Dilema Malam

Bagaimanakah rasanya menjadi malam? Di satu sisi dipakai menjadi tenda maksiat, tapi disisi lain menjadi toa terbesar untuk bermunanjat.

Bagaimanakah rasanya menjadi malam? Ia menjadi saksi lelaki-wanita yang berusaha merubah kodrat, menjajakan martabat, menimbun dosa di atas amal yang sekarat.

Bagaimanakah rasanya menjadi malam? Terselubung oleh gelapnya yang pekat, tapi menjadi pigura terindah bagi hiasan-hiasan langit.

Bagaimanakah rasanya menjadi malam?
Harus mendengar do’a-do’a pilu para hamba yang mengemis ampunan. Tapi terganggu pula oleh tawa-tawa pengumbar nafsu setan.

Pernahkah kau tanyakan kabar sang malam? Mungkin ia akan menjadi saksi terbesarmu di akhirat.

Pernahkah kau tatap wajah malam? Sekedar tersenyum bersamanya dibawah cahaya rebulan, mensyukuri nikmat terindah karunia Tuhan.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s