Pemilu dan moralitas

Hampir semua pihak sepakat bahwa penyelengaraan pemilu legislatif tahun 2014 ini ‘hancur lebur’, bukan dari segi logistik pemilu seperti pemilu sebelumnya dan bukan pula dari segi kelancaran pelaksanaan pemilu, tapi dikarenakan kegagalan pemilu 2014 menjadi ajang pesta demokrasi yang sesungguhnya. Penyebabnya adalah makin maraknya money politic, penggelembungan suara di berbagai tingkat dari TPS hingga kecamatan dan masih banyak lagi. Sehingga aspirasi sesungguhnya dari warga Indonesia tidak terserap, yang berbicara bukan hati nurani, tapi uang. Ini bukan tentang kekurangkesiapan warga Indonesia untuk berdemokrasi, tapi lebih disebabkan krisis moral yang meraja baik pada si pemilih maupun si caleg. Betapapun lumrahnya kecacatan-kecacatan ini, tetap tak sesuai dengan nilai-nilai moral, dan jangan harap negeri ini akan membaik jika tidak dibangun dengan moral yang baik.

Penduduk Indonesia yang rata-rata kini sudah mengenyam pendidikan tinggi tidak serta merta membuat negeri ini menjadi lebih tinggi dalam berperadaban, karena faktanya aktifitas-aktifitas amoral masih lumrah di dunia pendidikan Indonesia, mulai dari masuk sekolah sudah terdapat praktek penyuapan, kemudian siswa terbiasa menyontek dan berbuat curang dalam ujian hingga puncaknya adalah bagi-bagi kunci jawaban ujian nasional, itu masih skala ringan, kita belum berbicara tentang parahnya pergaulan bebas di kalangan pelajar. Masih lumrahnya kegiatan amoral di dunia pendidikan menunjukkan pendidikan moral yang masih belum maksimal, ilmu sosial masih terpinggirkan bahkan sampai ke Universitas hanya karena bukan kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang PNS. Menyepelekan ilmu sosial-moral sangat berakibat fatal bagi kelangsungan hidup bangsa. Dalam hal ini pendidikan moral harus ditingkatkan oleh institusi pendidikan melalui kurikulumnya, orang tua dengan pengawasan yang ketat dan nilai-nilai agama yang harus selalu ditanamkan hingga dewasa, serta peran surau/mesjid harus ditingkatkan kembali dalam membentuk karakter anak bangsa, di sana ada kegiatan TPA, remaja mesjid atau hal-hal lainnya yang menjadi alternatif ketimbang terlibat pergaulan yang tidak jelas, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah pernah berkata “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil”

Produk dari pendidikan yang masih dijejali perbuatan yang tak sesuai nilai moral tentu menghasilkan generasi yang kurang berkualitas, sehingga masih mampu dimainkan oleh para “pemain-pemain demokrasi” yaitu para pengeksplorasi sisi bebas dari demokrasi untuk bertindak bebas sesuka hati asalkan ada uang dan kekuasaan.

Bagi banyak pengamat, persoalan ekonomi masih dijadikan kambing hitam sehingga money politic masih tumbuh subur, saya tak sepenuhnya setuju dengan hal ini, faktor ekonomi memang pemicu awal, tapi itu dikembalikan kepada moralitas, kaum miskin bukan berarti mau serta merta menjual harga diri, faktor ekonomi memang seringkali mendesak, tapi hidup bukan hanya soal uang.

Mebiarkan praktek money politic dan kecurangan-kecurangan dalam Pemilu sama saja dengan mempersilahkan para koruptor beraksi di kursi DPR, jika caranya sudah tidak baik tentu niatnya juga tidak baik, pasti akan dicari harga impas dari setiap uang suap yang keluar dari saku caleg curang, dan seluruh rakyat yang akan menanggung akibatnya.

Saudaraku kaum muslimin, mari renungkan hadits di bawah ini, jika himpitan ekonomi membuatmu sesak maka tak sesakkah engkau oleh laknat dari Rasulullah? Ketahuilah jika engkau tetap menjaga kemuliaanmu (menolak sogokan) akan ada kehidupan nan indah di syurga menantimu

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat
orang yang memberi suap dan yang menerima
suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337,
Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al Albani hadits
ini shahih)

Mari bersiap menuju pemilihan presiden, semoga iklim demokrasinya akan lebih sehat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s