11- 4 – 2014

Sudah lama gak ngeblog, huh! Baiklah, tulisan ini tergores masih dalam suasana pemilu 2014 dimana kami sedang sibuk-sibuknya entry data dan mengawasi suara pasca TPS (dari PPS, PPK dan seterusnya), ketika menulis ini, sebenarnya ada rasa tidak enak yang luar biasa karena sebenarnya saat ini harusnya saya masih menemani saksi di desa sebelah dalam mengawasi perhitungan suara di PPS, apalah daya karena saya harus menimbang kemampuan diri yang esok justru harus turun menjadi saksi di PPS desa saya sendiri dengan jumlah TPS yang akan dihitung hampir dua kali lipat dari desa sebelah.

Sejauh ini tampaknya suara kami tak sampai kepada ekspektasi tinggi yang sempat bergelayut di benak, namun para pimpinan di pusat menyatakan hasil ini masih sesuai perkiraan. Ada sedikit rasa kecewa karena pemilih yang diklaim “telah cerdas” oleh sebagian pengamat tampaknya tidak sebanyak pemilih yang “mata duitan”. Agak kasar memang, tapi sesuai realitas yang tampak, memang umumnya pihak yang melakukan operasi “penyogokan” kepada para pemilih mampu meraih suara yang signifikan. Meskipun begitu, segalanya memang masih mungkin terjadi menjelang real count final 9 Mei. Tak salah rasanya jika tetap memelihara optimisme di dada dalam memasuki 3 besar pemenang pemilu.

Ini jihad siyasi lima tahunan yang luar biasa, memang dalam rentang 5 tahun ada pemilu-pemilu lain dengan skala lebih kecil yang disebut Pilkada. Namun jihad 5 tahunan ini memang luar biasa dengan jumlah vote yang akan dihitung jauh lebih banyak. Jihad siyasi 5 tahunan ini menjadi pembeda paling besar bagi kami dibanding sebagian kelompok-kelompok islam lainnya. Jihad siyasi ini menjadi pengabdian paling besar karena sangat menentukan bagi bangsa ini sampai 5 tahun yang akan datang, jihad siyasi ini menjadi pembuktian diri kepada cinta yang akan selalu meminta segalanya.

Suasana dalam jihad ini sesungguhnya begitu indah, karena beratnya perjuangan selalu dihiasi manisnya ukhuwah. Rasa bimbang akan tanggung jawab yang tumpang tindih menjadi taman-taman yang saling menghiasi, karena tanggung jawab yang tumpang tindih itu adalah beban dakwah semuanya.

Malam ini langit masih tampak tenang dengan suhu khas kota Pekanbaru yang lumayan “membakar”, berbeda sekali dengan 2 malam yang lalu dimana hujan deras selalu turun, menambah berat beban saksi TPS yang masih menghitung suara sampai tengah malam bahkan ada yang sampai subuh. Sungguh luar biasa perjuangan mereka para saksi, para ustadz-ustadzah dan masyarakat umum.

Malam ini kembali ku tercenung mengingat kontribusi yang masih minim, diri ini masih belum cukup ruhiyah maupun kesempatan dalam berjuang. Dalam tulisan ini kuberitahukan jerit itu, rintihan itu. Rintihan seperti orang renta yang tidak mampu ikut berperang karena udzur. Semoga kelak aku mampu berkontribusi lebih banyak.

Tulisan ini kututup untuk dapat segera beristirahat, semoga aku akan cukup kuat menghitung suara besok siang. Semoga Allah meridhoi langkah ini, ikhtiar ini, gerakan islah ini..

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s