Dengan Tarbiyah, islah diri, islah negeri

Banyak orang mengatakan negeri ini di ujung tanduk, negeri ini telah dimurkai Allah sehingga bencana silih berganti dimana-dimana, negeri ini sudah dipenuhi tindakan-tindakan amoral dan banyak hal lainnya yang menjadikan gaung pesimisme lahir dimana-mana. Ada benarnya kata-kata orang itu, tak heran karena kata-kata itu lahir dari pengamatan dan yang ia rasakan sendiri. Cercaan kemudian tertuju kepada pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab, ujung-ujungnya adalah dengan menyalahkan pemerintah. Cercaan ini wajar dan cukup tepat, namun celakanya banyak orang-orang yang berkata itu tidak menyadari bahwa merekalah salah satu bagian dari kebobrokan negeri, masyarakat Indonesia ini memiliki tingkat disiplin paling rendah, baik di jalan raya maupun manajemen waktu. Tingkat kepedulian terhadap lingkungan juga sangat rendah, pembakaran lahan sangat marak, buang sampah sembarangan, penggunaan plastik dan masih banyak lagi. Masyarakat seperti dididik untuk mencari kambing hitam tanpa mau memperbaiki diri sendiri.

Pemerintahan negeri ini pun sesungguhnya lahir dari masyarakat, sebagai negara demokrasi otomatis tidak ada golongan elit atau priyayi di negeri ini kecuali sisa-sisa kerajaan seperti di D.I Jogjakarta. Masyarakat yang bobrok melahirkan pemerintahan yang bobrok, mereka mencela politik transaksional padahal mereka juga bertransaksi saat ditilang polisi, mereka mencela koruptor padahal mereka sudah belajar korupsi sejak di sekolah, budaya mencontek contohnya merupakan bentuk awal dari korupsi. Bentuk-bentuk sogok dan korupsi di kepolisian juga lahir dari masyarakat yang menggunakan sogok/suap untuk memasukkan anaknya ke akademi kepolisian.

Jika sudah begini, masih pantaskan rakyat menyalahkan pemerintah saja? Atau mereka harus menyalahkan diri sendiri? Sudahlah, tak ada gunanya mengutuki kegelapan ini, saatnya menyalakan lilin yang akan memberi penerangan. Lihatlah sudah banyak orang yang mulai menyalakan lilin, jangan pula dicela lagi Si penyala lilin atau bahkan berusaha memadamkan lilin itu.

Lihat, lilin itu menyala salah satunya dari para kader tarbiyah, gerakan yang lahir di awal dekade 80’an untuk menjawab tantangan sebagai gerakan islam modern menggantikan gerakan islam konvensional yang kian tergerus waktu. Lihatlah kader-kader tarbiyah, mereka memulainya dengan meng-islah (memperbaiki) diri mereka sendiri, orang-orang yang mengenal baik kader tarbiyah dengan segala aktivitasnya pasti akan selalu merasa kagum. Kader tarbiyah akan selalu disiplin dengan waktu dan lalu lintas, Allah sendiri yang melatih dengan kebiasaan sholat tepat waktu yang kemudian berimplikasi kebiasaan tepat waktu pada kegiatan lainnya. Kader tarbiyah peduli lingkungan, karena mereka tau tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini, wajib melindungi bumi, hewan dan tumbuhan.

Kini saatnya kader tarbiyah meng-islah negeri, setelah usai dengan diri sendiri. Ditengah-tengah pelaku demokrasi yang memuja pemikiran sekuler kemudian dibalut dengan sampul nasionalis, di tengah-tengah kaum yang hanya mau menunggu datangnya khilafah tanpa mau berjuang di realitas saat ini, di tengah-tengah mereka kader tarbiyah hadir dengan lilin-lilin mereka, membangun negeri sesuai ajaran islam meski harus lewat demokrasi. kerja, kerja dan kerja tanpa terlalu banyak berargumentasi mengutuki kegelapan. Ini lah gerakan meng-islah negeri, dari orang-orang yang telah mengislah diri. Berubah dari pribadi amoral menjadi pribadi syar’i dan ingin pula merubah negeri bobrok penuh bencana menjadi negeri teratur nan syar’i walau dengan demokrasi asal tetap dalam kedamaian.

Jika masih ada optimisme untuk bangkit, maka tak ada alasan untuk golput, sekalipun sistem yang terbaik menurut islam itu belum datang maka tak ada alasan untuk tetap menunggu saja, ikutilah, bantulah gerakan ishlah yang diusahakan saat ini, sesuai jalur saat ini, bukankah Rasulullah saw pernah menyuruh memilih yang terbaik diantara yang buruk seperti memilih teman kristen dibanding Yahudi seperti mendukung Romawi dibanding Persia.

Apa pun pemikiran anda, inilah kami gerakan tarbiyah, kami ada untuk meng-islah negeri, tak peduli caci tak takut mati. Bangkitlah, berjuanglah dengan kami, nomor urut 3 untuk pemilu tahun ini (2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s