Kisah kecil di Bendungan

Inilah rumah kami, pemukiman di pinggiran kota. Sebuah desa yang merupakan kompleks perumahan yang cukup luas. Kisah kami mungkin tak seindah kisah di desa-desa kecil nan penuh hiasan alam dan tak jua seperti kisah di kota besar dengan bentangan gedung-gedung nan megah.

Daerah kami bisa dibilang perpaduan yang cukup unik antara nuansa pedesaan dan suasana perkotaan. Jika menelusuri pangkal jalan raya ini, kita akan menemukan rawa, kebun-kebun masyarakat dan sungai kecil yang dibendung untuk irigasi, bahkan ketika kami kecil masih banyak terlihat warga yang berternak sapi dan kambing. Jika kita ikuti penghujung jalan, maka akan segeralah nampak suasana kota, jalanan yang padat, bus kota dan tak tertinggal polusi udaranya.

Selalu menyenangkan jika mengingat masa kecil dahulu, masa dimana tak ada beban nestapa, yang ada hanya canda dan gelak tawa. Jika terasa gundah, ada ibu sang pengobatnya.

Ketika kecil, kami sering pergi ke bendungan (sebutan kami untuk sungai kecil yang dibendung itu), kadang kami pergi untuk memancing, jika hari libur kami juga suka mandi-mandi di sana, mencoba berenang meskipun aku tidak bisa berenang dan yang paling sering kami lakukan justru duduk-duduk di tepi bendungan itu saja sambil menunggu guru TPA memanggil untuk mengaji, sebab tempat mengaji kami persis berada di tepi bendungan itu. Ada saja hal menarik yang tampak oleh kami di tepi bendungan itu, ada tumbuhan-tumbuhan yang terasa unik seperti kantung semar, jenis ganggang yang saat kecil kami sebut-sebut itu adalah rumput laut padahal jelas ia ada di sungai. Ada pula hewan-hewan seperti ikan kepala senter, kura-kura (entah milik siapa yang lepas di sana), kadang kami temukan pula biawak, ular sendok atau jenis ular lain yang membuat teman-teman lain ikut heboh bersama kami.

Masa kecil kami sungguh lugu, bahkan jika dibandingkan dengan anak-anak kecil jaman sekarang terasa terlalu polos rasanya. Tapi kami patut berbangga karena masa kecil kami masih penuh prinsip kesederhanaan, permainan-permainan yang dapat menjadi alat sosialisasi bukan seperti permainan gadget anak jaman sekarang yang sangat menguras biaya, mengurangi waktu sosial dan menyebabkan sesuatu semacam autisme.

Kini suasana di tepian bendungan sudah banyak berubah, rumah ustadz tempat kami mengaji telah dirobohkan, kayu rumah yang telah lapuk karena lama ditinggal itu dijadikan kayu bakar untuk memasak hidangan di hari raya qurban. Tempat duduk di tepian bendungan telah dipenuhi ilalang-ilalang yang tinggi dan lebat, air bendungan sudah tinggi, sehingga tak bisa lagi digunakan untuk sekedar mencoba berenang tanpa bisa berenang. Kami hadir di tempat ini tak lagi sebagai anak-anak yang gemar berlari-larian dan membuat permainan-permainan, kami tegak memandang bendungan kini antara bapak-bapak dan pemuda lainnya untuk bergotong royong, membersihkan pekarangan mesjid yang seringkali kami lakukan sebelum bulan Ramadhan masuk atau sebelum hari raya Qurban. Ada sedikit kegamangan, waktu terasa begitu cepat berlalu, teman sepermainan satu persatu menikah dan punya anak, yang lainnya bekerja, pergi merantau mengadu nasib. Akupun telah pula mencoba-coba bekerja, yang paling kusenangi adalah di musim kampanye ketika diminta bersilaturahim ke setiap warga, mengelilingi tempatku tumbuh dan besar. Aku suka tersenyum-senyum sendiri ketika teringat tempat yang kudatangi itu adalah tempat yang sering kudatangi sewaktu kecil dengan menggunakan sepeda atau berjalan kaki bersama teman-teman yang kami sebut berpetualang. Tapi terkadang miris pula ketika tidak mengetahui tentang daerah-daerah tertentu di tempat tinggalku ini, aku bahkan baru mengetahui luas dan bentangan alam yang sesungguhnya dari daerahku ini ketika bekerja di Partai. Ah, aku memang terlalu sibuk di kota selama ini, masa remajaku terlalu tersilaukan oleh kegemilangan kota sehingga terlupa akan keindahan-keindahan yang sempat kukecap saat kecil ini.

Bendungan ini, kini kutatap dari teras mesjid nan megah yang dahulu kami bermain-main di pondasinya. Sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s