Kenapa harus jadi Barisan sakit hati?

Saya terlahir dari keluarga yang memiliki corak harokah yang beragam, dari Muhammadiyah hingga jama’ah tabligh ada, namun tak ada dari harokah-harokah itu (menurut pengamatan saya) yang memiliki golongan oposisi khusus yang disebut “barisan sakit hati”. Dalam harokah lain mungkin ada yang keluar dari harokah, tapi tak ada yang keluar lalu menyerang “mantan” harokahnya. Tentu berbeda konteksnya jika perbenturan antara haq dan batil, sementara perkara “barisan sakit hati” tidak menyentuh hal itu tapi dibawa ke seakan-akan perkara khilafiah itu adalah perkara haq dan batil demi kepentingan pribadi atau “barisan” mereka.

Dalam setiap Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga suatu organisasi baik konvensional maupun dakwah selalu ada pasal tentang anggota yang keluar atau berhenti, pasal ini sangat penting demi kelangsungan organisasi, ada banyak organisasi yang kemudian pecah akibat memelihara pemahaman menyimpang dalam organisasinya. Contohnya seperti Syarikat Islam pada zaman perjuangan kemerdekaan dahulu, komunis menyelinap dan menebar benih dalam tubuh organisasi terbesar di Nusantara era pergerakan Nasional itu hingga organisasi itupun terpecah menjadi 2, hal ini tentu dapat dihindari jika ada antisipasi dini berupa pemberhentian anggota yang menyeleweng.
Ada banyak sebab yang membuat seorang anggota keluar/dikeluarkan, namun dalam organisasi Islam insyaAllah keputusan itu (selama konstitusional) adalah demi kemaslahatan bersama, apalagi diambil oleh ulama-ulama yang tentunya lebih dekat kepada Allah. Selain untuk kemaslahatan harokah harusnya ini bisa jadi bahan introspeksi bagi individu yang dikeluarkan, agar menyadari kesalahan, membuang sikap egois dan insyaAllah harokah akan selalu siap menyambut kembali pulang.

Sangat menarik untuk dicermati, bagaimana seseorang dapat keluar lalu menyerang balik. Pada umumnya ikhwan/akhwat yang keluar itu pernah menjadi tokoh penting dalam barisan dakwah ataupun merasa sudah berperan besar, otomatis ia sudah merasakan keindahan ukhuwah islamiah, kelembutan murobbi/murobbiahnya. Seseorang dapat saja keluar atau dikeluarkan, tapi ia takkan mampu menghilangkan kenangan-kenangan itu bersamanya, takkan mampu membantah bahwa itu sesuatu yang indah. Mereka yang keluar biasanya disebabkan suatu hal terkait permasalahan dunia yang memang sudah menjadi sunnatullah dalam perjuangan dakwah, sementara mereka yang dikeluarkan biasanya dikarenakan melakukan suatu kesalahan yang fatal.

Sungguh hujatan-hujatan terhadap tarbiyah itu hanya lahir karena seseorang itu tidak memahami tarbiyah dengan baik, sementara hujatan-hujatan dari barisan sakit hati hanyalah bentuk keegoisan, ketidaksabaran dalam berjuang.

Dikeluarkan memiliki efek lebih destruktif pada diri seseorang dibanding mengeluarkan diri, hingga kemungkinan ia menjadi barisan sakit hati (menyerang balik atau hanya sampai menjelek-jelekkan saja) menjadi jauh lebih besar. Ini sangat berbeda dengan “hanya keluar” dikarenakan futur yang mana kebanyakan mereka masih simpati pada dakwah tapi tak cukup kuat iman lagi untuk berdakwah.

Di daerah saya pernah ada suatu ustadz yang cukup tinggi tingkatnya dalam dakwah kemudian keluar dari harokah (saya tidak tahu persis apakah ia keluar atau dikeluarkan) tapi dengan izin Allah ia mampu kembali kedalam pelukan ukhuwah ini, meskipun harus mengulang dari bawah, dididik bersama kader-kader pemula, namun ia tak canggung sedikitpun. Sungguh kekuatan iman, kerinduan pada ukhuwah islamiah telah menghancurkan setiap keegoisan atau rasa tinggi hati itu. Sesungguhnya posisi apapun dalam struktur gerakan dakwah bukanlah penghalang untuk berkontribusi sebanyak-banyaknya, sungguh cukuplah sikap sahabat Khalid bin Walid r.a. menjadi teladan bagi kita ketika posisi Jendral ataupun prajurit biasa bukanlah masalah baginya, karena ia berjuang adalah murni untuk Allah ta’ala dan bukan karena jabatan. Sungguh kelurusan niat yang luar biasa.

Sikap inilah yang harus dicontoh oleh setiap orang, setiap pendakwah harus memlihara sikap tawadu’ dalam dirinya, tabayun pada para qiyadahnya yang memang sudah terbukti sebagai orang-orang yang tsiqoh, bukan sebagai bentuk taqlid tapi sebagai pengamalan pesan Nabi saw untuk sami’ na wa ato’na pada para ulama.

Dalam kasus lain ada sebuah gerakan dakwah yang sangat persis dengan tarbiyah namun menghilangkan satu aspek dalam tarbiyah ini, lantas dalam acara yang mereka gelar seperti menyerang satu aspek ini, padahal sesungguhnya ia sedang mengingingkari bahwa islam itu syumul. Melihat dari model gerakannya, besar kemungkinan pendiri gerakan ini pernah mengecap tarbiyah namun tidak mampu memahami konsep syumuliatul amaliyah dalam dakwah ini.

Duhai saudaraku barisan sakit hati, dimanapun engkau kini, baik dalam harokah lain maupun membentuk harokah sendiri, ingatlah kenangan ukhuwah itu, ingatlah bahwa kapal yang besar akan lebih mampu menerjang ombak kehidupan dibanding sekoci kecil milikmu.

Duhai saudaraku, kami merindumu, jikapun engkau tak merinduku, semoga kita sama-sama dirindu syurga hingga dapat kembali bercengkrama kembali.

Demikian catatan iseng ini, semoga dalam keisengan dapat diambil hikmah yang besar.

Wallahu ‘alam bishawab

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s