Catatan kamis dhuha

Assalamualaikum, shobahul khayr ya ikhwafillah. Pagi ini kembali saya menorehkan catatan pemenuh dunia maya, kali ini ditemani teh hangat dan kue bolu yang lembut, alhamdulillah #BahagiaItuSederhana .

Hari ini tetap seperti hari sebelumnya, masih terasa belum ada hal berarti yang bisa saya kerjakan. Padahal Rasulullah saw pernah bersabda bahwa “barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi, barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia celaka”. Menggelisahkan memang, namun saya mencoba untuk tetap tenang, mencicil sedikit demi sedikit hal berguna yang bisa saya lakukan dari hal yang paling kecil, meski terkadang dirasa terlalu kecil hingga hampir tak dapat dirasakan tapi saya selalu percaya akan kekuatan sebuah proses. Proses yang berlangsung terus-menerus sedikit demi sedikit akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik ketimbang hal yang instan. Proses yang saya maksud adalah proses perbaikan diri dan perbaikan masyarakat, proses melakukan hal berguna dari sendiri untuk diri sendiri dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan para Ustad bahwa “Allah lebih menyukai amal yang kecil namun konsisten daripada amal yang besar namun dilakukan sekali-sekali saja.”

Dahulu saya berangkat dari seseorang yang sudah mendapat “stempel Loser di kening” sejak kecil, namun saya selalu melakukan perbaikan, perbaikan yang kecil memang, namun seiring berjalannya waktu saya sudah merasa menjadi orang yang lebih baik, memang belum menjadi “orang baik”, ya tapi setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya. Dan saya tetap berusaha agar proses itu tetap berjalan saat ini. Ada banyak hal yang membuat saya belum bisa mengklaim diri sebagai orang baik, namun hal-hal itu tidak akan saya beberkan di halaman seluas dunia maya ini. Yang jelas proses berguna yang sedang saya lakukan ini salah satu fokus utamanya adalah perbaikan atas “blackout” tersebut.

Ikhwahfillah rahimakumullah, semakin baik/alim kita maka semakin tindak tanduk kita diperhatikan orang, semakin banyak sisi lain diri kita yang akan terungkap. Memang setiap orang tidak ada yang sempurna namun kita dituntut untuk memperbaiki diri, karena jika tidak, keburukan kita yang terlihat bisa saja tergeneralisir pada orang alim lainnya. Karena hal ini bukan hanya menyangkut diri kita sendiri, maka semakin wajiblah tuntutan untuk memperbaiki diri tersebut. Perbaikan diri yang berlangsung terus menerus hingga akhir hayat meski hanya dari hal-hal kecil.

Perjuangan (termasuk memperbaiki diri) hanya memiliki garis finish di sakaratul maut, saat dimana lelah kita dalam memperbaiki diri dapat dilepaskan dengan terduduk tenang di atas dipan-dipan syurga di bawah pohon nan rindang dan ditemani bidadari-bidadari syurga yang bermata indah. Hendaklah garis finish itu dijadikan pula sebagai motivasi kita dalam memperbaiki diri, tangisilah diri kita di saat yang tidak kita ketahui kedatangannya tersebut, lalu perbaiki diri, percayalah setiap kebaikan sekecil apapun selalu disyukuri (dihargai) oleh Allah azza wa jalla..

Wallahu ‘alam bishawab

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s