Merubah malas menjadi rajin

Sebagai seorang pemalas yang cukup senior, penting rasanya untuk menulis tentang rasa malas, bisa dikatakan inilah suara dari para pemalas itu sendiri, tidak seperti ceramah motivasi atau buku-buku motivasi produk para motivator yang umumnya bukan seorang pemalas, sehingga kurang mengena atau faham akan perasaan para pemalas itu sendiri.

Rasa malas umumnya tidak dikehendaki kehadirannya namun ia selalu timbul oleh sebab-sebab khusus, misalnya ketika si pemalas merasa hal yang akan dilakukannya hanya akan sia-sia saja, atau ketika si pemalas merasa suatu pekerjaan akan sangat melelahkan untuknya. Sebab- sebab atau alasan ini memang sangat subjektif sehingga hal inilah yang kerap menjatuhkan si pemalas itu sendiri, padahal jika ia mau objektif, harusnya ia mencoba terlebih dahulu atau coba menggiatkan suatu pekerjaan itu agar tidak terasa melelahkan lagi, jikapun menjadi sia-sia maka pekerjaan itu akan menjadi pengalaman yang berharga.

Berikut point-point penting untuk merubah rasa malas menjadi rajin.

  1. Pemalas tidak bisa berubah rajin dengan sendirinya. Ia butuh bantuan, baik itu karena sebuah keadaan, atau usaha dari orang-orang yang peduli kepadanya. Keadaan ini berarti suatu kejadian yang memaksanya bekerja seperti tekanan ekonomi atau tekanan sosial.
  2. Pemalas tidak butuh motivasi, ia hanya butuh pengekang. Motivasi hanya akan membuat kita mengangguk pada saat itu saja, namun jarang sekali diaplikasikan. Kekang ini tidak pula bisa ia terapkan pada diri sendiri, harus ada orang lain yang mengekangnya. Misalnya seseorang yang malas bangun pagi, jika suatu saat ia mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan masuk kantor setiap pagi, ini akan menjadi kekang yang sangat efektif. Atau jika ada seseorang yang peduli kepadanya membangunkan setiap pagi dan mengajaknya mengerjakan kegiatan positif seperti jogging, mengikuti kajian ba’da shubuh atau beres-beres rumah, ini juga akan sangat baik.

Namun kekang yang longgar tentu tidak akan berarti apa-apa, kekang ini harus sangat kuat yang berarti ada ketegasan dan konsistensi dalam pelaksanaannya juga tak kalah penting adalah keberlangsungannya yang lama sehingga mampu menghasilkan efek maksimal.

  1. Berdo’a. Adalah hal yang penting untuk berdo’a agar Tuhan mau merubah perilaku malas kita menjadi rajin, do’a ini harus dilaksanakan bersamaan dengan usaha sehingga terjadi sinergi antara kekuatan Tuhan dan kemauan kita menjadi sebuah realisasi, karena bagaimanapun manusia hanya bisa berusaha dan tetap Tuhan lah yang menentukan.

How to be expert?

Sesungguhnya mentransformasikan malas menjadi rajin sama dengan merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Ketika hidup sudah dihiasi oleh kebiasaan baik maka sesungguhnya hidup ini sudah sangat berkualitas. Namun tak cukup sampai di situ, kita juga harus bermanfaat bagi orang lain dan juga bagi bangsa dan agama, di sinilah keahlian juga menjadi di tuntut. Untuk itu kita perlu memasukkan nama belajar dan berlatih terus menerus dalam daftar kebiasaan baik kita setiap hari dengan metode yang sama seperti di atas, ini akan sangat merubah hidup kita, from zero to hero, from lame to fame!

Pada akhirnya tulisan ini hanya akan menjadi motivasi sesa’at saja, jika hanya ditanggapi dengan anggukan singkat tanpa aplikasi. Bagi si pemalas hendaknya langsung mencari orang yang mau menolongnya merubah diri, karena satu tahap usaha perubahan diri telah dimulai ketika membaca tulisan ini hingga akhir, pemalas tak ubahnya seperti kaum fakir yang harus ditolong oleh orang-orang peduli, jangan beri dia ikan tapi beri dia kail, jangan menolong setengah-setengah tapi ajarkan pula dia memancing. InsyaAllah setiap kebaikan yang kelak dia kerjakan akan mengalir pula pahalanya kepada si penolong tadi.

Semoga bermanfaat

Wallahu ‘alam bishawab

2 pemikiran pada “Merubah malas menjadi rajin

    • Thank You, malas itu bukan permasalahan kompleks, ini cuma soal ketegasan, kalau kita tidak bisa tegas pada diri sendiri, harus ada orang yang tegas pada kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s