Melala surang-surang

Surat undangan telah kuterima, langsung dari sang pengantin, seseorang yang belum lama kukenal namun sudah terasa sangat dekat dengannya, ya, apa lagi kalau bukan karena ukhuwah ini, kesamaan perjuangan ini. Beliau adalah orang yang sangat kukagumi, hanya dalam waktu sesingkat ini dapat kulihat kerja beliau dalam dakwah ini yang luar biasa dan layak untuk dikagumi oleh aktivis dakwah manapun.

Tibalah hari itu, hari yang pasti sudah sangat beliau nantikan, aku pun tak kalah rasa ingin menanti hari ini, melihat hari bahagia beliau maka bahagia pulalah hati ini. Ahad, 2 Maret 2014. Setelah menyelesaikan urusan di rumah nenek, maka langsung kutuju rumah yang sedang berbahagia itu. Menerobos kabut asap Riau yang masih terasa menyesakkan, ku gas motor ini dengan kecepatan se sedang mungkin, tak mungkin memacu kendaraan dengan cepat jika harus melewati perjalanan jauh ini sendirian, apa lagi dengan jarak pandang terbatas seperti ini.

Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari tempat tinggalku, sebenarnya sempat terbesit rasa khawatir akan kesulitan untuk menemukan lokasi pesta. Beruntung aku menemukan sebuah tanda khusus yang cukup meyakinkan, bukan janur kuning bukan pula umbul-umbul, melainkan bendera partai. Memasuki 1 bulan menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden maka wajarlah tampak banyak sekali atribut-atribut dari berbagai partai di tepi jalan, mereka berlomba memperkenalkan diri dan meyakinkan masyarakat bahwa merekalah pilihan terbaik untuk dijadikan perpanjangan lisan mereka di majelis tertinggi negeri ini. Tapi bendera partai ini sangat berbeda, ia begitu familiar dalam kehidupanku, partai dengan nomor urut 3 di pileg tahun ini.

Masih belum seratus persen yakin bahwa yang punya hajatan ini adalah sang sahabat, maka kucoba tuk melongok sedikit, tampak salah satu caleg dari dapil kami baru keluar dari acara, tampaknya beliau baru saja ingin pulang. Yakinlah diri ini bahwa inilah pesta sang sahabat. Bergegas kubuka masker dan helmku, kuparkirkan motorku, tapi ada rasa penasaran dengan waktu yang telah berlalu, kutatap jam di smartphone andalanku, Alhamdulillah.. Ternyata sudah masuk waktu dzuhur, lekas ku bertanya pada pemuda yang menjaga parkiran. “Bang, mesjid dekat sini dimana ya?”

“Hmm.. Oh, dibawah bang.”

“Jauh gak bang?”

“Dekat kok”

“Oke makasih bang”

Langsung saja aku meluncur bersama motorku, ada rasa khawatir karena minyak motor tinggal sedikit, sehingga kutanyakan jarak mesjid itu lebih dahulu, tapi celakanya, aku tak tau ukuran “dekat” menurut warga di sini sejauh mana, aku sudah berjalan sampai memasuki desa lain tapi tak menemukan mesjid, bahkan rumah wargapun tak nampak. Maka kuputuskan untuk berbalik arah, mencoba melihat lebih teliti ke kiri dan kanan, dan benar saja, tak jauh dari lokasi pesta ada mushola yang terlihat, pantas dia tadi kulewatkan, pasalnya letak musholla ini agak ke tengah, dan bangunannya yang relatif kecil membutuhkan kejelian untuk mengenali. Inilah sulitnya kalau bepergian seorang diri, atau kata orang sini “melala surang-surang” pengemudi harus merangkap sekaligus navigasi, sehingga jadi kurang jeli.

Setelah selesai sholat, aku baru kembali ke lokasi pesta, harus menunggu beberapa saat untuk menunggu pengantin selesai istirahat, beruntung aku bertemu rekan-rekan dakwah kampus di sana, cukup terkejut dengan kehadiran mereka, tapi senang jadi ada rekan untuk bercerita-cerita sambil menunggu mempelai kembali ke singgasana. Sempat celingak-celinguk di sana, takut ada kader-kader DPC yang rata-rata sudah berkeluarga, moment seperti ini biasanya selalu mereka manfaatkan untuk membully kami para “bujanghidin” pembulian seperti itu termasuk kategori paling menusuk bagi kami, di satu sisi kami sangat ingin mengakhiri fitnah tapi sisi lain belum mampu. Beruntung sampai selesai memberi selamat pada pengantin, rombongan itu belum datang. Tibalah saatnya untuk pulang, seketika tampak mobil putih penuh oleh pemuda-pemuda yang tampak familiar, benar saja, itu ketua DPC PKS Siak Hulu. Ah, kusapa saja dulu sebentar.

“Wah, kok baru datang bang?”

“Iya, ini dari tempat mukhoyam langsung ke sini.”

“Oh, ane baru aja mau pulang nih”

Kusalami dan sapa mereka satu per satu sambil agak terburu-buru

“Bahaya ini, bisa dibully kita” gumamku dalam hati.

Ingin bergegas, tapi aku sudah janji untuk pulang konvoi dengan rekan dakwah kampus yang lain. Sempat kutunggu beberapa saat meski sambil merasa terdesak, tapi ternyata, mereka sudah pada kabur duluan. jiah ane ditinggalin, langsung aja ah, kabuuuurrr…

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s