studi dalam injury time

Sebuah papan hitam diangkat wasit cadangan di pinggir lapangan, terdapat angka berwarna terang di papan itu, menandakan waktu tambahan yang diberikan sebelum pertandingan usai. Seringkali papan ini terlihat menyeramkan bagi para pemain di lapangan, “waktu ini akan terasa begitu cepat bagi tim yang sedang tertinggal, namun begitu lama bagi tim yang unggul” begitu kata salah satu komentator sepakbola kondang di televisi. Seperti itulah barangkali analogi yang cocok dengan kondisi kami saat ini. Ya, kami yang kalah ini, yang telah lalai ini, terasa waktu berlalu begitu cepat. Semester delapan memang masih tergolong waktu normal untuk masa kuliah, tapi itu hanya berlaku bagi mereka yang sudah memikirkan skripsi di semester ini, sementara kami? Ini injury time! Jangan sampai masuk ekstra time di semester-semester berikutnya, apalagi sampai adu pinalti, antara wisuda atau drop out, hiiii… Sereeeem.

Masa ini adalah masa yang berat bagi si Del, kendati sudah mampu menebak saat ini akan terjadi sebelum masuk kuliah di Universitas ini, tetap saja rasanya sesak dan berat.


“Jiah! udah semester lapan aja, tapi wisuda masih nampak jauh dari pelupuk mata.” Si Del tampak risau dengan masa studinya, nilai-nilai yang ada di transkrip nilainya tampak tak mengijinkan untuk selesai studi tepat waktu.

“Hoahahah.. Emak bapak kau pasti bangga punya anak seperti kau del, sangat mencintai bangku kuliah, sangkin cintanya, kau sampai tak mau lepas darinya.” Si Dol tiba-tiba muncul di belakang sambil tertawa.

“Bah! Kau rupanya dol, hobi kalilah kau menertawai penderitaan teman”

“Hahah.. Bukannya begitu Del, aku kan cuma mencoba menghiburmu, itu sisi positif dari masa studi yang panjang”

“Iya ya? tapi aku kok gak merasa terhibur? Malah makin bete -_-

“Hahahah.. Kaunya aja yang terlalu sensitif Del, dibawa santai aja, kalau diberat-beratin fikiran ini malah jadi stres kita nanti.”

“Gimana mau nyantai Dol, kuliahku ini kan emak bapakku yang biayai, mereka itu udah mau pensiun, kalau sampai mereka pensiun aku tak lulus juga, gimana studiku nanti? Tak mungkinlah bertahun-tahun kuliah disini tak dapat gelar sarjana.”

“Ya kau cari kerja lah Del, masa tak malu ngemis terus sama orang tua.”

“Dilema aku Dol, kau tau kan aku dulu pernah kerja, kerja itu menghabiskan waktu dan fikiran kita. Kuliah makin tak jelas kalau kita sambil kerja. Uang untuk bayar SPP mungkin dapat, tapi wisudanya jadi makin lama didapat.”

“Wah, paradoks masalahmu Del, paradoks ini, paradoks!”

“Kenapa paradoks? Itu kan obat sakit kepala?”

“Itu Parameks! Jauh kalilah plesetanmu itu. Macam orang terpeleset, terpeleset pulak lagi.”

Dialog singkat di depan papan pengumuman TU itu seketika terhenti, suasana menjadi hening. Kata orang, kalau tiba-tiba hening seperti ini tandanya malaikat sedang lewat. Benar saja, berselang beberapa saat kemudian datang si Dil, malaikat itu, cewek kece yang smart. Dia sedang menyusun skripsinya di semester ini, seharusnya ia menyusunnya semester lalu, tapi dosen tak mengijinkan.

“Eh Dil, bawa apa tuh?” Si Dol menegur si Dil yang sedang lewat.

“Ini, mau ngantarin surat”

“Surat apa tuh? Surat cinta buat aku ya? Heahahaha” rayuan gembel si Dol seketika keluar, disusul dengan tawa khasnya yang kian menyebalkan.

“Kege’eran kamu Dol, ini surat pengajuan beasiswa.”

“Bah, kau kan tinggal satu semester lagi. Ngapain pakai beasiswa lagi, kasihlah ke teman-temanmu ini yang masih belum jelas kapan wisuda.”

“Ya gak bisa gitu juga dong Dol, gak ada yang tau apakah aku pasti wisuda semester ini atau tidak, cuma tuhan yang tau. Lagipula kan kamu bisa ngajuin surat sendiri.”

“Oh iya, kenapa aku gak kepikiran” si Del, memotong pembicaraan linear antara si Dol dan si Dil.

“Kan kamu pernah dapat beasiswa Del, kenapa gak dilanjutin lagi?” Lanjut si Dil.

“Itu mah beasiswa buat aktivis kampus, malu dong semester segini masih sok eksis di organisasi kampus.”

“Oh gitu, ya udah coba ajuin ke tempat aku aja.”

“Emang di tempat kamu syaratnya apa?”

“Biasa aja sih, KTM, KHS dan lain-lain. Yang terpenting IPK minimal untuk kampus swasta kayak kita itu 3,5”

“Oh, gitu ya. Kalau gitu aku bunuh diri aja deh.”

“Lho, kok gitu Del?”

“Ya, boro-boro 3,5. Dapet nilai 3,0 aja udah almost impossible buat aku.”

“Heahaha..” Si Dol langsung menertawai si Del dengan tawa yang semakin menjengkelkan saja. “ugh! Gemes, pengen nonjokin dia nih.” pikir Si Del dalam hati.

“Ketawa sekali lagi, kumutilasi kau Dol!”

“Maak, kejamnya dirimu Del.”

“Kamu pasti bisa Del, lihat aja si Dal, dia mau bangkit dari keterpurukan sampai akhirnya bisa seperti sekarang.” Sambung Si Dil.

“Yah, kalau caranya kayak dia gak cocok lah aku Dil, You Know why lah.”

“Ya kalau gitu kamu bisa cari contoh lain, kayak si Dul temanmu. Kerja kerasnya di Kape berbuah manis. Tiru kerja keras dan kemauannya.”

“Iya sih, terus terang aku sering dengar motivasi-motivasi seperti ini. Aku berterima kasih sekali, tapi aku harap para motivator-motivator seperti kamu ini tidak terlalu sering kayak begini, takutnya nanti jadi botak kayak Mario Teguh, kan gak enak, entar jadi silau di mana-mana. Hehehe..”

“Ih, kamu ini Del, orang udah serius malah diajakin becanda.”

“Eheheh..” Si Del nyengir kuda.

Tiba-tiba terlihat si Dul melambaikan tangan dari lantai dua, suaranya memanggil si Del dan si Dol.

“Wooy, main PS yuuk!”

“Jiaaah, nih anak, baru aja aku mau berfikir positif tentang dia. Suraaam-suram.”

< p class=”post-sig”>Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s