Jangan panggil saya “Ustadz”

Hari ini saya duduk kembali di ruang belakang, termenung memikirkan kehidupan diri. Meski tak seberat mereka yang di acara tv “orang pinggiran”, tak sepedih derita saudara-saudara di Palestina, Suriah, Rohingya dan daerah lainnya, juga tak pula sesenang teman-teman yang hidup berkecukupan, namun tetaplah hidup ini cukup menguras fikiran dan emosi. Memandang aktifitas utama saat ini dalam dunia kuliah lumayan membuat nafas ini tertahan, aktifitas da’wah, di rumah dan lain sebagainya rasanya tak sanggup saya ekspresikan.

Sebenarnya hidup saya saat ini cukup spesial, dengan da’wah yang sekedarnya sejak masuk Rohis saat SMK, sedikit demi sedikit saya mendapat tempat khusus di hati masyarakat dan teman-teman dekat hingga pada awal masa kuliah saya mendapat panggilan “ustadz”.

Namun hidup spesial tak berarti senang.

Dalam da’wah tak dikenal pamrih apalagi sampai mengharapkan gelar yang mulia, sebab ia akan mengotori hati menjadi riya’, sebab harapan satu-satunya hanyalah ridha Allah ta’ala, namun hal duniawi seperti harta, gelar dan wanita tak boleh pula ditolak selama ia bukan tujuan utama, sebab ia adalah bonus dari Allah azza wa jalla.

Dalam sebuah gelar ustadz tidak hanya bermuatan kemuliaan, ia juga bermuatan pengekangan. Kita terkekang agar tak berbuat buruk setidaknya di hadapan masyarakat, harus memiliki akhlak yang lebih baik, harus memiliki pengetahuan agama yang lebih baik, harus mampu memecahkan masalah masyarakat yang bertanya tentang masalahnya sehari-hari. Sesungguhnya dapat dikatakan inilah kekang yang paling baik. Seperti kekang hijab panjang bagi wanita yang terkadang membuat gerah, seperti kekang bekas hitam di kening yang membuat penampilan menjadi mencolok, Kekang ini terkadang menjadi beban yang sulit dipikul namun ia mampu memberikan standarisasi tersendiri bagi kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk dijadikan teladan bagi masyarakat.

Namun jika dibawakan dalam kehidupan saya saat ini, saya justru ingin mempertanyakan relevansi gelar itu pada diri saya sendiri. Saya adalah orang yang paling tahu tentang diri saya sendiri setelah Allah ta’ala. Saya yang kini tak seperti dahulu ketika SMK, saya yang kini mengalami grafik menurun dan naiknya hanya sedikit, ketika teman-teman seperjuangan dahulu sudah menjadi orang yang hebat, ketika teman yang dahulu protes ketika saya usulkan target 1 juz seminggu kini sudah mampu mengaji 1 juz sehari, ketika teman-teman dahulu yang masih berpacaran kini sudah beropini menikah bahkan sudah ada yang melaksanakan pernikahan, saya kini justru merasa malu dengan diri saya yang dahulu. Saya sering merasa minder berada diantara ketua-ketua lembaga da’wah kampus lain yang sangat luar biasa, saya merasa hanya mampu mendirikan saja tanpa mampu memimpin dengan baik, saya tak mampu memberikan qudwah secara syumul seperti kesyumulan islam itu, saya berjuang sendiri tak sehebat Rambo dengan senapan andalannya apalagi jika dibandingkan da’wah Rasulullah saw di awal masa da’wahnya.

Dalam sumber Alkhoirot dikatakan bahwa ustadz adalah istilah dalam bahasa Arab yang sesungguhnya berasal dari bahasa Persia. Ustadz memiliki pengertian sebagai seorang pengajar atau ilmuan bahkan lebih spesifik dikatakan ustadz adalah pengajar di Universitas dengan keahlian khusus, mirip seperti pengertian ulama, namun di Indonesia kata ustadz lebih populer untuk menyebutkan seorang individu sementara ulama lebih sering merujuk pada golongannya.

Jikalau gelar ustadz memberikan “kesenangan” tersendiri di dunia, maka pastilah pertanggung jawabannya di akhirat akan luar biasa, bahkan bisa jadi melebihi harta dan usia. Sungguh sangat sulit di pikul, terlebih jika dibawakan pada pengertian asalnya, sungguh tak pantas rasanya, sungguh malu jika melihat kehidupan diri. Rasanya lebih nyaman dengan panggilan biasa saja, saya tak ingin mengotori gelar mulia itu, ingin rasanya berteriak “Jangan panggil aku ustadz!” Namun itu mungkin akan terdengar sangat egois meski yang dibicarakan adalah tentang diri saya sendiri. Sebab hadiah ini juga terasa seperti amanah dari Allah dan juga amanah dari masyarakat untuk dapat menuntun mereka dan agar tidak “masuk syurga sendiri-sendiri” saja.

Jika itu memang hadiah dan amanah dari-Nya, semoga kekang dan pikulan ini menjadi pembawa menuju syurga, semoga gelar ini tak menjadi buruk karena saya, semoga ia juga mampu menjadi cambuk yang menjinakkan nafsu yang liar hingga saya menjadi cukup layak untuk menjadi ustadz sebenarnya dan menjadi penduduk syurga. Aamiin ya rabbal alamin..

Terakhir catatan saya: jika memang sudah terpatri dalam lisan, jangan panggil saya ustadz jika engkau akan melahirkan kata “ustadz kok gitu?” Ketika memandang saya, jangan kotori gelar itu dengan nama saya, nasehati saya kapan saja, saya tak pernah merasa sebagai ustadz, namun semoga saja saya mampu benar-benar menjadi ustadz seperti do’a saya tadi.

Semoga ini mampu menjadi renungan pribadi saya dan renungan bagi kita semua. Jangan pernah takut disebut ustadz tapi jangan pula meminta disebut ustadz apalagi sampai tersinggung jika tidak disebut gelar ustadznya.. Jika amanah itu datang, laksanakan dengan baik dan jangan sampai mengotorinya.

Wallahu ‘alam bishawab..

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s