What I feel in my last (normal) semester

Semester 8, pernahkah kamu merasakan masa-masa ini? Jika belum, apakah kamu pernah membayangkan berada di semester ini? Yah, inilah goresan kecil dari apa yang saya rasakan saat ini di semester 8, di masa seorang mahasiswa harusnya sudah sibuk dengan skripsinya. Semoga bisa jadi bahan renungan bagi yang akan mengalami.

Yang saya rasakan?

Semester 8 itu.. Absurd, gak bisa ngurus skripsi, syarat-syarat skripsi seperti KP (kape) gak selesai, ngajuin judul juga belum boleh. Sekarang mata kuliah sebenarnya udah habis, yang bisa dikerjain cuma ngulang-ngulang mata kuliah siapa tau yang dibawah A bisa jadi A, itung-itung buat naikin IPK.

Semester 8 itu.. Masa yang sensitif. Gak bisa denger teman bahas skripsi atau proposal dikit bawa’annya langsung galau. Jadi memang harus kuat-kuatin batin aja.

Semester 8 itu.. Masa yang kurang ajar. Rasanya kurang ajar banget sama orang tua udah makin lama jadi beban, yang harusnya orang tua nanggung biaya kuliah cuma 4 tahun, ini bisa bertahun-tahun😐 . Memang hal terumit dari perpanjangan masa kuliah itu bukan soal malunya kita tapi raut wajah kecewa orang tua😦

Nah loh, jadi dulu apa yang saya lakukan?

Dulu.. Sebenarnya sejak awal saya udah merasa salah masuk jurusan. Sains/teknik itu benar-benar gak ngepas di otak, pas ngadu ke ortu, eh si ortu malah bilang “justru karena kita gak bisa ngerti suatu pelajaran makanya kita pelajari sampai bisa” ringan banget perkataannya dan masuk akal juga, tapi ngerjainnya jelas gak seperti membalik telapak kaki.

Dulu.. Saya terlalu banyak berkasus sama dosen. Sebenarnya itu gak mesti jadi kasus karena yang satu memang sudah hak mahasiswa dan yang satu lagi cuma bersifat ‘kecelakaan’, tapi apalah daya, nilai sepenuhnya ditangan dosen.

Dulu.. Saya menyia-nyiakan fasilitas yang ada, waktu masih bisa gunain laptop eh malah dibuat untuk nge-game, main master winning Eleven dari subuh sampai subuh lagi, jedanya cuma buat makan dan sholat. Hasilnya pas lagi butuh banget laptop si lepi malah rusak total dan gak bisa diperbaiki. Bayangin mahasiswa komputer tanpa komputer, padahal di situ tempat bergantung untuk bikin program dan bikin laporannya, Makanya kape jadi gak selesai apalagi skripsi.

Dulu.. Emang lalai bener rasanya, terlepas dari semua kendala yang ada. Gak ada yang lebih patut disalahin selain diri sendiri, males nyari kambing hitam udah terlalu mainstream.

Dulu.. Saya selalu mengedepankan kejujuran di atas segala-galanya. Gak mau nyontek dan gak mau bikin kopekan, kalau malamnya gak sempat belajar saya lebih milih nebak-nebak jawabannya aja, sampai sekarang masih gitu juga sih dan saya gak pernah nyesal dengan prinsip itu. Tapi bagi pembaca blog ini tentu harus melakukannya dengan lebih baik, maksudnya ya harus belajar hidup-hidupan dulu di rumah biar pede buat jujur pas ujian bukan asal jujur tapi gak belajar.

