Kape ngalor-ngidul

Pada suatu sore yang terik- ah bukan Pekanbaru namanya kalau tidak panas, lha wong musim hujan aja panas- di tempat itu, di sudut gedung kampus nan mungil, duduk segerombolan pemuda suram dengan isi otaknya yang semrawut.

Dul: “duh.. Frustasi rasanya.”
Del: “frustasi kenapa dul?”
Dul: “laporan kape revisi melulu, malah sidang bentar lagi tutup pendaftaran.”

Si Del menatap iba pada Dul, sementara si Dol justru tertawa.

Dol: “hahaha.. Kasihannya nasibmu Dul, untung aku gak pernah revisi.”
Dul: “wah, hebat kamu dol, jadi langsung di acc dosennya ya?”
Dol: “ah enggak, acc dosen mah gampang, bisa semester depan.”
Del dan Dul bereaksi serempak: “lho kok gitu?”
Dol: “iya, soalnya kapeku gak aku kerjain sama sekali, heahahaha.”

Tawa Dol terdengar seperti genderuwo, sementara wajahnya tiba-tiba terbayang oleh Dul dan Del menjadi mirip seperti sansak tinju yang siap menerima belaian kepalan tangan.

Sehabis membejek-bejek si Dol, keadaan hening seketika, tiba-tiba di Dol memecah hening dengan bertanya pada si Del.

Dol: “kalau kapemu gimana Del?”
Del: “ya, gitu juga, gak jelas.”
Dol: “jiah, lu mah sama ajah.”
Del: “aku mah gak masalah kapenya Dol, tapi ini gak enak sama tempat kapenya. Aku datang, trus tiba-tiba ngilang gitu aja, malah bekas sekolah sendiri lagi.”
Dol: “wah, berat masalah mu Del, mending dibawa ke pegadaian, menyelesaikan masalah tanpa masalah.”
Del: “ngawur kau Dol, sama kayak ILK, menyelesaikan masalah tanpa solusi.”

Masih dengan wajah kusut, si Dul menimpali pembicaraan Del dan Dol, atau tepatnya mengalihkan pembicaraan.

Dul: “eh, udah lihat nilai semester belum?”
Dol: “sudah, seperti biasa, KHS ku bisa dijadikan obat sariawan.”
Del: “lho kok gitu?” Si Del menimpali.
Dol: “iya, abisnya banyak mengandung VITAMIN C”
Dul: “ah, bisa aja kamu Dol.”

Si Dul bertanya lagi,

Dul: “eh, si Dil gimana ya? Dia kan udah kape semester kemarin, nilainya juga bagus-bagus.”
Del: “dia mah lagi ngurus skripsi”
Dol: “waah hebat, kita kapan ya kayak dia.”

“Haaaah…” Ketiga pemuda itu mendengus serempak, matanya menerawang ke langit, badannya dihempaskan ke badan kursi.

Dul: “udah semester segini, nyesal rasanya kalau masih main-main.”
Del: “iya, stres nih sekarang jadinya.”
Dol: “trus gimana dong sekarang?”
Dul: “main PS yuk!”
Del dan Dol menjawab serempak dengan wajah sumringah: “Ayuuuk!!”

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s