Inilah perjuanganku wahai paman yang memboncengku

Pada suatu senja nan elok, mentari mulai berbaring dengan indahnya, pancaran sinar jingganya bak sedang menyingkapkan tirai menutup peraduan, alam yang begitu indah ditambah alunan adzan maghrib nan syahdu. Namun seperti tak menghiraukan semua sajian alam, langkahku menuju mesjid terasa kaku, takdirku tak sesuai inginku, hatiku terasa membeku. Siapakah yang ingin menempuh pendidikan tinggi di tempat yang tidak populer? Di Universitas yang bahkan tidak diketahui orang banyak keberadaannya? Sama sekali jauh dari apa yang kubayangkan saat sekolah.

Dalam langkahku yang kaku, berhenti sebuah motor di sebelahku, sang pengendara tersenyum ramah dan kemudian berkata “ayuk kita bareng ke mesjid” tanpa basa-basi ku-iya-kan ajakan itu, meski aku lebih suka berjalan kaki demi mengejar keutama’an dari hadits itu “satu langkah kaki orang yang berwudhu menuju mesjid dihitung satu ampunan satu rahmat”

Sang Paman nan ramah seperti biasa menanyakan kabarku di atas kendaraannya. Kali ini pertanyaannya cukup menohok, tentang hal yang kugalaukan selama berjalan kaki tadi, Akupun menjawab “yah begitulah om, diterimanya di universitas itu” kataku dengan lesu, “jangan lesu begitu, kampus itu tidak selamanya berpengaruh, yang penting orangnya, punya kemauan berkembang atau tidak? Kalau kemauannya kuat insyaAllah tetap akan jadi orang sukses nantinya” tambah paman itu.

Akupun tercenung beberapa saat, sampai tiba di mesjid dan berucap terima kasih, fikiranku menjadi bergejolak, galauku mulai tersingkap motivasi. Seusai sholat, kumunanjatkan agar bahuku lebih kuat dalam memikul beban hidup, aku harus bersiap memikul beban itu, jika kampusku tak dikenal, maka akan aku kenalkan kalau perlu ke seluruh dunia. Kalau kampusku tak cukup bisa bersaing, maka akan kuberikan daya saing lewat prestasi-prestasiku. Kalau kampusku tak cukup islami, maka akulah da’inya yang akan menggarap lahan dakwah dan memupuk bibit tarbiyah di ‘tanah lapang’ itu.

Azam telah terpancang, semangat telah berkobar. Seiring perjalanan waktu, telah kupelajari banyak hal, telah kuikuti berbagai lomba dan telah kudirikan lembaga dakwah kampus. Kini kampusku telah cukup dikenal, meski belum ada prestasi yang kubawa, setidaknya aku telah menjadi saksi langsung temanku sesama peserta lomba mengharumkan nama kampus di tingkat Sumatra. Meski dakwah kampusku belum berjalan dengan semestinya, aku bahagia masih mampu bertahan memperjuangkan dakwah kampus di Universitasku meski banyak sekali keterbatasanku.

Azzamku empat tahun yang lalu telah kujalankan, jalan yang terjal telah kulalui, Allah sangat sayang sehingga membuat bahuku cukup kuat untuk bertahan sejauh ini, meski aku tak tahu apakah akan cukup kuat untuk terus berlanjut nanti. Yang jelas dakwah kampusku harus memiliki bahu baru yang memikul.

Inilah perjuanganku wahai paman yang memboncengku. Sejauh ini mungkin yang aku bisa, aku bahkan tak mampu lulus tepat waktu, tapi aku tahu Allah takkan menyia-nyiakan usahaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s