Terminal reformasi

Hidup di era reformasi ini seperti sebuah perjalanan panjang yang melalui banyak terminal. Di setiap terminalnya kita berganti kendaraan, berganti supir dan berganti suasana perjalanan. Kini gerbang terminal selanjutnya telah mulai nampak di pelupuk mata, harapan tentunya terselip di benak setiap kita untuk mendapatkan suasana perjalanan yang lebih baik.

Di era reformasi kita telah berganti “supir” tiga kali, dari mulai yang tak dapat melihat, yang ibu-ibu sampai mantan tentara yang agak lamban. Puji syukur pantas kita panjatkan kepada Tuhan karena jikapun ada kebijakan tidak pro rakyat di antara “supir-supir” kita ini, tapi kita masih bisa makan dengan cukup dan masih dapat hidup dengan keadaan damai sejahtera. Meski begitu, kita tetap pantas berharap akan taraf hidup yang lebih baik pada kepemimpinan yang baru. Karena meski cekikan harga BBM belum terlalu menyesakkan, jika bertambah kuat terus-menerus tentu akan membunuh juga. Jika dalam kedamaian namun generasi muda dibunuh dengan faham liberal, pergaulan bebas dan narkoba, tentu bangsa ini akan binasa juga. Jika aliran sesat dilindungi tentu perang hanya menunggu waktunya. Permasalahan bangsa ini ibarat api dalam sekam, tak nampak namun sesungguhnya begitu besar, Ia dapat meledak kapan saja jika tersulut sesedikit apapun bensinnya.

Era reformasi masih merupakan era yang labil, belum mampu memunculkan karakter kuat sebagai jati diri bangsa, ini merupakan konsekuensi dari sebuah bangsa yang masih belajar berdemokrasi. Di satu sisi kita merindukan karakter kuat bangsa kita yang lahir dari karakter kuat pemimpin kita di era sebelum reformasi, tapi di sisi lain ada trauma sosial di era sebelum reformasi itu sehingga kita seakan menggadaikan karakter kuat itu untuk mengobati trauma sosial kita. Namun era reformasi selalu menghadirkan harapan baru, pemimpin yang akan terpilih diharapkan mampu meramu sisi-sisi positif dari era sebelum dan sesudah reformasi menjadi sebuah sintesa sehingga bangsa ini dapat tetap berkarakter dan tetap menjunjung kebebasan.

Dua kandidat yang maju di “terminal” 2014 ini memiliki karakter yang jauh berbeda, ini sangat memudahkan rakyat untuk menentukan “supir” yang sesuai kebutuhan. Terlepas dari latar belakang dan hal-hal dibalik pencalonan kedua kubu, kehadiran nama-nama yang menjadi kandidat capres dan cawapres dari kedua kubu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat. Dapat dikatakan bahwa kedua kandidat itu sama baiknya, namun bangsa ini tidak butuh pemimpin yang sekedar baik, negeri ini butuh pemimpin yang tepat. Penyakit dalam tidak dapat disembuhkan dengan obat luar meski sama-sama obat.

Untuk menentukan pemimpin yang tepat kita semua sudah tahu caranya, teliti latar belakangnya baik berupa kisah hidup, prestasi hingga karakternya. Kita dapat menilai langsung lewat visi misinya dan bahkan kini kita juga lebih mudah dalam mendapatkan info seimbang dari kedua pasangan calon, jika ingin berita negatifnya tinggal setel di satu stasiun tv, jika ingin berita positifnya tinggal setel stasiun tv yang satu lagi. Dalam memilih hendaklah mendahulukan hati nurani dan jangan lupa meminta petunjuk kepada Tuhan. Yang terakhir, jangan hancurkan masa depan bangsa dengan “memilih siapa yang menyogok anda”

Sebelum anda memilih, perlu dicamkan bahwa harga bahan pokok, harga susu bagi anak-anak kita dan subsidi BBM akan dipengaruhi oleh orang yang akan kita pilih. Perlu dicamkan pula bahwa moral bangsa secara tidak langsung juga berada dibawah kendali orang yang akan kita pilih. Jadi jangan asal pilih, jangan mudah masuk kedalam “jebakan betmen” seperti suap atau iming-iming tertentu.

Selamat datang di terminal reformasi 2014. Pilihlah dengan teliti siapa supir selanjutnya, salah pilih supir akan membuat anda kecelakaan, sementara supir yang tepat akan membuat perjalanan anda nyaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s