Organisasi: sesuatu tentang pengorbanan

Malam ini persiapan akhir Pemira UMRI 2013, saya berdiri mengawasi adik-adik Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) UMRI tahun ini yang tengah giat bekerja, berjaga-jaga jika saja mereka membutuhkan pengalaman atau bahkan tenaga saya. Kekhawatiran saya sebahagian besar tidak muncul, sebagian besar pesan saya ternyata dijalankan dengan baik. Sepertinya saya hanya tinggal membantu berdo’a agar Pemira kali ini lancar dan dapat menghasilkan pemimpin yang terbaik yang sudah kami tunggu-tunggu kehadirannya.

Melihat adik-adik ini bekerja membuat saya teringat pengalaman kami sebagai panitia pada Pemira tahun lalu, ada banyak rintangan yang menghadang terutama dari dalam diri sendiri, Pertanyaan “apa gunanya untukku” seperti biasa selalu menghinggapi para organisatoris pemula, ketika itu saya hanya membalikkan pertanyaan itu menjadi “apa yang bisa aku berikan?” Memberikan berarti berkorban, rela sebagian miliknya digunakan selain kepentingan pribadi, memberikan waktu, tenaga, fikiran, bahkan uang. Tak jarang pengorbanan juga meminta saat-saat belajar, saat-saat berkumpul bersama teman dan saat-saat berkumpul bersama keluarga. Pengorbanan dapat menjadi kebablasan jika tidak diikuti oleh manajemen waktu dan manajemen organisasi yang baik, pengorbanan yang kebablasan hanya akan menghasilkan kerugian dan penyesalan, hingga pada akhirnya si pengorban yang kebablasan itu justru menjadikan organisasi sebagai kambing hitam. sudah menjadi tugas ketualah sebagai manajer yang mengatur agar tak terjadi “pengorbanan kebablasan”

Berorganisasi tidak bisa tanpa pengorbanan, sejauh mana kita mampu berkorban, maka sejauh itu pulalah organisasi kita mampu berkembang. aktualisasi diri, peran di masyarakat, posisi sosial di kampus maupun masyarakat adalah hasil dari pengorbanan. Kita tidak bisa mengambil manfaat tanpa berkorban terlebih dahulu. Ketika seseorang menjadi mahasiswa berprestasi, kita harus mampu menjadi mahasiswa aktivis dan berprestasi, jika ia mengorbankan waktu senggang untuk belajar, kita harus memanfaatkan waktu senggang untuk belajar dan berorganisasi, tentu akan lebih banyak waktu yang terpakai, tapi itulah pengorbanan.

Dalam islam, pengorbanan justru identik dengan tambahan dan pembersihan. Pengorbanan harta dalam zakat fitrah dapat membersihkan harta kita dari hal-hal yang tidak barokah, pengorbanan lewat infaq-shodaqoh dapat menambah harta kita hingga 700 kali lipat,membantu memecahkan masalah dan masih banyak lagi (selengkapnya tanya Ustad Yusuf Mansur). Begitu pula jika pengorbanan dalam perspektif islam untuk organisasi, setiap organisasi dalam islam harus memiliki bobot da’wah apapun basis kegiatan organisasi tersebut, dengan berda’wah kehidupan menjadi barokah, apapun yang kita korbankan untuk jalan da’wah tidak hanya bermanfaat di dunia tapi juga akhirat, tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Orang-orang yang tersibghoh (terwarnai/terajak/tercerahkan) oleh da’wah kita akan membuat amal kebaikan yang pahalanya juga mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala orang itu.

Jika pengorbanan berorganisasi di kampus dapat memakai perspektif islam tentu semua orang akan berlomba-lomba menjadi kader dengan pengorbanan terbaik, tentu dengan catatan tidak kebablasan dan tidak mengorbankan hal yang tidak seharusnya dikorbankan. Memang ada saat-saat dimana kita harus membuat keputusan sulit dimana kita harus memilih salah satu diantara pelajaran atau kegiatan organisasi, meskipun manajemen waktu sudah sebaik apapun tetap saja hal ini muncul. Tentang hal ini sebaiknya memang ada kebijakan dari pihak Universitas terutama dosen tentang kemudahan memberi izin, memberi ujian susulan dan juga memberikan keleluasaan lebih dalam berorganisasi dengan tidak terlalu membebani mahasiswa dengan jadwal padat atau jadwal “gila” dengan memindahkan kuliah ke waktu-waktu yang aneh. Karena sesungguhnya aktivitas organisatoris mahasiswa adalah sebuah simbiosis mutualisme yang akan memudahkan akreditasi, mengangkat derajat dan membantu mempromosikan Universitas. Bayangkan jika organisasi mahasiswa mati, Universitas juga yang akan kalang kabut terutama ketika proses akreditasi. Sangat disayangkan banyak perguruan tinggi dengan reputasi akademis yang tinggi namun tidak memiliki organisatoris yang sama baiknya, hal ini tidak terlepas dari kurikulum pembelajaran yang terlalu ketat, padahal mahasiswa dengan prestasi akademik tinggi tentu memiliki pemikiran yang lebih tinggi pula sehingga sangat dibutuhkan oleh organisasi mahasiswa dan juga tentunya negeri ini.

Bagi mahasiswa yang tidak mendapat ruang yang cukup dari Universitasnya, dapat digunakan prinsip pengorbanan (sekali lagi, yang tidak kebablasan) dan manajemen waktu yang baik untuk tetap dapat meraih nilai tambah dari gabungan sisi positif akademik+organisasi, selalu ada waktu jika kita memanajemen dengan baik, selalu ada kesempatan jika ada kemauan..

Semoga bermanfaat

Wallau ‘alam bishawab

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s