Menjadi pelopor dakwah adalah amanah terindah

Jika engkau merasa bahwa segala yang disekitarmu gelap dan pekat,
Tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh ALLAH untuk menjadi cahaya bagi mereka?
Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, Sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan,
maka berkilaulah!

(ustad Salim A Fillah-dalam dekapan ukhuwah)

Para pelopor dakwah adalah pelopor-pelopor yang akan sukses sehingga orang yang tidak bergabung dengan mereka sejak sekarang akan menyesal, dan akan sesak hati mereka sebagaimana sahabat Dzul Jausyan adh-Dhababi r.a. sesak hati ketika tidak masuk islam kecuali setelah Fathu Makkah. Padahal, Rasulullah s.a.w telah mengajaknya masuk islam setelah perang badar dan berkata kepadanya,

“Maukah kamu menjadi orang pertama dari agama ini?”

Ia menjawab, “tidak.”

Rasulullah s.a.w bertanya, “apa yang menghalangimu?”

Ia menjawab,”aku lihat kaummu mendustakanmu, mengusirmu dan memerangimu. Karenanya aku pertimbangkan, bila kamu mengalahkan mereka aku mau beriman kepadamu dan mengikutimu, dan apabila mereka mengalahkanmu maka aku tidak sudi mengikutimu.”

Dzul Jausyan menyesal karena meninggalkan islam ketika Rasulullah s.a.w mengajaknya masuk, meski ia akhirnya bergabung pasca Fathul Makkah, namun keindahan perjuangan islam dalam mencapai kemenangan agungnya menakhlukkan kota Mekah tentu membuat siapapun iri.

Betapa banyak orang yang seperti Dzul Jausyan, ia melihat indahnya dakwah, namun tak bersedia bergabung mempelopori gerakan dakwah, ia hanya diam menunggu saat dakwah ini sudah lebih terasa nyaman dan kondisinya lebih menguntungkan, padahal bukanlah perjuangan jika ia direbut dengan kenyamanan.

Sebagian golongan lain ada pula yang berdiam di masjid-masjid atau kajian kecilnya, “beruzlah” “mensucikan diri” dari “kotornya” perjuangan dunia, kemudian mencela mereka yang berjuang dalam politik, mengomentari pejuang-pejuang pendidikan dan mengkritik mereka yang melakukan aksi sosial. Kisah ini sama seperti di jaman tabi’in ketika orang-orang keluar dari Kuffah dan mengambil tempat yang jauh darinya agar nyaman beribadah. Hal ini didengar oleh Abdullah bin Mas’ud r.a, lalu beliau mendatangi mereka. Mereka senang dengan kedatangannya, lalu beliau berkata kepada mereka, “Apa alasan kalian berbuat demikian?” Mereka menjawab, “kami senang keluar dari kegaduhan manusia untuk beribadah.” Maka Abdullah berkata, “Seandainya orang-orang berbuat seperti yang kalian lakukan, maka siapa yang akan memerangi musuh? Aku akan tetap di sini sampai kalian pulang.”

Perjuangan itu memang berat, karenanya tak banyak yang bersama kita di sini, perjuangan itu memang ujian yang besar, karenanya imbalannya juga surga yang sangat besar.

Pejuang tahu bahwa apa yang mereka mulai tak selalu mereka temui ujungnya. Namun mereka tetap melangkah. tugas mereka adalah memberi arah bagi sejarah.

Janji Allah adalah kemenangan yang akan kembali kepada islam, tugas kita adalah memperjuangkannya, menjadi bagian dari sejarahnya hingga kelak berkumpul dengan pejuang-pejuang di dalam Jannah-Nya.

Perjuanganku hingga di titik ini dan titik-titik selanjutnya, tak peduli apakah itu akan menjadi sejarah bagi penerusku kelak atau hanya tinggal sejarah pengisi organisasi yang hanya akan menjadi masa lalu di sini. Yang aku tau hidup ini adalah perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan.

Menjadi pelopor dakwah adalah amanah terindah, nama harum pejuang dalam bingkisan sejarah tak kalah harum dari taman bunga yang megah, perjuangannya penuh peluh dan air mata yang akan jadi cerita yang indah untuk diingat kembali ketika kelak telah terduduk di dipan-dipan syurga.

*Salim A Fillah-dalam dekapan ukhuwah
*Muhammad Ahmad Ar-Rasyid Landasan gerak para aktivis da’wah
*dll

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s