Nah advicenya bisa di ambil dari tulisan di atas:

  1. Bagi yang belum masuk kuliah atau baru masuk 1- 2 semester terus merasa salah masuk jurusan. Langsung aja complain sama ortu, kalau direspon kayak kasus saya di atas, kalian harus bisa nyari cara buat menyakinin ortu, pertahankan terus prinsip, ini gak main-main, ini soal masa depan kita.
  2. Sebisa mungkin jangan ada kasus sama dosen, baik-baikin aja walau semenyebalkan apapun dia. Tapi kalau dosennya udah melanggar kode etik atau dinilai sangat merugikan mahasiswa, tetap dibaik-baikin tapi di belakang kita laporan sama dekan atau wakil rektor bidang kemahasiswaan.
  3. Di bangku kuliah faktor pembeda itu adalah yang lalai dan yang rajin, soal pintar atau enggak saya rasa gak begitu ngaruh. Karena yang pintar belum tentu nilainya aman. Saya pernah beberapa kali ‘kena’ di mata kuliah yang rasanya sudah sangat difahami.
  4. Jangan pernah menyia-nyiakan atau menyalah gunakan fasilitas kuliah seperti laptop dan lain-lain nanti pas udah ‘hilang’ bakal nyesel banget.

    Pertahankan terus prinsip kejujuran dan etos belajar yang baik. itu nilai plus buat kita, kalau kita gak jujur pas ujian otomatis nilai di ijazah hanya jadi kertas pajangan belaka.

    Tantangan kuliah yang sesungguhnya rasanya adalah manajemen waktu, kuliah itu gak kayak sekolah yang waktu masuknya jelas jam 7 dan jam pulangnya ada yang jam 1, jam 3 atau jam 5. Masa kuliah itu masuknya suka gak nentu, sebagian besar waktu kita akan jadi waktu luang dan inilah yang sesungguhnya sangat menentukan, jika waktu luang ini kita pakai untuk hal yang tidak berguna, kita akan terbiasa santai sampai akhirnya jadi pemalas, belum lagi yang salah pergaulan, rata-rata bakal berhenti kuliah di tengah jalan. Jadi manfaatkan waktu luang dengan sebaik mungkin, kalau kegiatan di luar kuliah itu bermanfaat, justru akan menjadi penunjang kuliah dan kualitas hidup kita.

  5. Coba ikuti organisasi yang positif yang mampu merubah pola fikir kita juga menambah ilmu dan teman kita, memang beberapa aktivis organisasi itu kuliahnya kelama’an tapi banyak juga contoh baik para aktivis yang lulus cepat dengan IPK yang tinggi pula, dengan gelar aktivis tentu mereka akan lebih baik dari mahasiswa biasa meskipun sama-sama lulus cepat dan sama-sama IPK tinggi. Orang-orang berhasil biasanya lahir dari organisasi mahasiswa. Jadi jangan terpengaruh oleh asumsi prgamatis pada organisasi mahasiswa, orang yang anti organisasi begitu paling juga paling hebat jadi PNS, gak ada yang jadi pengusaha atau pejabat😀

Alternatif lain mengisi waktu adalah dengan latihan nyari duit, nyoba-nyoba kerja sambilan atau nyoba-nyoba buka usaha, sukur-sukur kita bisa biayai kuliah sendiri.

Dan alternatif terakhir adalah dengan ikut kursus, seringkali fasilitas di kampus tidak memadai, untuk memperkuat kompetensi kita harus mencari di luar seperti di tempat kursus. So, alternatif-alternatif ini bisa jadi boomerang kalau kita gak bisa manajemen waktu, tapi kalau kita bisa menjalankannya dengan baik, ini akan sangat luar biasa!

Terakhir, kata mutiara “lebih baik lulus di waktu yang tepat daripada sekedar lulus tepat waktu” memang ada benarnya, tapi tentu yang paling baik adalah “lulus tepat waktu dan waktunya tepat pula” artinya pastikan kamu punya suatu nilai lebih yang didapat di kampus untuk menjadi bekal setelah lulus, maksimalkan waktu 3,5 tahun atau 4 tahun untuk meraih nilai lebih itu, jangan sampai lulus cepat tapi tidak dapat apa-apa selain gelar di kertas ijazah saja. Sebenarnya gak perlu malu untuk menunda lulus jika merasa di kampus belum dapat apa-apa tapi kita perlu mempertimbangkan faktor orang tua juga, intinya ya belajarlah sungguh-sungguh.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s