Membangun PSPS menjadi klub sepakbola yang sebenarnya

Seperti biasa selesai makan malam bersama, datuk mengajak berbincang mengenai berbagai macam hal yang menarik minatnya, kali ini datuk memilih PSPS sebagai topik pembicaraan malam itu. Datuk tau saya merupakan penggemar fanatik PSPS Pekanbaru sejak kecil, beliaupun juga sering mengikuti kabar terbaru dari PSPS, tak jarang dari kampung datuk menelepon untuk sekedar membicarakan hasil pertandingan PSPS. Yang paling menarik perhatian datuk adalah pertandingan-pertandingan dimana PSPS “dibantai”, itu tidak pernah dilewatkan datuk sebagai bahan untuk mem bully saya hahah..

Perbincangan tentang PSPS kali ini menggelitik jari saya untuk menumpahkan unek-unek dalam blog ini. Kita tahu PSPS masih belum mampu menemukan solusi untuk dapat menjadi klub olahraga yang ideal. Ideal di sini berarti mampu menghasilkan uang sendiri yang cukup untuk menghidupi klub, mampu membayar gaji pemain tepat waktu dan tentu saja mampu berprestasi. Untuk mendapatkan solusi menjadi klub ideal, PSPS membutuhkan banyak masukan atau “idea bank” sebagai pemecah masalah. Semoga tulisan ini dapat menjadi salah satu pilihan ide yang dapat dibaca oleh pengurus PSPS saat ini.

Menurut saya, ada 3 orientasi utama sebuah klub sepakbola. Pertama orientasi pembinaan, kedua orientasi prestasi dan ketiga orientasi bisnis. Di masa klub-klub Indonesia masih ber “plat merah” ada lagi satu orientasi, yaitu orientasi gengsi dan promosi daerah. Untuk menjadi klub profesional yang hebat, haruslah mampu mencakup seluruh orientasi ini. akan tetapi, untuk membangun sebuah klub profesional yang mandiri, terlebih dahulu kita harus fokus pada satu orientasi utama. Orientasi utama yang harus paling awal untuk dicapai menurut saya adalah orientasi bisnis, dengan begitu klub akan mampu memiliki keuangan yang cukup untuk membenahi infrastruktur, membeli pemain hebat yang bisa mendatangkan prestasi, bahkan mampu mendirikan akademi berstandar tinggi untuk membina pemain lokal.

Orientasi bisnis dalam sepakbola erat kaitannya dengan pengelolaan antusiasme penonton. Umumnya penonton akan ramai seiring dengan prestasi klub, namun tak jarang juga klub dengan prestasi biasa bahkan dari kasta kompetisi yang rendah masih mampu memiliki pendukung fanatik. PSPS yang prestasinya kembali merosot pada putaran kedua yang lalu memiliki jumlah penonton yang merosot drastis, seiring dengan prestasi dan keadaan klub yang morat-marit hingga harus terdegradasi. Hal ini sebelumnya pernah dialami PSPS di era sebelum ISL kala PSPS terdegradasi dibawah asuhan Rully Nere dan Pelatih asing asal Chile. Para petinggi supporter berinisiatif mengekspansi sekolah-sekolah untuk merekrut anggota baru, sehingga tribun supporter kembali terisi penuh hingga pada akhirnya mengantarkan PSPS ke kasta tertinggi di panggung ISL. Pengelolaan seperti inilah yang perlu ditingkatkan kembali dan lebih baik lagi, segmentasi penarikan suporter jangan hanya terbatas pada anak sekolah, tapi juga keluarga. Penonton dari keluarga akan menghasilkan suporter yang akan hadir di stadion secara turun-temurun hingga menghasilkan budaya dan lahirnya penonton yang konsisten. Untuk segmen yang lebih umum lagi perlu diperhatikan aspek keamanan, kenyamanan dan kalau bisa kemenangan, dengan adanya servis yang sangat baik bagi para suporter akan mengasilkan suporter yang banyak dan konsisten, ini akan menjadi sumber penghasilan yang sangat besar bagi klub. Keuntungan dapat diambil dari tiket, sponsor yang akan berdatangan hingga penjualan marchedise. Budaya masyarakat yang agamis harus ditunjang dengan tempat sholat yang dekat dengan stadion atau bahkan dibuatkan mushola di stadion seperti yang sudah ada di stadion eropa seperti Etihad stadium, Saint James Park dan Allianz arena. Semakin tinggi pelayanan kepada penonton (sebagai sumber penghasilan utama) akan semakin banyak jumlah penonton yang hadir dan akan semakin banyak pula menghasilkan keuntungan. Para pemain juga harus merubah pola fikirnya, bahwasanya permainannya di lapangan adalah sebuah pertunjukkan yang membuat orang mau datang menonton dan membeli tiket, bukan hanya mengandalkan loyalitas suporter yang sama sekali tidak mampu dibayar dengan loyalitas yang sama oleh pemain dan manajemen di lapangan. Permainan atau pertunjukkan ini tak berbeda dengan pertunjukkan sirkus atau sulap, bidangnya berbeda tapi tujuannya sama dari segi bisnis. Pekanbaru memiliki banyak stadion dan memiliki daya tampung tinggi, terutama Stadion Utama Riau, saya sangat berharap suatu saat PSPS dapat bermain di sini dengan dukungan supporter yang memenuhi stadion.

Untuk membuat suporter lebih dekat dengan PSPS, perlu dihidupkan kembali diskusi PSPS setiap Ahad pagi, dan ditambah dengan program-program lainnya dari seluruh media yang ada di Riau. Bantuan dari media seperti ini sangat dibutuhkan dibanding hanya bantuan berupa uang yang hanya bersifat instan dan tidak membangun. Para pengusaha yang mengaku mencintai Riau dan PSPS harus merubah caranya dalam membantu, jangan berikan “ikan” tapi berikan “kail”. Bantu PSPS untuk menjadi sebuah industri sepakbola, pengelolaan aspek bisnis ini insyaAllah akan membawa kejayaan pada PSPS.

Sekian..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s