Menjadi Riau sejati

Hingga masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, masih santer terdengar dengung-dengung “Riau merdeka” dari para tokoh-tokoh Riau. Sebuah seruan yang masuk akal melihat kontrasnya kesejahteraan masyarakat Riau dengan sumber daya alam yang dimiliki. Namun pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dengung itu mulai tak terdengar lagi, sebuah kabar gembira bagi rasa nasionalisme, tapi apakah menjadi kabar gembira pula bagi kesejahteraan yang menjadi tema utama gerakan itu?

Selain dari peran pemerintah yang cukup pro aktif dalam meyakinkan daerah-daerah yang ingin lepas (selain Riau, ada Kaltim, Papua dan Maluku selatan) untuk tetap bersatu dalam bingkai NKRI, penyebab hilangnya gerakan Riau merdeka dikarenakan ketidakkompakan dari dalam, pada saat bersamaan Kabupaten kepulauan Riau ingin menjadi Provinsi baru, isu Riau merdeka malah menjadi penambah nilai tawar bagi kepri ke pemerintah pusat untuk segera melakukan pemekaran. Penyebab lainnya adalah elemen-elemen dari masyarakat Riau sendiri, banyak yang belum mendengar tentang gerakan Riau merdeka. Ketidakpedulian masyarakat kepada dinamika pemerintahan Riau menjadi satu point penting dalam catatan saya kali ini.

Tentang gerakan Riau merdeka bukanlah pointnya, akan tetapi pointnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat Riau, bagaimana mendapatkan harga yang pantas dari minyak bumi dan hutan-hutan Riau yang dieksploitasi asing. Gerakan Riau Merdeka adalah salah satu upaya, kegagalannya hanyalah pembuktian sikap acuh masyarakat Riau.

Ketidakseriusan ini menurut saya akibat dari masyarakat Riau itu sendiri yang belum sepenuhnya menjadi Riau. Masyarakat asli punya watak dasar tidak peduli dan masyarakat pendatang tidak punya rasa memiliki. “Orang kaya” punya gap sangat jauh dengan “orang miskin” tapi tidak punya kepedulian. Banyak kompleks elit di Pekanbaru, tapi lebih banyak perkampungan sederhana di pinggiran kota. Gap yang terlalu jauh sehingga sebagian merasa nyaman dengan keadaan sekarang, tanpa peduli atau tidak tahu sama sekali dengan keadaan saudaranya yang lain.

Menjadi Riau bukanlah dengan berpura-pura kemelayuan, menjadi Riau juga sebenarnya tidak perlu menjadi negara sendiri, menjadi Riau cukup dengan ikrar “Aku orang Riau!” Yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pejabat yang menjadi Riau akan peduli dengan perkembangan daerah, tidak memain-mainkan fasilitas krusial seperti jembatan Siak yang sepertinya hanya dijadikan hiasan PON belaka. Pejabat yang menjadi Riau tidak melakukan kebijakan pro-koruptor dengan membangun fasilitas olahraga atau MTQ yang uang pembangunannya terselit-selip di kantongnya, fasilitas yang dibangunpun ujung-ujungnya menjadi lahan maksiat. Pejabat yang menjadi Riau akan sangat memperhatikan pembangunan potensi Riau yang luar biasa. Pejabat yang menjadi Riau akan memelihara dan mensosialisasikan kesenian Riau yang kian tenggelam, meskipun tidak semenarik dan sepopuler seni daerah lain, tapi seni adalah identitas agar Riau dikenal oleh dunia.

Sementara masyarakat umum yang menjadi Riau, akan menjaga setiap fasilitas umum, peduli pada alam Riau, memperhatikan setiap perkembangan daerah dan bersikap kritis jika terjadi kejanggalan dan penyelewengan.

Menjadi Riau adalah bersatunya masyarakat menjadi Riau sejati, yang memiliki marwah dan martabat. sehingga aspirasi daerah Riau dapat lebih didengar pusat, sehingga ruang gerak koruptor lebih sempit, sehingga money politik dan kecurangan pemilu lain tak mampu berkembang.

Dengan menjadi Riau, maka perjuangan menuntut hak keseimbangan ekploitasi SDA dengan kesejahteraan seluruh masyarakat Riau akan lebih “bergigi”.

Dan menjadi Riau, adalah memahami nafas islam di dalam setiap norma di Riau. Sehingga nilai-nilai yang dibangun dalam identitas sebagai orang Riau dapat berjalan konsisten dengan reward-nya tidak hanya kesejahteraan di dunia, tapi juga di syurga.

Inti dari menjadi Riau sejati adalah persatuan yang sebenar-benar persatuan, perbedaan justru menjadi nilai tambah untuk saling mengisi dan bukan menjadi alat pemecah belah. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang berdiri paling depan dalam memperjuangkan nasib daerah harus bisa menyerap semua ini, libatkan pemuka masyarakat, pemuka agama bahkan pemuka adat sehingga cara-cara kurang populer dapat dihindari.

Semoga bermanfaat.

Wallahu ‘alam bishawab

4 pemikiran pada “Menjadi Riau sejati

  1. Wah, saya baru tahu kalau beberapa warga Riau menuntut kemerdekaan. Sebenarnya nggak hanya di Riau sih, di Jawa juga begitu. Ambil contohnya di Jawa Tengah atau di Jawa Barat, mayoritas warga masih mengandalkan mata pencaharian dari bertani dan berkebun. Tinggalnya tentu di desa yang jauh dari kemajuan pembangunan kota. Yang seperti ini kan juga menimbulkan gap yang cukup lebar. Padahal ya klo dipikir2, para orang2 kaya itu pun kan juga tidak bisa hidup kalau tidak dibantu oleh warga kecil. Demikianlah…

    • Semoga pemimpin baru yang akan terpilih tahun ini mampu membangkitkan kembali nasionalisme bangsa dan melakukan pemerataan kesejahteraan.

  2. pilihlah wakil wilayah yang mempunyai asas agama yang kuat agar bisa membawa kemajuan. saya sebagai rakyat malaysia tak ingin melihat runtuhnya indonesia oleh masalah dalamannya, bawalah berbincang presiden kamu agar setiap hasil negara kamu agar dibagi samarata setiap wilayah agar kemajuan dapat dinikmati oleh setiap warganya…bila ada kemajuan rakyat akan makmur… kemakmuran rakyat adalah kemajuan ekonomi… keamanan kunci kemajuan

    • InsyaAllah, kami tengah ikhtiar, semoga Allah berkenan memberi kami pemimpin yang terbaik. Terima kasih saudara serumpunšŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s