Bukan tak dianggap

Belakangan ini langit selalu murung, terkadang ia menangis meraung-raung. Sama persis seperti hatiku yang bingung. Aku Dimas, seorang lelaki yang cintanya terkatung-katung. Lelah ku mencari sebuah cinta, ketika aku mengira telah menemukannya, ternyata Ia tak seindah yang kukira. Entahlah, apakah ini benar-benar cinta atau bukan.

Meri nama wanita itu. Ketika pertama kumelihatnya, langsung bergetar hatiku. Langsung saja kucari segala cara untuk mendekatinya. Walaupun sulit dan harus bersaing dengan para lelaki lainnya, tapi aku berhasil. Entah kenapa dia akhirnya memilihku, padahal aku hanya lelaki biasa dengan fisik seadanya dan tak pula kaya raya.

Kisah ini ternyata indah di awalnya saja. Ada jurang yang cukup dalam antara Si wanita populer dan Si lelaki biasa ini. Pada perjalanan cinta kami, aku gagal memenuhi ekspektasinya. Hingga akhirnya Ia perlahan berpaling, tak menganggapku lagi. Aku mencoba protes, meminta pengertian darinya, namun lagi-lagi aku harus menjadi pihak yang mengalah. Aku lelaki, harus mau mengalah pada wanita, akupun sadar, Ia bisa saja dengan mudah berpaling dan menjalin cinta dengan orang selainku. Sementara aku, aku tidak yakin ada wanita lain yang bisa “khilaf” seperti dia memilihku.

Ketika berpas-pasan di depan sekolah, aku mencegat Meri dan lantas bertanya “Meri, kamu kenapa sih? Aku telfon gak diangkat, sms gak dibalas.”
Meri tak menjawab pertanyaanku, Ia berlalu saja, kemudian masuk kedalam mobil ayahnya yang menjemput. Aku sangat kesal, berkali-kali sudah hal itu terjadi, ingin kuputuskan saja jalinan cinta ini, namun aku selalu ragu-ragu.

Suatu ketika setelah senam sabtu pagi, Meri terlihat lelah dan kemudian duduk di sebuah bangku di taman sekolah. Aku menghampirinya, dan kusodorkan segelas air mineral dingin. Ia tampak terkejut, namun diambilnya juga air minum itu, meski dengan ragu-ragu. Ia mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu kembali. Aku menjadi bingung, bercampur sedih dan marah. Kali ini aku memilih untuk merenung, mencoba menjarak sedikit kepadanya sambil menunggu waktu, barangkali aku benar-benar bisa membulatkan tekad untuk memutuskan cinta kami.

Seminggu berlalu, aku bahkan tidak pernah lagi melongok ke kelas Meri seperti yang biasanya aku lakukan setiap jam istirahat, aku tak tahu kabarnya sehingga rasa rinduku memuncak, aku tak tahan lagi untuk sekedar mengirim sms kepadanya, segera kurogoh sakuku. Namun ternyata handphone milikku lebih dulu bergetar, itu sms dari Meri. Ia mengajak bertemu sepulang sekolah di belakang kantin, aku seketika sumringah tak sabar menunggu pulang, “ah, akhirnya ia menyadari kesalahannya” ucapku dalam riangku.

Bel sekolah berbunyi, aku menjadi yang paling dahulu keluar kelas setelah dipersilahkan oleh guru, setengah berlari aku tuju belakang kantin dan, tampak wanita berkerudung panjang, aku tak tahu itu siapa, setelah aku dekati, Dia, dia ternyata Meri, ini kan bukan hari jum’at, kenapa dia berkerudung? Sejak kapan? Kerudungnya panjang pula.

“Dimas” suara lembut itu akhirnya tertutur, sudah lama rasanya tak kudengar.

“Mm, Meri. Sudah seminggu kita tak komunikasi, ternyata kamu sudah berubah penampilan. Aku..”

“Dimas!” Meri memotong pembicaraanku.

“Dimas, aku minta maaf atas semua ketidakjelasan ini, sebenarnya saat ini bukan hanya penampilanku yang berubah, tetapi juga sikapku dan hatiku”

“Maksud kamu?”

“Aku mulai menghindarimu karena aku sedang menimbang keputusan. Aku sudah lama memikirkan ini. Aku, aku sekarang sadar bahwa jalinan cinta kita selama ini adalah dosa, rasa yang selama ini kita sebut cinta hanyalah nafsu yang dibalut dusta.”

“Ke, kenapa begitu Meri? Sejak kapan kamu..”

“Sejak aku menjemput hidayahku Dim! Aku harap kamu juga begitu, cobalah lebih banyak mengikuti kajian-kajian keislaman, sudah banyak di tv, di mesjid bahkan di mushalla sekolah, anak Rohis selalu menggelar pengajian mentoring setiap minggunya.”

“Kamu ikutan rohis Mer? Sejak kapan?”

“Aku sudah lama ikut, hatiku terasa tenteram di sana.” Seketika hening

” Hmm.. Dim, aku putuskan untuk kita tidak berhubungan lagi, ini dosa, bagaimanapun kita menyiasatinya, Ia hanya semakin mendekatkan kita pada zina, naudzubillah.”

“Tapi Mer, aku tulus sama kamu!”

“Aku tau Dim, aku tau. Tapi dengan ini kita sudah menafikan cinta yang paling tulus pada kita, cinta dari Allah! Ia melarang kita namun kita melanggarnya. Ini sama saja air susu dibalas air tuba!”

Aku menatap mata Meri dalam-dalam, Ia kemudian menunduk. “Baiklah kalau begitu maumu Mer” suaraku merendah dan tubuhku lesu. Agak terasa sepercik amarah dalam diriku, maka aku langsung berpaling untuk pergi dari tempat itu, seketika suara Meri memanggil dari belakang.
“Dimas! Hmm.. semua yang telah kita jalani selama ini tetaplah terasa indah bagiku, meski kini kusesali. Perbaikilah dirimu, akupun masih selalu memperbaiki diriku, sesungguhnya Allah menjanjikan wanita baik untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Jika kau mau memperbaiki dirimu, mungkin Allah berkenan saat-saat yang kita jalani itu dapat terulang dalam jalinan yang diridhoiNya”

“Iya, insyaAllah Mer.” Aku menjawab dan lantas pergi.

Meri masih terpaku di tempat itu, Ia tampak mantap dengan keputusannya, namun sebagai wanita, perasaan halusnya tetap tak bisa dibohongi, sementara aku memilih pergi tanpa tujuan, sekedar berjalan menghindar dari tempat itu dengan fikiran yang kusut dan perasaan yang tercampur-aduk. Tak terasa langkahku sampai pula di depan mushalla sekolah, adzan dzuhur menyadarkanku, kulihat para anak-anak rohis telah bersiap di dalam mushalla, tatapanku tertuju kepada mereka, ingin menyalahkan mereka atas kejadian ini, tapi aku merasa ucapan-ucapan Meri itu benar, kemudian aku justru mulai merasa harus berterima kasih kepada anak-anak rohis itu dan rasanya menarik jika bisa menjadi bagian dari mereka, cukup lama aku menatap anak-anak rohis itu dengan fikiran berputar-putar, sampai ketika iqamah berkumandang, kakiku seketika tergerak berlari untuk mengambil air wudhu, aku bertekad memperbaiki diriku, semoga ini bukan karena Meri, tapi benar-benar karena kerinduanku kepada Allah.

*Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program lomba #FF2in1 @nulisbuku . sayang terlambat untuk dikirim, semoga bermanfaat untuk tetap di posting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s