Jalan cinta bersama Murabbi

Murobbi adalah cahaya,
Menerangi jalan hidup kaum muda.

Murobbi adalah jembatan,
Penghubung kehidupan dunia yang fana kepada akhirat yang kekal.

Murobbi adalah kebun cinta,
Yang buahnya takkan habis sampai kapanpun jua.

Murobbi adalah sosok ikhlas penuh takwa,
Penerus risalah Rasulullah.

Bait-bait puisi yang terindah takkan mampu menandingi indahnya kepribadiannya, Pribadi penuh pengorbanan dan pengabdian.

Ketika seorang remaja semakin dewasa, perlahan-lahan mulai memisah dengan orang tua, pengawasanpun mulai lemah, pergaulan menjadi rentan kejahatan. Murobbi hadir mengisi ruang kosong di antara jarak hubungan anak dan orang tua ini. Ia menjadi keluarga kedua setelah keluarga kandung, bisa sebagai ayah atau abang.

Ana hadir ditengah dakwah ini awalnya masih STMJ (sholat Terus Maksiat Jalan), barangkali karena masih sholat plus masih sering baca Alqur’an membuat hati ini entah kenapa sangat ingin bergabung dengan dakwah ini, bersama sebuah ekstrakulikuler sekolah bernama Rohis (kerohanian islam) sebuah ekskul yang saat itu dikabarkan hampir mati (ditutup) di sekolah kami. Berkat keberadaan PJ sekaligus murobbi kami yang baik dan lucu ditambah peran ketua kami saat itu yang lihai memaksa orang ikut Rohis tanpa merasa terpaksa, berangsur-angsur semakin banyak yang bergabung kedalam Rohis, hingga eksistensinya menjadi sangat disegani di sekolah maupun di luar sekolah. Perjalanan panjang kami lalui dalam Rohis bersama sang murobbi, dari liqo’ pekanan, mabit, pelantikan para junior-junior kami di kampar dan Sumbar dan masih banyak lagi. Hingga pada suatu saat, banyak teman-teman yang kemudian pergi dari Rohis, alhamdulillah saya termasuk yang bertahan walaupun hanya tinggal berdua bersama teman sekelas saya, di kelas 3 kami berdua harus berpisah dengan murobbi pertama yang sudah membimbing kami selama hampir 2 tahun hingga kami menjadi cukup matang, kami meneruskan pembinaan dengan murobbi baru yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kami, beliau dan murobbi pertama kami sama-sama alumni sekolah ini juga. Dalam melanjutkan perjalanan cinta ini, kami menemukan teman-teman baru, yaitu teman-teman satu sekolah yang baru bergabung dengan Rohis di kelas 3. Murobbi kedua kami ini lebih kocak atau lebih tepatnya “maleset”, karakternya jauh berbeda dengan murobbi pertama kami, namun tetap menjadi sumber ilmu dan sumber inspirasi bagi kami.

Kebersamaan di kelas 3 terasa berlangsung begitu singkat, ketika lulus kami harus berganti murobbi lagi, lagi-lagi sosok yang tak asing, beliau adalah sosok murobbi yang terkenal di sekolah seberang, pribadinya juga jenaka seperti khasnya para pementor sekolah dalam menyampaikan risalah. Namun di sinilah kerikil tajam mulai menggores kaki dalam meneruskan perjalanan cinta ini.

Setelah lulus, badai-badai cobaan silih berganti menerpa jiwa ini, liqo’ yang dulu terang-terangan kini harus dijalani sembunyi-sembunyi, mabit yang dahulu dengan senang hati di jalani kini tak dapat lagi dinikmati. Hati ini tak mau menyerah, namun apa daya badai itu tak berhenti malah kian bertambah besar dan berat. Murobbi lama hadir kembali untuk menyelamatkan diri ini untuk tetap meneruskan jalan dakwah, namun perkembangannya tak seperti yang diinginkan, diri ini menjadi sangat labil karena cobaan yang terasa begitu hebat, sehingga penanganan dari Sang murobbi dirasa tak cukup, bahkan muncul kecemburuan pada teman seperjuangan di sekolah dulu. Taman syurga jiwa yang biasa terhampar indah di saat liqo’ menjadi terasa hampa, Semangat ini telah binasa, hingga diputuskan mencoba jalan lain saja.

Kendati memutuskan berhenti liqo’, semangat dakwah ini sebenarnya tak pernah padam. Aku tetap belajar dari buku-buku dan internet, sesekali juga menghadiri pengajian untuk pemuda, Aku bahkan merintis dakwah kampus dari nol di kampusku sendiri, mengumpulkan rekan-rekan yang sepaham satu per satu hingga akhirnya berdiri sebuah Lembaga Dakwah Kampus yang resmi dan SK dari lembaga resmi kampus. Namun hati ini tetap terasa hampa, Meski semangat tetap membara namun terasa amalan diri ini turun secara konsisten dari hari ke hari, dakwah ini tak cukup hanya dengan semangat, tapi juga dengan ilmu dan bimbingan yang tetap.

Dua tahun berlalu semenjak berhenti liqo’, amalan harian anjlok, dakwah kampus tak begitu berjalan lancar. Hingga pada suatu hari Aku berkomunikasi dengan sosok yang tak asing selama di dakwah sekolah, Aku pernah bertemu beliau di sebuah rihlah saat kelas 2, beliau menawarkan untuk liqo’ bersamanya, tanpa berfikir lagi Aku langsung mengiyakan, dan dengan sangat antusias menunggu pertemuan itu.

Alhamdulillah liqo’ yang baru ini berjalan lancar, Aku merasakan lagi kenikmatan ukhuwah islamiah itu, meski banyak inkonsistensi pertemuan tapi Alhamdulillah Allah masih mengaruniakan semangat dan kehausan ilmu di dalam diri ini.

Kini Akupun sudah memiliki binaan dalam dakwah kampus yang sederhana dan masih meraba-raba. Semakin terasa luar biasanya perjuangan murobbi kami dahulu. Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengirimkan malaikat-malaikat ini padaku, Ya Rasulullah, lihatlah! Tersenyumlah! Dakwahmu bersemai indah di sini.

Nikmat iman dalam ukhuwah islamiah itu tak tertandingi, bahkan jika kita merasakan nikmat apapaun di dunia untuk menggantinya, rasa rindu kembali akan terus menghinggapi. Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah: “Tarbiyah adalah kisah cinta, yang mengantar kita ke ufuk dakwah. Setelah itu, hidup tak pernah sama lagi.”

Semoga Allah merahmati diri ini, dan mematikan hamba di jalan ini, hingga kelak dapat berkumpul kembali di padang mahsyar bersama jama’ah ini di dalam barisan umat Rasulullah saw.
InsyaAllah..

Salam rindu untuk para murobbiku terdahulu, afwan jiddan terutama untuk murobbi pertama yang mungkin berasakan protes terlalu keras dariku. Dan salam cinta untuk murobbiku kini.

Untukmu para murobbi, Keselamatan dan rahmat semoga tercurah senantiasa untukmu dan keluargamu seluruhnya.

Salam Ukhuwah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s