Menulis pengalaman: antara diary atau catatan harian

Dalam dunia kepenulisan ada dua hal yang kerap disamakan namun sesungguhnya ia adalah hal yang berbeda. Yaitu menulis catatan harian dan menulis diary.

Diary sesungguhnya salah satu jenis dari catatan harian, namun diary lebih banyak di isi oleh curhat-curhat dan berbagai bentuk ungkapan kegalauan, hal ini membuat diary lebih banyak didominasi oleh kaum hawa. Berbeda dengan diary, catatan harian lebih bersifat universal dan dominasinyapun tak hanya dikuasai oleh kaum hawa, isinya dapat berupa catatan perjalanan, himpunan pemikiran-pemikiran maupun penuangan pengalaman berharga kedalam tulisan.

Baik diary maupun catatan harian sama-sama berdampak baik bagi diri si penulis, ia akan memperingan beban fikiran dan membuat hasil-hasil pemikiran dapat lebih mampu dikembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Namun berbeda cerita jika kedua hal ini dipublikasikan, diary akan berdampak tersebarnya aib yang memungkinkan tersebarnya hal-hal memalukan dari diri kita, namun hal tak selamanya berujung buruk, contohnya seperti Raditya Dika yang mampu menjadikan ‘aib’ itu sebagai komoditi untuk menjual tulisannya. Untuk catatan harian, ini justru lebih bermanfaat jika disebarkan, jika catatan itu menarik, bisa jadi menjadi manfaat bagi orang lain bahkan menjadi sumber inspirasi, seperti yang dilakukan Soe Hok Gie dengan ideologi bebasnya atau seperti Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya.

Dewasa ini catatan harian dan diary tak hanya berbentuk buku, karena kini ada berbagai macam platform blog yang mampu mengakomodasi hobi menulis dengan berbagai fitur-fiturnya dan publikasi yang lebih fleksibel. Blog sebagai era baru kepenulisan menuntut gaya kepenulisan tersendiri yang berbeda dengan buku, pembaca memiliki waktu lebih sedikit membaca blog dibanding buku, pembaca akan mudah men-skip sebuah tulisan hanya dengan membaca satu-dua kalimat saja atau bahkan hanya lewat penampilan blog tersebut. Ini menjadikan tulisan harus lebih to the point, tidak perlu terlalu banyak paragraf pembuka dan jika berupa prosa atau lainnya harus lebih padat seni.

Apapun itu, entah diary atau catatan harian akan lebih baik jika dipublikasikan di blog, tentu dengan pemilihan tulisan oleh penulis agar tidak melanggar norma bahkan undang-undang ITE. Siapa tau ini akan menjadi jenjang menuju sesuatu yang “menghasilkan.” Baik itu untuk dapat dikenal dan mendapat apresiasi sebagai penulis atau sebagai blogger profesional yang setiap space blog nya dapat menjadi papan iklan bahkan seperti Raditya Dika yang menjadi penulis bestseller dengan membukukan diary-diary blognya.

Ini tentu tergantung pilihan pribadi, apakah akan menulis diary atau menulis catatan harian, apakah untuk pribadi atau dipublikasikan. Namun alangkah lebih baik jika hobi menulis itu dapat kita manfaatkan dengan baik dengan menjadi penulis yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Wallau ‘alam bishawab

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s