Arus yang terlalu deras

Ketika melintasi tepi sungai di pinggiran kota, Danu selalu tak tahan untuk berhenti sejenak, sekedar untuk memandangi sungai dengan arusnya atau menanti jika ada sampan yang lewat. Ia suka sekali melihat orang mendayung sampan, namun di sungai ini sudah jarang orang menggunakan sampan, kendaraan air tidak lagi populer sejak ada jembatan. Sore ini arus sungai cukup deras, menghanyutkan beberapa sampah-sampah. Memang siang tadi hujan cukup deras, mungkin air-air di darat membawa oleh-oleh lebih ke sungai atau mungkin sampah itu memang sengaja dicampakkan ke sungai oleh sebagian masyarakat yang belum tercerahkan fikirannya, yang belum jera atas resiko banjir.

Danu selalu merasa tenang di tepi sungai, Ia merasa menyatu, Ia merasa hidupnya seperti air di sungai itu yang harus terseret terus-menerus tanpa mampu menentukan arahnya sendiri.

Danu adalah seorang mahasiswa semester akhir. Ya, semoga saja semester ini benar-benar akhir, karena Ia tak tahu apa jadinya jika harus menambah semester lagi. Sebenarnya Ia cukup beruntung mampu bertahan sejauh ini, karena Ia tak pernah menginginkan kuliah di kampus itu dan jurusan itu. Derasnya keinginan orangtua membuatnya harus terbawa hanyut. Selama kuliah Ia terombang-ambing bersama rekan-rekan senasibnya, rekan-rekan itu sebagian telah tersangkut di salah satu tepian dan ada pula yang terbawa arus lain, mereka telah menentukan pilihan lain dengan resiko masing-masing, sementara Danu masih memilih terus mengikuti alur, sekedar ingin memastikan akan sampai di muara untuk kemudian terlepas bebas seperti air sungai yang bermuara ke laut.

Tak ada yang salah dengan kampus ini dan tak ada yang perlu di salahkan pada keadaan, karena keadaan atau takdir merupakan kehendak Yang Kuasa yang selalu menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. Yang salah adalah kami mahasiswa-mahasiswa salah alamat, yang tersesat namun tak mampu kembali ke tujuan awal. Kami seharusnya mampu menjadi seperti ikan, yang dengan arus yang deras justru membuatnya lebih tangguh. Kami, kenyataannya hanya menjadi seperti sampah yang dibuang oleh orang-orang itu, yang hina dina, yang terombang-ambing tidak jelas.

Danu sebenarnya bukan tidak berupaya. Banyak cara telah ditempuhnya untuk menjadi sampan yang mampu menentukan arah, baik bagi sesama yang terombang-ambing maupun untuk dirinya sendiri. Di luar kegiatan formal perkuliahan didirikannya organisasi, kelompok belajar dan juga Ia geluti beberapa hobi lama yang sempat tertinggalkan. Tapi apa daya, arusnya lagi-lagi terlalu deras. Sampan-sampannya hampir karam yang akhirnya membuatnya tetap saja terombang-ambing seperti sampah.

Danu sering cukup lama duduk di tepian sungai, sore itu duduk lebih lama dari biasanya, barangkali karena cukup banyak hal yang Ia renungi di sana. Sampai Ia tersentak oleh seruan adzan maghrib. Cahaya mentari jingga seperti mengintip di belakang pohon di seberang sungai, seperti tersenyum padanya, begitu indah, begitu teduh seperti tatapan teduh ibunya saat Ia masih kecil yang selalu memberikan solusi atas segala permasalahannya. Kinipun Ia serasa mendapat cahaya kembali, Ia sambut panggilan adzan dan kemudian menghadap Sang pemiliknya, Sang Mahakuasa, Sang pemegang takdir setiap makhluk-Nya. Akan selalu ada akhir yang indah jika kita bersama Allah.

Selesai

Fauzil
1 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s