Menjawab tantangan peran sebagai generasi gelombang ke 3

Sabtu, 14 Desember 2013. Pekanbaru kedatangan para tokoh-tokoh demokrasi bangsa seperti Akbar Tanjung, Anis Matta, Irman Gusman dan Isran Noor untuk mengisi acara Dialog Kebangsaan di gedung PKM UIN Suska yang dipandu oleh direktur Pol Tracking Institute.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan kekaguman pada tokoh yang lain, saya memiliki perhatian lebih terhadap tokoh yang paling muda di antara narasumber pada hari itu, Presiden PKS Anis Matta memiliki pemaparan dan pengupasan terhadap permasalahan bangsa sangat luar biasa. Menariknya lagi, saya merasa memiliki pemikiran yang sama dengan beliau, perpektif yang digunakan dalam mengidentifikasi masalah bangsa dari segi sejarah dan unsur agama islam dan fokus pembenahan utama public service di bidang pendidikan dan kesehatan sangat mirip dengan gagasan saya, namun tentu beliau memiliki pengupasan yang lebih tajam.

Dalam karya ilmiah yang pernah saya ikutkan dalam lomba yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Riau (IMM DPW Riau) dua tahun yang lalu saya sempat mengupas masalah ini, kekhawatiran saya terhadap masa depan bangsa berdasarkan apa yang saya lihat dari moral pelajar dan distorsi sejarah yang masih belum mampu diluruskan menjadi ide pokok penulisan saya saat itu. Dua tahun berselang pemikiran saya tentang permasalahan bangsa ini muncul lagi setelah melihat dan mendengar langsung tentang “Gelombang ke 3” bangsa oleh Bung Anis Matta. Disebutkan gelombang ke 3 ini adalah penduduk pasca reformasi yang memiliki karakteristik khusus seperti dominannya kaum muda (dibawah 45 tahun) yaitu sekitar 60%, kemudian karakteristik lainnya adalah pendidikan dan kemakmuran yang sudah lebih baik, selain itu gelombang ini sangat “well connected” dikarenakan penggunaan internet untuk social media yang sangat besar. Dengan karakteristik seperti ini harapan besar otomatis tersematkan pada generasi ini. Diharapkan pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045, Indonesia sudah menjadi negara dengan peradaban tinggi.

Pertanyaannya siapkah generasi ini menjawab tantangan besar sebagai gelombang ke 3? Tentu dengan karakteristik seperti diatas dapat dikatakan sangat mampu, tinggal bagaimana kita mengaplikasikan kelebihan ini untuk hal-hal yang membangun. Sektor pendidikan yang sudah membaik belum didukung pendidikan moral dan pendidikan karakter yang baik pula, contek-menyontek dalam kelas masih menjadi hal biasa, kunci jawaban ujian nasional, sogok-menyogok (suap) untuk masuk ke institusi sudah menjadi rahasia umum, sementara usaha pembentukan pendidikan moral dan karakter melalui ekstrakulikuler seperti Rohis (kerohanian Islam) masih belum di dukung secara maksimal, bahkan masih dipenuhi kecurigaan akan aliran sesat ataupun terorisme. Padahal pendidikan moral seperti di Rohis sudah sangat terbukti mampu mendidik pelajar menjadi lebih beradab. Alangkah lebih baik jika langkah yang sudah ditempuh beberapa fakultas di Universitas ternama dengan mentoring wajibnya dapat diterapkan di sekolah-sekolah.

Dengan pendidikan moral yang sudah membaik secara otomatis akan menjawab tantangan-tantangan lainnya. Nasionalisasi aset bangsa seperti Migas berkaitan dengan SDM yang baik, SDM untuk hal teknis sudah tidak menjadi masalah, namun yang masih meragukan adalah moral SDM itu yang kita lihat pada saat ini masih bermuatan KKN (Korupsi, kolusi, Nepotisme) sangat tinggi. Kemudian kesadaran hukum yang meliputi kesadaran dalam tertib berkendara dan sampai kesadaran akan kebersihan juga dapat ditunjang oleh pendidikan moral, terakhir adalah pelurusan distorsi sejarah selama ini untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa yang sudah lama terkoyak.

Semoga generasi gelombang ke 3 ini benar-benar mampu memajukan bangsa kita, dengan memanfaatkan kelebihan kita sebagai gelombang ke 3, pendidikan moral yang baik dan faktor utama yang paling menentukan adalah pemimpin yang kita pilih pada Pemilu 2014. Jangan mau memilih seorang cecunguk barat dan jangan mudah terpengaruh media yang kini sudah dipenuhi kepentingan politik, pemutarbalikan fakta dapat terjadi di media. Jadikan potensi internet dengan citizen journalism sebagai salah satu rujukan agar informasi yang kita dapatkan lebih komperhensif, aktual dan terpercaya.

Wallau ‘alam bishawab

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s