Monolog

Selamat pagi hati,

Kau tak henti-hentinya berangan-angan ya. tak apalah, memang tanpa angan-angan hidup menjadi kosong. Mungkin jika diperjalanan angan-angan ini bisa disamakan dengan tujuan. Tapi, sampai dimanakah angan-angan mu? Jangan-jangan terlalu jauh sehingga hanya akan melelahkanmu saja tanpa sempat engkau mencapainya. Ingat! Angan-angan jauh bukanlah sesuai dengan perintah agama. Dan Kau masih mudah tergoncang nampaknya, bukankah setiap shalatmu kau sudah meminta ketetapan hati? Ah kau hanya tinggal ikhtiar dan tawakal saja.

Apa kabar iman?

Masihkah kau dalam keadaan baik? Masihkah kau berada lebih tinggi daripada nafsu? Hmm.. Aku masih melihat posisimu cukup baik, namun kau tampak pucat, tak cukup kuat nampaknya kau berdiri, mungkin ditiup anginpun kau akan rubuh. Apa kau butuh obat? Ah tampaknya obatmu sudah cukup banyak, kau butuh penopang nampaknya, lihat penopangmu saat ini, murobbimu tak akan mampu jika hanya dia saja yang menjadi penopangmu, dia takkan bisa setiap saat berada disampingmu, dia bahkan mungkin punya masalah yang lebih pelik darimu. Kau butuh penopang yang lebih kuat! tidak terlalu kokoh, tapi ia akan selalu ada untukmu. pasangan hidup, Ya! Takkah kau lihat betapa badai-badai besar itu siap menghadangmu? Oh! Ya.. Ya.. Ya.. Aku tau apa yang kau hadapi, untuk mendapatkan penopangpun butuh perjuangan, dahulu kau mendapatkan murobbi sebagai penopang juga melalui perjuangan, tapi perjuangan yang lebih mudah, padahal ancamannya sama. Aku berharap kau masih cukup kuat berdiri duhai iman..

Apa kabar masa depan?

Semakin dekat kau justru tampak semakin tak jelas. Aku berharap penglihatanku saja yang buram sehingga tak begitu jelas melihatmu. Hampir 7 tahun bidang ini kugeluti untuk memperjelasmu. Hampir sirna asaku, tapi bukan orang beriman namanya jika putus asa, Allah katakan putus asa hanya milik orang kafir. Aku berharap dengan iman ini pula dapat kulihat jelas rupamu, dalam bidang ini ataupun bidang lain.

Apa kabar jama’ah, harokah, perjuanganku?

Terlalu sulit bertemu yang dulu, maka kurajut lembaran yang baru. Meski ia masih sangat rapuh, namun inilah ikhtiarku. Sungguh tak dapat dimengerti jalan perjuanganku, penuh lika-liku, bahkan terasa lebih banyak liku dibanding orang lain. Namun anehnya aku tak pernah bisa berhenti berada di jalan ini. Tak mudah bagiku mencebur kedalam hulu neraka, meski ia tampak indah di dunia.

Rabbana la tuzi’ qulubana ba’da iz hadaitana milla dunka rohmah inna antalwahab..

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s