ia mulai mengunjungiku setiap hari di bulan Ramadhan, Ia kemudian tak pernah absen di hari-hari berikutnya, perhatiannya kepadaku bahkan melebihi Fahmi. Yang terakhir ada Wahyu si anak baru, baru sebulan yang lalu Ia mengisi hari-hariku dengan lantunan adzannya yang merdu, Ramadhan kali ini Ia langsung ditunjuk oleh pengurus mesjid untuk menjadi pemandu anak-anak yang bertadarus setiap malamnya. Aku sangat girang akan kedatangannya, tapi aku masih menyimpan kekhawatiran, sebab dahulu Ryan juga begitu, pemuda sholeh dengan suara yang merdu tapi hanya beberapa saat Ia ada di sini, kabarnya Ia melanjutkan studinya di sebuah pesantren di Jawa sana.

Aku tahu diantara Fahmi, Romi dan Wahyu terselip keinginkan berkompetisi untuk berbuat kebaikan kepadaku. Aku menangkap itu terutama pada diri Fahmi, sudah sejak lama Ia mengisi hari-hariku tapi tak kunjung mampu berbuat lebih untuk umat, aku tahu beban yang Ia rasakan sebagai seorang aktivis, stigma aktivis islam masih sering tergambar negatif bahkan bagi sebagian umat islam itu sendiri. Sementara Romi, aku merasakan semangatnya yang menggebu tapi suaranya tak cukup merdu. Apa yang ada pada diri mereka berdua kini seperti terkumpul pada diri Wahyu, aku tahu mereka cemburu, tapi seharusnya mereka jadikan kecemburuan itu sebagai cambuk untuk berfastabiqul khairat, aku tak butuh berlomba bermerdu-merduan, yang aku inginkan, mereka menghidupkan kembali hari-hariku dengan kegiatan-kegiatan positif, baik di saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Aku ingin suatu saat hati setiap warga di kompleks ini bertaut kepadaku, kepada rumah Tuhan mereka, sehingga kesholehan dapat tersebar dimana-mana, kemaksiatan dapat musnah tak bersisa.

Semoga saja saat itu datang, sehingga di padang mahsyar nanti aku bisa bersaksi untuk warga di sini dengan persaksian-persaksian yang positif. Sehingga sehingga yang ada di antara kami hanyalah senyum di bawah keridoan Allah.

#NarasiSemesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s