Spirit sumpah pemuda

Tidak seperti negara kerajaan, negara republik memiliki pewaris tahta ribuan bahkan jutaan orang. Mereka adalah kaum muda, kaum muda yang terpelajar, yang punya semangat membara, punya tenaga yang seakan tak pernah habis, Punya kans yang sama menjadi pemimpin. Banyak sekali bukti peran besar pemuda terhadap perkembangan suatu bangsa yang tentu sudah tidak perlu saya ulang kembali dalam tulisan ini.

Baiklah, berbicara peran pemuda di Indonesia tentu tak lepas dari peristiwa sumpah pemuda, peristiwa yang menjadi penanda persatuan bangsa dengan bahasa dan tanah air satu. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dalam kongres yang mempertemukan hampir seluruh organisasi pemuda di Indonesia tersebut. Yang pertama tentang gagasan bersatu yang justru diawali pertamakali oleh kaum muda, untuk konteks pergerakan saat ini tampak sekali sesuatu yang kontras dengan gerakan persatuan, tampak egoisme kaum tua yang menjadi pemimpin suatu kelompok berusaha ditularkan kepada para kader mudanya. Jika diharapkan persatuan akan lahir dari para kaum tua saya kira akan sangat sulit. Tentu peran dari kaum mudalah yang dituntut untuk lebih besar dalam pembangkitan kesadaran akan persatuan dalam perbedaan, seperti semboyan bangsa “Bhineka Tunggal Ika” semboyan ini berlaku secara umum, tidak hanya suku, agama, ras, daerah atau lainnya, akan tetapi perbedaan ideologi kelompok. Apalagi dalam setiap kelompok islam sudah jelas tujuannya sama, yaitu tegaknya kalimat “laa ila ha ilallah, Muhammadarasulullah.”

Berkaca pada perbedaan yang juga dihadapi oleh kaum muda pada saat sumpah pemuda, tentu pada masa mereka lebih beragam, disebabkan masih belum ada larangan untuk faham-faham tertentu seperti faham komunis atau bahkan freemason. Namun semangat persatuan tetap terlahir berkat kesadaran akan pentingnya bersatu demi tujuan bersama. Oleh karena itu kesadaran akan tujuan awal yang sama dan membuang jauh fanatisme dan egoisme perlu dibangkitkan oleh kaum muda.

Yang kedua adalah semangat yang tak pernah padam. Cengkraman kaum penjajah selama lebih dari tiga abad tentu memberikan efek keputusasaan dalam berjuang, mengingat perjuangan mengusir penjajah telah dilakukan sejak jaman Pangeran Diponegoro namun tak pernah berhasil. Kaum muda saat sumpah pemuda berhasil lepas dari cengkraman keputusasaan dan mendapatkan solusi paling tepat dalam melakukan perlawanan, yaitu melakukan persatuan nasional dan melakukan perjuangan secara kooperatif. Kaum muda saat ini justru banyak yang terjebak dalam keputusasaan dalam menghadapi penjajah baru berupa kemiskinan dan pencaplokan-pencaplokan perusahaan asing pada aset bangsa. Hasilnya banyak yang lebih memilih bersikap pasif bahkan apatis terhadap perjuangan pergerakan pemuda, mereka lebih memilih bermain aman dengan memikirkan kemakmuran diri sendiri, bagaimana agar dapat lulus CPNS atau lulus sebagai pegawai perusahaan ini-itu. Sulit memberi kesadaran pembangkitan ekonomi bangsa lewat wirausaha meskipun ajakan keluar dari lisan para tokoh-tokoh umat. Belum lagi kelompok-kelompok pemuda yang tak percaya lagi dengan sistem yang ada, melahirkan pemikiran radikal dan terkadang melakukan tindakan radikal. Mereka seperti orang-orang yang memilih memaki kegelapan daripada berusaha menghidupkan pelita. Setiap ikhtiar yang dilakukan untuk membangkitkan bangsa perlu di dukung, jangan pernah dicaci apalagi berusaha dijatuhkan. Biarlah setiap orang berusaha dan Allah yang menentukan, toh Allah ta’ala justru menilai usaha (ikhtiar) kita bukan hasilnya.

Dan catatan terakhir adalah tentang itikad baik dalam menjalin persatuan. Dari jutaan bahasa yang ada, bahasa Melayu Riau dipilih menjadi bahasa persatuan yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia, padahal bisa saja dipaksakan pemakaian bahasa jawa atau bahasa Belanda. Namun kesadaran bersama bahwa bahasa Melayu sudah digunakan sebagai bahasa antar suku di Nusantara sejak lama akhirnya mampu menyingkirkan egoisme kedaerahan. Itikad baik untuk benar-benar bersatu dan tidak menyisipkan atau memaksakan kepentingan kelompok harus ditanam dalam-dalam pada jiwa pemuda saat ini. Tak ada gunanya memaksakan kepentingan kelompok, jikapun akan berkuasa, ia hanya akan menunggu waktu untuk digulingkan.

Sebagai penutup, sekedar mengingatkan akan kutipan lama:

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Wallahu ‘alam bishawab

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s